Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
ingin bicara denganmu


__ADS_3

Kaki jenjang Arash begitu cepat berlari, mengejar kaki Almira yang lumayan begitu cepat dalam berlari. Namun karena keinginan Arash yang begitu kuat, pria itu mampu mengejar kecepatan Almira.


“AAAKH!” teriak Almira, ketika pinggang rampingnya sudah ada yang memegangnya, lalu tak lama tubuhnya terangkat oleh tangan besar itu.


“LEPASIN!” teriak Almira, Arash tak peduli, dia tetap mengangkat tubuh mungil gadis itu hingga kedua kaki Almira tidak menyentuh ke tanah.


Almira memberontak, dan menggoyangkan kedua kakinya yang menggantung. Semua orang yang menatap Arash, mendapatkan tatapan yang sangat tajam menandakan agar tak satu orang pun ikut campur dengannya.


“SITI ... TOLONG!!” teriak Almira. Siti yang mendengar namanya dipanggil, langsung menghampiri mereka berdua.


Arash pun mengibaskan salah satu tangannya, mengusir teman Almira. “Jangan berani ikut campur, Siti. Ini urusan gue sama calon istri gue!” sahut Arash, dengan tatapan mengintimidasi.


“HAH ... calon istri!” kata Siti, antara terkejut dan tidak terkejut ekspresi nya, karena dia memang tidak tahu.


Arash membawa Almira menuju mobilnya, gadis itu pun masih berusaha melepaskan tangan besar Arash yang masih melingkar di perutnya.


“Diamlah Almira, nanti punggungmu akan kembali sakit,” tegur Arash, suaranya terdengar datar.


Pria itu membuka pintu mobilnya, lalu dibawanya gadis itu masuk ke dalam mobilnya. “Jangan berani keluar dari mobil, jika kamu masih mau selamat!” ancam Arash dengan tatapan tajamnya, Almira hanya bisa mendengkus kesal sembari merapikan kemeja seragamnya.


Arash menutup pintu mobilnya, lalu memutar ke arah pintu kemudi. Napas Almira masih naik turun karena habis berlarian, wajahnya pun sudah terlihat masam, pria itu meliriknya sejenak sebelum dia memasang seatbeal Almira, namun saat itu juga gadis itu menepis tangan pria itu dengan menunjukkan rasa amarahnya.


“Maaf aku terpaksa melakukannya,” ucap Arash, seakan tahu jika Almira sangat tidak menyukai tindakan Arash. Pria itu segera memakai seatbealnya lalu menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan sekolah gadis itu.


Selama perjalanan di dalam mobil, Almira benar-benar mengunci mulutnya, bertanya akan dibawa kemana pun tidak kepada pria bermata biru itu. Sedangkan Arash yang merasa tidak enak hati dan melihat wajah Almira yang terlihat garang, juga tak berani membuka suaranya, hanya bisa menghela napas panjang dan sesekali berdeham. Situasi yang tidak nyaman!


Mobil yang dikendarai oleh Arash sekarang sudah tiba di salah satu restoran ternama yang tak jauh dari perusahaan papa Albert, dia memarkirkan mobilnya di basemen restoran tersebut.


Mesin mobil sudah dimatikannya, seat beal yang dikenakan oleh Arash juga sudah dia lepaskan, sekarang dia memiringkan badannya agar bisa menatap Almira, gadis itu bergeming, kedua netranya masih tak berubah sejak tadi, hanya menatap ke arah depan, tak sedikitpun menoleh ke arah Arash.


Suara hembusan napas Arash yang berat terdengar jelas di telinga Almira, pria itu mencoba menyentuh tangan gadis itu, namun kembali ditepisnya.

__ADS_1


“Almira, kamu marah denganku, aku terima! Tapi beri aku kesempatan untuk berbicara sekali saja. Aku ingin meluruskan semuanya. Please Almira, jangan menyiksaku seperti ini!” kata Arash.


Almira masih bergeming.


“Please Almira, beri aku kesempatan untuk bicara denganmu. Kita bicara sambil makan ya. Pasti kamu lapar, kan?” kembali memohon Arash.


Almira membuka seatbealnya, lalu membuka pintu mobil yang sudah tidak terkunci, kemudian keluar dari mobil milik Arash dengan membawa tas ranselnya. Arash juga bergegas keluar dari mobil, takut Almira kabur kembali dari.


Biarlah gadis itu marah padanya, dia kembali meraih pergelangan tangan Almira dan mencengkeramnya dengan kuat agar tak lepas.


“Lepaskan tanganku jika Kak Arash ingin bicara padaku!” tegur Almira, sorot kedua netra yang berwarna coklat itu terlihat tajam, wajah cantik gadis itu semakin terlihat garang.


“Aku takut kamu kembali keluar dariku,” tolak Arash, memang dia takut.


“Kalau begitu aku tak akan mau bicara denganmu di dalam,” ancam Almira, dia menghentikan langkah kakinya.


Arash menarik napas dengan kasarnya, lalu tangannya meraup wajahnya dengan kasar. “Janji kamu tidak akan kabur dan berlari seperti tadi!”


Arash sengaja memilih tempat yang tidak banyak orang lalu lalang, dan agak sepi agak bisa bicara berdua leluasa dengan Almira. Tanpa banyak bertanya, sesampainya mereka di meja kosong, Arash langsung memesan makanan tanpa bertanya pada Almira, gadis itu hanya mengamatinya saja.


“Almira.” Setelah waiters sudah meninggalkan mereka berdua, Arash kembali memanggil namanya dengan menatap Almira.


“Sekali lagi aku minta maaf, sudah memaksa kamu untuk ikut denganku,” kata Arash, penuh penyesalan.


“Mmm ...,” gumam Almira, sembari memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Sebegitukah kamu tidak ingin menatap wajahku, sampai-sampai kamu selalu saja membuang muka ke arah lain,” tegur Arash nadanya pelan, tapi penuh penekanan.


Almira meluruskan kembali kepalanya dan menatap wajah Arash, wajah gadis itu masih terlihat garang. “ Haruskah aku menatap laki-laki yang memaksakan kehendaknya, yang tidak mengerti perasaan wanita!” balas Almira, berusaha bicara tenang, padahal hatinya sedang marah dengan Arash.


Arash menatap dalam Almira. “Maaf, sekali lagi aku minta maaf, Almira,” berulang kali Arash mengucapkan kata maaf, karena apa? Karena hatinya untuk gadis itu, dia merendahkan dirinya untuk bicara kata maaf, yang sangat jarang dia ucapkan pada siapapun.

__ADS_1


“Sekarang apa yang ingin Kak Arash bicarakan padaku? Jika ingin bicarakan tentang masalah kita, sudah jelas telah berakhir, kemarin kedua orang tua kita sudah membicarakannya, dan aku harap Kak Arash bisa menerimanya dengan baik,” kata Almira begitu tegasnya.


Belum Arash menjawab, waiters sudah datang kembali membawa pesanan mereka.


“Selamat menikmati,” kata waiters tersebut, setelah selesai menaruh semua pesanan.


“Terima kasih, Mbak,” jawab Almira ramah, sebelum waiters itu meninggalkan tempat.


Arash menggeserkan piring steak yang dia pesan untuk Almira, serta orange juice. “Kita makan dulu, baru lanjut bicara lagi. Sayang kalau tidak dimakan makannan yang sudah dipesan, tempo hari kamu kan pernah bilang, tidak boleh buang makanan, masih banyak diluar sana yang tidak bisa makan,” kata Arash, sembari mengingatkan ucapan Almira saat mereka bertemu di mall.


Terpaksa gadis itu mengambil alat makannya, kemudian memotong daging steak nya lalu menyantapnya. Arash diam-diam tersenyum, dan turut menyantap makan siangnya.


 Kamu kalau marah makin cantik aja Almira, buat hatiku berdebar-debar saja, batin Arash.


Makan-makan aja! gak usah pakai lihat-lihat segala! Batin Almira.


GLEK!


Tatapan Arash seketika beralih ke piring steaknya, suara batinnya seakan terdengar oleh Almira dan pria itu mencoba menikmati makan siangnya perlahan-lahan, sengaja dia mengulur waktu agar bisa berduaan dengan Almira dalam waktu lama.


 


bersambung ....


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2