
Pria itu apa sih yang harus dipegang? Ucapannya kah? Janjinya kah? Atau yang lainnya. Inilah yang terkadang sebagai kaum wanita agak sulit menghadapi kaum laki-laki, yang terkadang pikirannya tak bisa ditebak, makhluk yang mudah goyah dengan makhluk yang sangat elok rupanya, begitulah kehidupan.
Almira tak lagi menolehkan kepalanya ke belakang setelah memutuskan untuk meninggalkan calon suaminya dengan si wanita berkebaya merah. Lagi pula dia memang tidak menyukai calon suami yang memiliki paras tampan.
Bodo amat, terserah kamu mau ngapain di situ! Pokoknya aku harus membatalkan pernikahan ini, aku tidak mau menikah dengannya, batin Almira.
Sementara itu Arash masih tidak menyadari kepergian Almira karena dia telah melepaskan tangan Almira begitu saja, setelah melihat kehadiran wanita si kebaya merah.
“S-Sherina!” ucap Arash pelan, namun terdengar agak terkejut, ditambah lagi pria itu juga terkejut melihat penampilan Sherina dibalut kebaya berwarna merah dipadu kain jarik batik, rambut disanggul kecil, riasan wajahnya tampak memperlihatkan wajahnya semakin cantik dan sexy.
Wanita itu masih memicingkan matanya, kemudian maju tiga langkah agar lebih dekat dengan kekasih hatinya. “Apa yang tak bisa kamu lepaskan?” tanya Sherina tampak menahan emosinya, setelah melihat Arash menggandeng seorang wanita.
Wajah Arash benar-benar seperti orang habis kepergok selingkuh, tapi memang benar, dia selingkuh dari Sherina dan yang lebih parah habis melamar anak orang.
Sherina menyentuh bahu Arash, lalu mengusapnya dengan lembut. “Katakan padaku, apa yang tidak bisa kamu lepas. Dan kamu ada hubungan apa dengan bocah yang ada di rumah sakit itu, sampai kamu menggandeng tangannya?” tanya Sherina nadanya sangat pelan, namun penuh penekanan setiap kata-katanya.
Arash baru menyadari jika dia telah melepaskan tangan Almira, sontak dia menoleh ke samping. Astaga dia sudah tidak ada.
Pria itu kembali menatap Sherina. “Sorry Sher, besok saja gue jelasin, ada hal yang lebih penting, yang harus gue urus,” jawab Arash, pria itu langsung memutar balik badannya karena ingin menyusul Almira yang terlihat dari kejauhan berjalan menuju lift. Namun sayangnya lengan Arash dicekal oleh Sherina.
“Kamu bilang ada yang lebih penting! Kamu sudah berbohong padaku Arash, kamu kemarin menolak menemani aku ke wedding party saudaraku, tapi ternyata kamu ada di sini dengan gadis itu!” geram Sherina.
Pria itu berusaha melepaskan cekalan tangan Sherina yang terasa amat kuat. “Jangan bilang kalau bocah itu telah menggodamu, dan kamu tergoda dengannya, karena aku tidak akan pernah menerimanya!” masih panas hati Sherina.
__ADS_1
Arash mulai ketar ketir dengan tingkah laku Sherina yang terlalu posesif padanya, dia juga mengkhawatirkan Almira jika sampai bertemu kembali dengan Sherina. Mungkin jika Sherina bertemu dengan wanita atau fans yang menyukainya tidak masalah, namun Almira jelas berbeda, dia baru mau membangun sebuah hubungan yang serius.
Tangan Sherina disentaknya agar lepas dari lengannya. “Dia tidak menggoda gue! Tapi gue yang tergoda sama dia!” jeda sejenak, pria itu merapikan lengan jasnya. “Baiklah Sherina, gue harus berkata jujur sama lo. Hubungan kita berdua berakhir di sini, gue bukan pacar lo lagi, kita putus! Dan barusan keluarga gue baru selesai acara lamaran gue dengan Almira!” kata Arash tegas dan jujur.
Kedua netra Sherina mulai berapi-api lalu tangannya pun melayang dan mendarat ke pipi sebelah kanan pria itu, hingga wajah pria itu berpaling ke samping.
“Teganya kamu, aku yang selalu ada disisi kamu selama tiga tahun, yang mencintai kamu. Tapi kamu melamar wanita lain!” bentak Sherina penuh emosi, tidak terima.
“Aku tidak terima Arash! Kamu harus membatalkan lamaran itu, aku tidak mau diputusin sama kamu. Aku ini pacar kamu, dan lebih cocok jadi istri kamu!” lanjut kata Sherina, berapi-api. Ujung ekor mata Sherina melihat Almira baru mau masuk ke dalam lift, wanita itu bergegas dan agak berlari menyusul Almira, dengan hati yang menggebu-gebu.
“Astaga, gawat ini!” gumam Arash sendiri, melihat Sherina meninggalkannya untuk menyusul Almira, Arash ikutan berlarian secepat kilat.
Pintu lift yang sudah tertutup, tiba-tiba saja kembali terbuka. Wajah Sherina tampak memerah saat menatap wajah Almira, sedangkan gadis yang ditatap tampak menghiraukan nya.
“Jangan macam-macam Sherina!” balas sentak Arash, menahan tangan Sherina yang ingin mendorongnya ke samping.
“Dasar penggoda lo ya, dasar PELAKOR. Tega lo ya masih bocah SMA tapi udah jadi PELAKOR, rebut calon suami gue!” bentak Sherina di dalam lift. Orang yang ada di dalam lift ikutan melihat Almira.
Almira mencoba menahan dirinya untuk tidak ikutan emosi, namun hatinya sangat sakit.
“AAKH!” teriak Almira saat selendangnya sudah ke tarik oleh Sherina, dan selendangnya jatuh ke bahunya, melilit dilehernya, hal itu membuat Sherina terlihat senang, ditariknya ujung selendang itu agar bisa semakin mencekik leher Almira.
“HENTIKAN SHERINA!” bentak Arash mulai panik melihat Almira wajahnya mulai memerah.
__ADS_1
Orang yang ada di dalam lift menahan pintu lift agar tetap terbuka, lalu keluar dan memanggil pihak keamanan.
Almira yang baru saja sembuh dari tulang punggung yang tergeser, belum berani bergerak spontan karena Dokter sudah mewanti-wanti keadaan tulangnya agar tidak melakukan tindakan seperti dulu, biar tetap terjaga, karena kalau tidak bisa dijaga, maka akan fatal bagian punggungnya. Apa daya gadis itu hanya bisa menahan selendangnya dengan kekuatan tangannya agar tidak terlalu mencekik lehernya, walau sebenarnya sudah mencekik leharnya.
“Kurang ajar kamu, Sherina ... LEPASKAN SELENDANGNYA!” teriak Arash, terpaksa Arash memukul kedua lengan Sherina sekuat tenaganya agar lepas dari selendang milik Almira.
Lepas, lalu bruk!
Almira jatuh tak sadarkan diri karena kehabisan napas.
“ALMIRA!” jerit Arash ketakutan, pria itu langsung mengapai badan Almira yang tak sadarkan diri.
“BRENGSEK LO, SHERINA!” umpat Arash, kedua netranya menajam dan berapi-api ketika menatap wajah Sherina yang masih terlihat marah.
Beberapa petugas keamanan hotel pun menghampiri mereka yang ada di dalam lift.
Arash membopong Almira keluar dari lift, menuju ruang kesehatan. Sedangkan Sherina dipisahkan dari mereka berdua.
Please Almira, maafkan gue, batin Arash menyesal.
Sherina, kekasih Arash yang terbiasa menghempaskan penggemar Arash, dan kali ini pria itu benar-benar geram dengan kelakuan Sherina, mungkin karena dia memang mencintai Almira, beda terhadap wanita lain.
Bersambung ....
__ADS_1