
Rumah Sakit H.
Mobil yang mengantar Papa Albert dan Mama Tania, ternyata bersamaan dengan kedatangan Daddy Erick dan Mommy Alya, keempat orang tersebut keluar dari mobil dengan wajah yang terlihat cemas.
Setelah saling menyapa sebentar, mereka sama-sama naik ke lantai lima di mana ruang eksekutif berada.
Almira baru melakukan rontgen di bagian kepalanya, untuk selanjutnya masih menunggu keputusan Dokter. Sekarang gadis itu sedang menyantap makan sore, dan seperti biasa disuapi sama Arash. Pria bermata biru itu begitu telaten mengurus Almira, sampai Alvin yang saudaranya sendiri tidak dikasih kesempatan untuk ikut mengurusinya.
“Assalammualaikum,” sapa Papa Albert, pria paruh baya itu bergegas masuk ke dalam ruangan, begitu juga dengan Mama Tania, lalu disusul oleh kedua orang tua Arash.
“Waalaikumsalam,” jawab serempak Arash, Almira, Alvin dan Siti.
Papa Albert dengan tatapan sendunya memeluk gadis kecilnya. “Ya Allah nak, ada apa lagi ini, kenapa masuk rumah sakit lagi,” ucap Papa Albert ketika sudah mengurai pelukannya, lalu mendesah panjang saat melihat perban di bagian kepala belakang putrinya.
Pria paruh baya itu kedua netranya mulai berkaca-kaca, sedangkan Mama Tania jangan ditanya lagi, wanita itu memeluk putrinya dengan erat dan mengecup kening Almira.
Arash menyudahi menyuapi Almira, dia bangkit dari duduknya lalu meletakkan piring ke atas nakas, pria itu sudah memasang badan, siap untuk dimarahi atau diberi pelajaran oleh Papa Albert.
Benar saja Papa Albert menajamkan sorot matanya pada Arash.
“Kenapa Almira bisa terluka seperti ini Arash! Papa'kan sudah menitipkan ke kamu untuk jaga putri Papa, baik-baik!” bentak Papa Albert, mulai terlihat murka, suaranya sudah naik 2 oktaf.
Daddy Erick dan Mommy Alya untuk saat ini belum berkomentar dulu, karena ingin tahu kronologi ceritanya terlebih dahulu.
Arash menundukkan kepalanya. "Aku minta maaf, Pah, tidak bisa menjaga Almira dengan baik," ucap Arash.
Almira tidak tega melihat Arash dimarahi oleh Papa Albert, apalagi muka papanya mulai memerah menahan emosi yang ingin kembali membuncah ke permukaan.
Gadis itu menggapai tangan Arash dan menggenggamnya, hal itu membuat kedua netra Arash membulat dan hatinya terhenyak atas sikap Almira.
“Papa jangan marahi Kak Arash, biarkan Kak Arash cerita dulu,” pinta Almira dengan lembutnya.
__ADS_1
Alvin turut mendekati ranjang Almira. “Iya Pah, jangan marah Kak Arash,” timpal Alvin.
Di saat itu hati Arash menghangat ketika tangannya digenggam erat oleh Almira, lalu tak lama Almira menatap Arash. “Kak Arash, ceritakan semuanya sama Papa dan Mama,” pinta Almira.
“Arash ceritakan semuanya sama Papa!” perintah Papa Albert, dengan suara tegasnya.
Arash menatap keempat orang tersebut, dan dimulailah dia bercerita saat berbincang dengan Almira di taman hingga terjadinya pelemparan batu sampai kasus tersebut Arash melaporkan tersangka berdua ke pihak berwajib. Selain Arash yang berbicara, Alvin juga turut bercerita apa yang dilakukan Arash selama menyelesaikan masalah, dan mengurus Almira di rumah sakit. Lalu berikut dengan menunjukkan video rekaman Prima.
Mama Tania dan Mommy Alya sempat mengelus dada setelah tahu jalan ceritanya, serta tidak menyangka pelakunya menggunakan hijab, ini amat memilukan hati semua orang, dan imbasnya terkadang akan ada saja yang berpikiran buruk dengan wanita yang mengenakan hijab, padahal sebenarnya bukan salah dengan hijabnya tapi lebih kepribadian masing-masing. Alangkah indahnya menghijabkan diri diiringi dengan menghijabkan hatinya juga.
Selama mendengar Arash bercerita, entah kenapa Mommy Alya merasa terharu dengan sikap dewasa Arash, ternyata mampu menyelesaikan masalahnya tanpa kedua orang tuanya ikut campur tangan.
Sedangkan dibenak Papa Alvin, bersyukur calon menantunya bisa menghandle situasi yang terjadi. Tak lama pria paruh baya itu mendekati Arash berdiri, kemudian dia memeluk Arash serta menepuk punggung Arash. “Kerja yang bagus, Papa kagum,” puji Papa Albert.
Pria bermata biru itu tersenyum tipis, hatinya lagi-lagi semakin hangat, serta terharu, untuk pertama kali dalam hidupnya baru kali ini dia merasakan bisa bermanfaat untuk orang lain.
Lepas dari pelukan Papa Albert, sekarang Daddy Erick memeluk putranya. “Akhirnya kamu bisa menjadi lebih baik, Arash. Pertahankanlah!” kata Daddy Erick, ada kebahagiaan tersendiri melihat putranya ada perubahan. Tak terasa gejolak hati Arash merasa bahagia, baru kali ini dihargai oleh Daddy Erick, setelah sekian lama dia memiliki perilaku yang buruk.
“Arash, Papa minta alamat kantor polisi nya, serta nama pelakunya,” pinta Papa Albert, sembari mengeluarkan ponselnya.
Setelah koordinasi dengan bawahannya, Papa Albert memanggil Dokter untuk menanyakan keadaan Almira lebih detailnya.
Sedangkan diam-diam Mama Tania dan Mommy Alya melirik Arash dan Almira yang masih pegangan tangan sedari tadi, dan belum dilepas juga.
“Ehm ... Kak Arash, Mira ... Kalian berdua mau nyebrang ya, dari tadi masih gandengan tangan aja,” celetuk Alvin, karena dia dari tadi juga memperhatikan lirikan mamanya sama mommy Alya.
“Eeh iya.” Almira baru tersadar lalu dia menarik tangannya dari tangan Arash, pria bermata biru itu terpaksa melepaskannya padahal lagi nyaman-nyamannya.
Tak selang berapa lama, Dokter tiba dan membicarakan keadaan Almira pada Papa Albert, setelahnya untuk hasil lebih akurat, gadis itu akan di CT-scan terlebih dahulu, saran dari Dokter yang menangani Almira.
Dua jam kemudian ...
__ADS_1
Hasil CT-scan sudah keluar, hasilnya semua tidak ada yang perlu di khawatirkan pada bagian kepala Almira, rasa sakit dan pusing memang efek dari lemparan batu tersebut dan durasi sakitnya semakin lama akan semakin berkurang. Namun karena Papa Albert khawatir dengan Almira, dia meminta untuk Almira dirawat sampai esok hari agar mudah di pantau oleh Dokter.
“Aku nginap di sini ya, temenin kamu,” ucap Arash.
“Memangnya Kak Arash gak capek ngurus aku dari menjelang subuh sampai sekarang sudah malam,” jawab Almira, agak kasihan.
“Masa ngurus kamu capek, lagian nanti aku juga istirahat kalau kamu tidur,” jawab Arash dengan manisnya.
“Tanya sama Papa dulu, boleh apa enggak Kak Arash di sini. Kalau gak di bolehin ya Kak Arash harus pulang,” balas Almira.
“Baiklah Tuan Putri, aku tanya sama papa dulu,” pria itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri keempat orang tua tersebut yang masih menikmati makan malam di satu meja, sedangkan Alvin lagi nganterin Siti pulang ke rumahnya.
“Pah, aku malam ini boleh menginap di sini gak? Temani Almira,” tanya Arash, sembari mendaratkan bokongnya di kursi kosong.
Papa Albert menolehkan wajahnya ke arah Arash dengan tatapan menyelidik. “Memangnya Mira mau ditemani kamu menginap di sini?” balik bertanya Papa Albert.
“Itu Pah, kata Mira ... aku disuruh tanya sama Papa, boleh atau tidaknya aku menginap di sini.” Jadi kagok Arash berkata.
“Mira!” panggil Papa Albert agak sedikit berteriak, karena jarak meja makan dan ranjang agak jauh.
“Ya Pah,” sahut Almira.
“Memangnya kamu mau ditemani sama Arash menginap di sini?” tanya Papa Albert.
Almira tiba-tiba diam seribu bahasa atas pertanyaan papanya sendiri. Mau jawab apa?
Arash yang dari tempatnya duduk, ikutan menatap Almira dari kejauhan, berharap Almira menjawab mau tapi kalau jawabannya tidak mau, ya sudah terpaksa menerimanya.
bersambung ...
Kakak Readers ikuti kisah ini sampai tamat ya, biar semangat lanjuti nulisnya 😊. Makasih sebelumnya 🙏🏻
__ADS_1
Lope Lope sekebon 🌹🌹🌹🌻🌻🌻