Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Ancaman Arash


__ADS_3

P. University


Mobil sports milik Arash mulai memasuki area gedung yang menjulang tinggi, tempat dia menimba ilmu jenjang S1 di fakultas ekonomi dan bisnis yang bertempatan di kawasan Jakarta Barat.


Pria bermata biru itu sekarang sudah tidak mengendarai motor sport nya selain karena sudah lenyap dari garasi mansionnya, dia juga menghargai permintaan calon istri kecilnya. Di saat mobilnya masuk ke area parkiran, di posisi belakang mobilnya dia bisa melihat dari kaca spion mobilnya ada beberapa motor sport menyusul masuk ke dalam area kampus, motor yang sangat dia kenal.


Jack, Doni, Antony, teman geng motornya yang turut masuk ke dalam area parkiran, namun berbeda posisi parkiran nya.


Usai dia memarkirkan mobilnya, bertemu lah Arash dengan ketiga temannya tersebut.


“Hai Bro,” sapa Jack  sambil menepuk bahu Arash.


“Hai semuanya,” balas sapa Arash, cool, tapi dia memicingkan kedua netranya saat melihat ketiga wajah temannya.


“Muka lo semua pada kenapa?” tanya Arash, padahal sudah tahu kalau wajah lebam yang ada di antara mereka bertiga sudah pasti habis berantem.


Doni memutar malas kedua bola matanya. “Biasalah kayak lo gak tahu aja, sama geng sebelah ada slak sedikit. Lagian kemaren lo kenapa gak ikut sih sama kita-kita kongkow di Kemayoran!” jawab pria bermata belo itu dengan ketusnya.


Arash sejenak melirik Jack, “Sorry gue udah bilang sama Jack tempo hari, kalau gue udah gak bisa kayak dulu lagi, mau ikutan balapan motor, mau ke klub malam, gue mau tobat!” jawab Arash dengan tegasnya.


“Alaaah paling lo tobat sambal tomat, lo pasti gak bakal kuat, bakal balik lagi,” cemooh Doni saat mendengar kata Arash.


Arash mendengus kesal, tapi mau bagaimana lagi, temannya berhak untuk berargumen. “Ya terserah apa lo kata deh, dengan gue tidak ikutan kongkow dengan lo semuanya bukan berarti kita putus pertemanan. Tapi kalau lo gak mau anggap gue teman lo ya gak pa-pa,” jawab Arash dengan santainya, pria itu pun melangkahkan kakinya terlebih dahulu dari ketiga temannya. Sebenarnya bisa saja Arash menjelaskan panjang kali lebar kepada temannya, tapi buat apa! mereka semua sekarang posisinya sama ketika Arash tidak menerima nasihat dari orang tuanya.


Anthony menepuk bahu Doni. “Lo ngomong gak bisa direm, yang ada kita yang rugi kalau putus pertemanan dengan Arash. Kita harus ingat bapak kita rekan bisnis Daddy-nya, yang ada usaha bapak kita yang bangkrut!” tegur Anthony terlihat geram dengan si Doni.


Doni hanya bisa mengusap tengkuknya, baru saja kemarin bapaknya cerita jika usaha bisnis bapaknya baru saja dibantu oleh perusahaan Daddy Erick, menjadi bagian subkontraktor yang menyuplai salah satu bahan untuk produk yang di produksi perusahaan Pratama.


“Jadi kesimpulannya kita yang rugi melepas teman sebaik Arash, kalau dia mana rugi gak berteman sama kita, justru banyak orang yang ingin berteman dengannya. Lagi pula kita sebagai teman harusnya mendukung jika teman kita sedang fase ingin berubah lebih baik, mungkin ke depan mungkin giliran kita yang ada di posisi Arash,” tutur Jack, yang sudah menyadari jika sohibnya sekarang teguh dalam pendiriannya.

__ADS_1


“Ya udah, nanti gue bakal minta maaf deh sama  Arash, sekarang mending kita masuk ke dalam, keburu dosennya datang,” ajakan Doni, dan mengakhiri perdebatan tersebut.


Sementara itu Arash yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam kelas, kedua netranya menangkap sosok wanita yang menyebalkan. Arash melangkahkan kakinya menuju kursi yang ditempati oleh wanita yang sudah lama dia kenal itu.


Sherina yang berada di tempat duduknya tidak menyadari jika ada pria yang menghampirinya, karena kedua netranya sedang fokus dengan layar laptop nya.


“Sejak kapan kamu sok fokus belajar!” tegur Arash dengan suaranya yang begitu dingin dan beratnya.


Sherina yang sangat mengenal suara pria itu belum berani menegakkan kepalanya, untuk melihat sosok pria yang sangat dia cintai itu.


Pria itu membungkungkan punggungnya. “Sepertinya ketiga teman akrab mu tidak masuk kuliah hari ini ya! Apa mereka sedang di rawat di rumah sakit ya!” seloroh Arash, penuh penekanan setiap katanya. Sherina belum berani menatap wajah Arash.


“Harusnya kamu bersyukur bisa bebas dari penjara, tapi itu sifatnya sementara! Jika kamu berani sekali lagi mengganggu calon istriku, maka kejadian kemarin akan gue laporkan ke kantor polisi. Dan jangan harap papa kamu bisa memberikan jaminan kebebasan. Karena apa! Akan gue hancurkan bisnis papa lo!” sarkas Arash, tidak main-main memberikan ancaman pada mantan pacarnya.


Kepala Sherina pun terangkat, dan dia menatap tajam sang mantan kekasih. “Berani sekali kamu menuding aku mencelakakan bocah itu! Dan temanku yang mana masuk rumah sakit! Aku saja tidak tahu,” sangkal Sherina.


Arash menarik tubuhnya, dan kembali berdiri tegap kemudian dia menyeringai tipis. “Bocah itu calon istri gue! Lo tidak perlu menyangkal seperti itu Sherina, gue sangat paham sama lo! Bullshit banget jadi cewek! Lo kira gue gak bisa buka mulut ketiga teman lo, si Septi! Lo kan tahu siapa gue!” gertak Arash.


“Kita lihat sampai di mana lo masih menyangkal, dan siap siap saja bisnis papa lo bangkrut!” Arash kembali mengertak Sherina, kemudian meninggalkannya, dia menuju kursi yang biasa dia tempati.


Sialan! bisa berabe ini, kalau bisnis papa bangkrut, gue gak bisa hidup enak lagi, batin Sherina.


Salah satu PR Bang Wowo ketika akan mulai bekerja di perusahaan daddy-nya yaitu membuat dunia Sherina terbalik, karena wanita itu telah berani mencelakakan Almira.


Sherina tampak tidak tenang dalam duduknya, apalagi dosen sudah masuk ke kelas, dan sudah mulai memberikan materi.


Berapa banyak lagi aku harus siapkan uang buat si Septi, sialan aja kalau mereka bertiga sampai buka mulut! Geram batin Sherina.


Diam-diam Sherina membuka ponselnya dan mengecek m-bankingnya, lalu dia mendesah melihat nominal saldo uang bulanan nya.

__ADS_1


Rp. 5.535.009, 00


Ck ... kenapa masih belum nambah juga saldonya! Jangan jangan papa beneran memotong uang sakuku! Bukan sekedar gertakan aja.


Terdengar hembusan napas frustrasi Sherina saat dia menyandarkan punggungnya ke sandaran bangkunya.


Sementara itu Arash yang serius menyimak materi dari Dosen, dan kebetulan posisi duduknya ada di belakang, pria itu tersenyum sendiri menatap layar ponselnya yang ada dibalik bukunya.


✅Arash


Sayang, nanti siang aku shalat jum'at dekat sekolah mu ya, nanti tungguin aku ya di sana.


✅Calon istri tercinta


Kak Arash, aku lagi ada di kelas kenapa kirim wa sih! Iya nanti aku tungguin.


✅Arash


Maaf ya kalau mengganggu, habis aku kangen sama kamu. Ya udah see you, sayangku.


✅Calon istri tercinta


Mmm ... bye


Astaga pendek amat jawabannya, memangnya gak bisa panjang jawabnya, gerutu batin Arash.


Mau panjang mau pendek jawaban dari Almira, tetap aja hari Arash berbunga-bunga hatinya ... Cie ... Cie.


 bersambung ...

__ADS_1


 


 


__ADS_2