Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Mommy Alya sakit


__ADS_3

Rio asisten Daddy Erick datang bersama Vio istrinya saat mendapatkan kabar dari Daddy Erick jika Mommy Alya jatuh sakit, bersamaan dengan kedatangan Dokter Kevin.


Vio, masih menjalankan profesi sebagai suster walau sudah menikah dengan Rio, membantu Dokter Kevin memasang infus di tangan Mommy Alya.


Daddy Erick menatap sendu ke arah istrinya. “Bu Alya sangat kelelahan, imunnya agak turun, butuh bedrest beberapa hari, kalau bisa jangan terlalu banyak pikiran dulu, kelola stresnya dulu, biar tidak tambah drop,” kata Dokter Kevin setelah selesai memeriksa keadaan Mommy Alya.


Pria paruh baya itu hanya mengangguk pelan sembari menatap istrinya yang masih terkulai lemah.


“Bisa saya minta resep obatnya, biar segera di tembus,” pinta Vio.


“Tunggu sebentar akan saya catat dulu obat yang harus diberikan, dan tolong sampai malam harus tetap diberikan cairan infus agar tidak terlalu lemas,” balas Dokter Kevin.


“Baik Dokter,” jawab Vio, suster sekaligus teman rasa saudara Mommy Alya, mereka bertemu saat Mommy Alya melakukan inseminasi si kembar Arash dan Arsal di rumah sakit.


Dokter Kevin sudah selesai memeriksa kesehatan Mommy Alya dan memberikan resep obatnya.


“Sudah jangan banyak pikiran dulu ya Mbak, biar cepat sehat. Aku tinggal dulu ya mau urus obat buat Mbak nanti, sama buatkan sop kesukaan Mbak,” kata Vio, sembari mengusap lengan wanita paruh baya itu setelah memberikan injeksi obat antibiotik ke dalam infusannya.


Mommy Alya menarik sudut bibirnya seperti tersenyum tipis. “Makasih Vio,” jawab Mommy Alya dengan suaranya yang terdengar serak.


Arsal, Shaka yang kebetulan sedang bersantai di ruang utama, melihat kepergian Dokter Kevin bergegas ke kamar utama.


“Mommy, Daddy,” sapa Arsal dan Shaka bergantian, lalu melihat Mommy Alya masih berbaring lemah di atas ranjangnya dengan infusan di tangannya.


Daddy Erick melirik ambang pintu, dan menatap kedatangan kedua pemuda tersebut. Shaka langsung salim ke Daddy Erick, sedangkan Arsal menuju ranjang, lalu duduk di tepi ranjang.


“Kamu sudah balik dari Amerika, Nak?” tanya Daddy Erick.


“Iya Daddy, kemarin baru tiba dari Amerika, sekarang baru sempat ke sini,” jawab pria tampan itu.


“Mommy sejak kapan sakit, Dad, dan sakit apa?” tanya Shaka sembari menatap wajah pucat Mommy Alya.


“Baru tadi pagi Nak, mommy demam dan kelelahan.”

__ADS_1


Mommy Alya menatap sendu kedua putranya, Shaka sudah dianggap putranya juga. Arsal meraih tangan Mommy nya. “Badan Mommy panas, sudah dikasih obat penurun panasnya Dad?” tanya Arsal.


“Sudah dikasih tadi sama Tante Vio,” jawab Daddy Erick.


“Cepat sembuh ya Mom,” kata Arsal sembari memijat tangan Mommy nya.


“Iya Mom, cepat sembuh, jangan lama-lama sakitnya,” sambung kata Shaka.


“Makasih atas doanya, Nak,” jawab Mommy Alya pada kedua putranya.


Dibalik sikap Arash yang agak meresahkan, agak bandel, tetap Mommy Alya bersyukur memiliki anak yang masih terbilang mau mendengarkan kata orang tuanya dan sangat perhatian padanya.


Tak lama kemudian kepala pelayan membawakan sarapan buat Tuan dan Nyonya nya, Daddy Erick langsung mengambil semangkok bubur ayam, sedangkan Arsal membantu Mommy nya agar bisa duduk menyandar di headboard ranjang terlebih dahulu.


Daddy Erick yang sejak dulu menjadi suami siaga untuk Mommy Alya, kini menyuapi istrinya dengan telaten. Buat Arsal ini pemandangan yang sangat indah buatnya, dan kelak dia ingin seperti itu kalau punya istri.


Di waktu yang sama, di kamar Arash ...


Lumayan lama Arsal dan Shaka berada di kamar utama menemani mommy dan daddynya, sekarang kedua pria tampan itu pamit meninggalkan Mommy nya, Arsal  mencari Arash, sedangkan Shaka sudah tentu mencari gadis kecil yang bernama Nabilla itu.


Berulang kali pintu kamar Arash digedor-gedor sekuat tenaga oleh Arsal, namun si penghuni kamar belum juga membukanya, dengan terpaksa Arsal meminta kunci serep pada kepala pelayannya.


“Kebiasaan kalau tidur udah kayak orang mati, di gedor aja sampai gak dengar!” gerutu Arash saat membuka pintu kamar saudara kembarnya.


Pintu kamar Arash telah terbuka, Arsal pun masuk dengan menghembuskan napas kasarnya apalagi melihat saudara kembarnya masih pulas tertidur. Alih-alih ingin membangunkan secara normal, pria itu memilih ke kamar mandi lalu mencari wadah yang bisa menampung air, setelah dapat, diisilah wadah tersebut dengan air sampai penuh.


Kemudian ...


HUP ... Arash kembali gelagapan saat isi wadah itu jatuh turun pas diwajahnya. Kedua tangannya pun sibuk mengusap wajahnya yang basah, lalu dia membuka lebar kedua matanya.


Tampaklah wajah pria yang mirip dengannya. “Sialan lo! Emangnya gak ada cara lain buat bangunin gue apa!” sentak Arash kesal, dengan suara paraunya.


Arsal memutar bola matanya. “Eh gue tuh udah bangunin lo dengan gedor pintu kencang-kencang ya, tapi tetap aja lo gak bangun!” balas Arsal ikutan bentak.

__ADS_1


Dalam keadaan sudah basah, Arash bangkit dari pembaringan, dan terduduk di atas ranjangnya karena kepalanya terasa pusing efek habis minum minuman laknat.


Arsal masih berdiri dekat ranjang, lalu dia melipat kedua tangannya di depan dadanya, dan menatap sebal pada saudara kembarnya.


“Sampai kapan lo akan menyakiti hati mommy! Mommy sakit pasti karena lo kan!” sentak Arsal, menunjukkan kekesalannya.


“Apa, Mommy sakit!” terhenyak Arash, dengan mimik wajah yang tidak tahu.


“Alah jangan sok tidak tahu, gara-gara lo kan mommy jadi drop sekarang. Lo emang benar-benar keterlaluan, gue udah berkali-kali bilang ke lo. Rubah sikap lo itu! Mau sampai kapan kayak begini. Lo udah hancurin perasaan mommy. Kalau sampai mommy sakit parah, gue gak bakal diam begitu aja sama lo!” kecam Arsal, meluapkan amarahnya pada saudara kembarnya, setelah puas dia keluar dari kamar Arash dengan membanting pintu sekuat tenaganya, hingga suara yang timbul sangat menggema.


Arash hanya bisa terpaku di atas ranjangnya, lalu dia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


“AAKKHH ...,” teriak Arash, bantal yang ada di atas kasurnya dilemparnya ke sembarang tempat.


Terbesitkah hati Arash untuk menyesali segala perbuatan buruknya yang telah menyakiti hati mommynya? Jika Arash tidak menyesalinya berarti hatinya sudah mengeras, namun jika hatinya masih tersentuh dengan kata-kata Arsal, berarti masih bisa merubah dirinya sendiri, tapi kapan itu akan terjadi?


“Mau sampai kapan kamu akan begini Arash? Kedua orang tuamu menegur karena sayang dan perhatian denganmu, bukan karena mereka membenci dan tidak menyayangimu. Ayolah rubahlah sikapmu selagi kedua orang tuamu masih hidup, jangan sampai kamu menyesal jika kamu tidak memiliki kedua orang tua lagi!” tegur Mommy Ghina.


Arash hanya mendengarkan, dan menatap nanar ke arah dinding yang kosong itu.


 


bersambung ...


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komentarnya, makasih sebelumnya.




 


 

__ADS_1


__ADS_2