
Ketika kamu mencintai seseorang, pasti akan melakukan apapun untuk seseorang yang dicintai, demi meluluhkan hatinya, demi membuatnya memilih dirimu. Walau dirimu harus berubah dari kebiasaan-kebiasaan di masa lalu.
Geng motor, klub malam, minum-minuman beralkohol sudah Arash tinggalkan demi gadis yang beberapa jam lagi akan sah menjadi istrinya, teman hidupnya sampai akhir hayatnya.
Mommy Alya menatap salah satu anak kembarnya yang kini sudah rapi mengenakan setelan jas tuxedonya berwarna hitam sebagai pilihan pakaian pengantin pria, kedua netra pun berkaca-kaca, hatinya ada rasa sedih bercampur bahagia.
Arash mengusap air mata yang jatuh di pipi Mommy nya sembari tersenyum hangat. Mommy Alya pun melipat bibirnya agar tidak pecah rasa bahagia namun berbarengan rasa ingin menangis.
Tak ingin hal itu terjadi, Arash memeluk tubuh Mommy Alya dengan dekapan yang begitu hangat. “Terima kasih Mommy atas segalanya,” ucap Arash begitu lirih.
Mommy Alya tidak menjawabnya, hanya mampu mengusap lembut punggung anaknya yang masih memeluk dirinya.
Hari ini di salah satu hotel bintang lima akan diadakan pernikahan sakral dari kedua keluarga sultan, konsep pernikahannya mengusung nuansa garden party sesuai permintaan Almira, maka dari itu kedua keluarga tersebut memilih hotel yang berada di daerah Bogor yang memiliki space garden yang luas.
Keluarga Erick dan Keluarga Albert menyebar undangan hanya 1000 undangan, seharusnya bisa mengundang lebih banyak tapi terpaksa dibatasi, takut kedua pengantinnya kelelahan menerima tamu.
Sementara itu di kamar yang ditempati oleh calon pengantin wanita terlihat banyak yang berderai air mata, terutama Sita dan Tia yang ikutan jadi Bridesmaids Almira selain ketiga teman yang lainnya. Mereka yang baru beberapa hari yang lalu menerima kelulusan sekolah tingkat atas, sekarang harus mengantarkan sahabatnya menikah, sungguh ini amat cepat kalau menurut teman-teman Almira. Gadis yang sudah terlihat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih tulang hanya bisa tertawa kecil melihat temannya menangisi dirinya.
“Siti, Tia sudah jangan nangis terus, kasihan itu makeup kalian bakal luntur lagi, kasihan mbak MUA nya,” celetuk Almira.
“Gimana kita gak nangis, kamu nikahnya kok cepat banget,” ucap Tia masih terisak menangis.
“Tia, aku kan nikah aja bukannya meninggalkan kalian semua untuk pergi jauh,” jawab Almira.
__ADS_1
“Ya bukan begitu, kalau kamu udah nikah, pasti kita bakal jarang kongkow bareng. Secara kamu kan udah punya suami,” sahut Tia, matanya udah memerah.
Almira jadi tambah tertawa melihat Tia. “Tenang aja, calon suamiku orangnya baik, pasti masih izinkan aku kumpul sama kalian semua kok,” jawab Almira.
Teman-teman Almira pun satu persatu memeluk calon pengantin wanita. “Selamat sekali lagi ya Al, aku gak nyangka hari ini akhirnya tiba juga, dan ternyata jodohmu ketemu di jalan,” ucap Siti saat melonggarkan pelukannya.
Almira pun tersenyum pada Siti sahabat karibnya. “Gara-gara kita beli nasi goreng,” celetuk Almira setelahnya terkekeh kecil, mengingat kejadian pertama kali bertemu dengan Arash.
Jodoh memang tidak ada yang pernah tahu, bertemunya di mana dan sama siapa, sama seperti halnya dengan Almira dan Arash ketemunya di jalanan dalam keadaan kecelakaan yang menimpa Arash.
Mama Tania yang baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan gaun brukatnya mendekati Almira, teman-teman Almira pun memberi ruang untuk Mama Tania. Wanita paruh baya yang sudah terlihat semakin cantik menatap putri kecilnya yang sebentar lagi akan menjadi istri Arash.
Mungkin ada orang tua bertanya-tanya anak baru lulus sekolah kok langsung dinikahkan, harusnya kuliah dulu kek setelahnya berkarir atau berbisnis. Hello! keluarga Albert dan keluarga Erick tidak sekolot itu, masalah kuliah dan berkarir tetap bisa dijalankan setelah menikah, lagi pula menikah muda di atas umur 17 tahun tidak dilarang oleh pemerintah karena sudah memasuki usia dewasa, dan menikah lebih baik ketimbang kelamaan berpacaran yang banyak maksiatnya, hal ini lah yang dihindarkan oleh kedua keluarga tersebut. Maklumlah gaya pacaran jaman sekarang sangat bebas, dan kedua mama itu tidak mau sampai seperti itu. Ingat Dosa!
“Ingat pesan Mama semalam ya Nak,” ucap Mama Tania mengingatkan perbincangan semalam mereka berdua mengenai seluk beluk rumah tangga yang harus diketahui oleh Almira.
Kedua netra Mama Tania mulai berbinar-binar begitu juga dengan kedua netra Almira, ternyata sedih juga rasanya menjelang ijab kabulnya pikiran Almira, padahal bukan acara perpisahan.
Tanpa menunggu waktu lama panitia wedding organizer mendatangi kamar Almira, dan memberitahukan acara sudah akan dimulai. Wajah Almira pun mulai gugup, sedangkan Mama Tania selaku orang tua pengantin wanita diarahkan langsung ke tempat acara bersama suaminya Papa Albert.
“Bismillah, Ya Allah lancarkanlah acara hari ini,” gumam Almira sendiri, sembari melihat bridemaids mulai mengambil posisi sesuai interupsi panitia wedding organazier.
Sementara itu di tenda yang beratapkan kain transparant hingga bisa menatap langit-langit dengan dekorasi yang penuh dengan bunga-bunga dan terlihat mewah, tampak Arash yang mulai terlihat gugup, cemas serta jantungnya yang berdebar-debar. Padahal saat dikamar dia masih terasa tenang, namun setelah digiring panitia ke tempat weddingnya malah jadi tidak karuan rasanya.
“Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah lancarkan acara akad nikahku dengan Almira, jangan ada hambatan Ya Allah,” gumam Arash sendiri, seraya melihat pemandangan yang indah dari kejauhan sana.
MC sudah mulai membuka acara sejak tadi, dan kini saatnya calon mempelai wanita akan masuk ke tempat acara. Bridesmaids jalan terlebih dahulu, lalu hadirlah sosok pengantin wanita yang didampingi oleh adiknya Arash, Nabila bersama Bu Mimi.
Kedua netra Arash tidak berkedip sama sekali, mulutnya pun menganga melihat calon istrinya sangat cantik sampai pangling tidak mengenali. Bukan Arash namanya kalau tidak langsung menghampiri Almira, apalagi sudah tiga hari mereka tidak bertemu dan berkomunikasi. Pria itu bangkit dari duduknya lalu meraih tangan Almira untuk digandengnya. Sejenak mereka berdua pun tersenyum hangat, dan jalan bersama-sama menuju meja akad nikah.
__ADS_1
Papa Albert dibuat menggeleng kepala melihat kelakuan Arash yang sudah tak sabaran buat deketin anaknya, tapi pria paruh baya itu juga memahaminya, karena dia juga begitu sama ketika dengan Mama Tania.
Acara dilanjutkan, kini tugasnya Pak Penghulu yang akan melakukan acara akad nikah Arash dan Almira. Sekarang Arash sudah menjabat tangan Papa Albert dengan hati yang mantap pada pilihan hidupnya.
Bismillahirrahmanirrahim, “ ucap Papa Albert, kemudian menarik napasnya dalam-dalam, begitu juga dengan Arash yang mulai gugup kembali, lalu dia mulai mengatur napasnya.
“Saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau dengan pinanganmu, Almira Kiyan Al Yusuf binti Albert Elvano Yusuf dengan mas kawin logam emas seberat 50 gram, serta uang tunai sebesar 500 juta dan cincin berlian.
“Saya terima nikah dan kawinnya, Almira Kiyan Al Yusuf binti Albert Elvano Yusud dengan mas kawin logam emas seberat 50 gram, uang tunai sebesar 500 juta dan cincin berlian dibayar tunai.” Sekali tarikan napas panjang, Arash mengucapkan dengan lancar.
Papa Albert dan Arash sama-sama bernapas lega, lalu menguraikan jabatan mereka berdua dengan mengucapkan hamdalah.
“Bagaimana saksi, SAH?” tanya Pak Penghulu kepada saksi nikah.
“SAH!”
“SAH!”
“Alhamdulillah. “
Bukan hanya saksi yang menjawab kata SAH namun semua orang yang menyaksikan acara pernikahan itu.
Arash pun langsung menoleh gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya dengan kedua netranya yang berbinar-binar, sedangkan Almira entah kenapa kedua netranya mulai berembun karena rasa harunya.
bersambung ... kayak apa ya malam pertama Arash dan Almira 😁
Woro-woro karya baru akan rilis tanggal 1 Juli ya, mohon dukungannya Kakak Readers, bagi yang belum tahu sinopsis dan visualnya mampir di FORGETTING YOU ya
__ADS_1