
Siang hari.
Tidak banyak memakan waktu lama, sekitar jam 9 pagi hasil pemeriksaan dokter sudah memperbolehkan Almira untuk tidak dirawat, tinggal nanti berobat jalan untuk kontrol periksa jahitan serta jika ada keluhan yang terbaru.
Entah kenapa Arash lebih banyak diam saat ikut mengantar Almira dari rumah sakit ke mansion Albert, seperti orang yang tidak akan bertemu kembali dengan Almira. Gadis itu juga melihat perubahan wajah Arash yang tampak berubah menjadi diam.
Daddy Erick dan Mommy Alya turut ikut mengantar Almira pulang ke mansion Albert, sekalian Papa Albert mengundang mereka semua untuk makan siang bersama.
Siti yang sengaja mengambil izin karena ingin menemani Almira, turut ikut ke mansion, dan sekarang di sinilah mereka semua berkumpul bersama-sama menikmati hidangan makan siang bersama.
Arash sengaja duduk di samping Almira seperti biasa, lalu menyantap makanannya dalam diamnya, tidak banyak berkata, alhasil Almira jadi ikutan diam saat makan.
Sedangkan kedua orang tua mereka menikmati makan siang sambil membicarakan bisnis mereka masing-masing. Beda hal dengan Alvin dan Siti yang sesekali melirik mereka berdua, oh iya kalau ada yang nanya Alvan kemana, pria jutek itu pergi ke sekolah.
“Ayo Kak Arash, jangan bikin salah paham lagi sama Almira dari tadi diam saja,” celetuk Alvin di sela makan siangnya.
Arash menegakkan kepalanya untuk menatap Alvin yang duduk di hadapannya. “Gak ada salah paham Alvin,” jawab Arash pelan dan terkesan tidak semangat saat menikmati makan siangnya. Kedua orang tua mereka pun melirik ke arah Arash sejenak.
Ujung ekor kedua netra Arash melirik ke arah Almira yang masih menikmati makanannya. Hati pria bermata biru itu sebenarnya gundah gulana, karena setelah dia nanti pulang dari mansion Albert tidak ada lagi kebersamaan seperti kemarin yang hampir 24 jam bersama, apalagi status Arash masih digantung oleh Almira walau tinggal beberapa minggu lagi keputusan Almira buat dirinya.
Pasti dirinya sangat merindukan gadis kecil itu, tapi mau bagaimana lagi mereka berdua akan kembali beraktivitas dengan kesibukan nya masing- masing, apalagi besok Arash selain kuliah sudah bersiap-siap untuk bekerja di perusahaan daddy Erick. Ingin rasanya dia diterima sama Almira, kalau bisa langsung dinikahi saja, karena hati kecil Arash sejujurnya juga takut jika Almira direbut oleh pria lain. Tapi kembali lagi dia tidak bisa memaksakan keinginannya, hingga detik ini pun Arash masih berusaha mengambil hati Almira sambil memperbaiki dirinya.
Arash meletakkan sendok yang dia pegang, kemudian menyentuh tangan kiri Almira yang tergeletak di atas meja, lalu menggenggamnya, Almira pun menoleh dan melihat tatapan Arash yang begitu mengiba-iba, kedua netranya juga terlihat berkaca-kaca. Siapa yang tidak tersentuh jika ada pria yang kedua netranya terlihat berembun, karena kebanyakan pria jarang meneteskan air mata buat seorang wanita kecuali ibunya.
Arash tersenyum pilu ketika menatap Almira, senyuman yang menggambarkan kegalauan hatinya. Papa Albert dan Daddy Erick yang diam-diam memperhatikan sikap Arash, jadi teringat dengan diri mereka masing-masing yang dulu takut kehilangan istrinya yang pada saat itu belum mencintainya.
“Mira, kamu pengumuman kelulusan sekolah kapan?” tanya Papa Albert.
Arash menarik tangannya dari tangan Almira, karena agak segan saat melihat tatapan Papa Albert. “Minggu depan pengumuman kelulusannya Pah. Benarkan Siti?” tanya Almira.
__ADS_1
“Iya minggu depan, tanggal 25 Om,” timpal Siti.
Papa Albert manggut-manggut lalu menatap Mama Tania. Wanita paruh baya itupun mengeluarkan kotak berwarna navy dari kantong dress nya, kemudian diletakkannya di atas meja makan. Arash sangat mengenal kotak berwarna navy itu, di dalam nya ada cincin lamaran milik Almira yang sudah dilepasnya saat itu.
Ada apa gerangan ya?
Kedua netra Almira juga melihat kotak navy tersebut dan juga tahu isi yang ada di dalamnya.
“Almira, Papa ingin menanyakan kelanjutan hubungan kamu dengan Arash, ada baiknya kamu memberikan kepastian tentang ini. Jika memang Arash tidak ada harapan, jadi di sini kita sama-sama menyelesaikan secara baik-baik. Karena kita menginginkan jika tidak ada pernikahan di antara kalian berdua, kita tetap ingin menjalin silaturahmi antar dua keluarga besar. Jadi Papa harap kamu bisa memberikan kepastian yang jelas siang ini,” tutur Papa Albert.
Almira diam sejenak, lalu menundukkan kepalanya. Kemudian ...
“Pah, Mira izin ke belakang sebentar, nanti kembali lagi ke sini,” pinta Almira.
“Ya, setelahnya kembali ke sini,” jawab Papa Albert.
Almira dengan hatinya masih bimbang melangkah menuju ke musholla yang ada di belakang mansion, kemudian menjalankan sholat dzuhur. Usai menunaikan sholat dzuhur, dia diam dalam duduknya kemudian batinnya mencari jawaban untuk pertanyaan papanya, serta kebaikan untuk dirinya sendiri.
Tapi tidak bisa dipungkiri hati Almira semakin hari semakin tersentuh atas sikap dan perubahan Arash, dan dia berharap jika perubahan itu semakin lebih baik, tidak untuk sesaat. Apalagi perhatian kecil Arash, kadang suka bikin Almira tersenyum tapi banyak jengkelnya.
Lagi pula setiap dalam doanya, gadis itu selalu mohon petunjukku siapa yang terbaik untuknya, seiring waktu berjalan hanya Arash yang selalu dia temui bukan Ustadz Ridwan pria yang dia kagumi.
Setelah beberapa menit berada di musholla, dan hatinya mulai tenang gadis itu kembali ke ruang makan, lalu kembali duduk bersama.
Arash yang melihat kedatangan Almira hanya menatap pasrah dan memang sejak tadi tidak semangat.
Semua yang ada di meja makan sudah selesai menikmati hidangan main course nya, sekarang mereka sedang menikmati hidangan dessert nya, dan Papa Albert kembali membuka suaranya.
“Arash, Almira sebuah pernikahan bukanlah ajang permainan, tapi penyatuan dua orang yang memiliki karakter yang berbeda, namun sama-sama memiliki niat untuk membangun mahligai rumah tangga, rasa mencintai bisa tumbuh karena saling bersama-sama, namun alangkah indahnya jika masing-masing pasangan saling jatuh cinta. Dan hati seseorang tidak bisa dipaksakan untuk melangkah ke jenjang pernikahan tersebut yang ada nanti akan saling menyakiti ketika menjalankan pernikahan tersebut. Jadi Arash jika Almira ternyata masih tidak mau menerima kamu, kamu harus berlapang dada menerima keputusan Almira, dan Papa harap kamu bisa segera movie on. Dan buat kamu Mira, kami tidak memaksamu, tapi yang jelas tanyakan pada hatimu, karena hanya kamu yang tahu isi hati kamu sendiri,” tutur Papa Tania.
__ADS_1
Kedua netra Arash sudah berembun, takut dibilang cengeng dia menundukkan kepalanya lalu buru-buru mengusap air matanya.
Almira ikutan menundukkan kepalanya, tapi sedikit melirik ke Arash yang mulai terdengar hidungnya mampet gara-gara menahan diri untuk tidak menangis. Sebegitu besarnya Arash mencintai Almira, namun dia tidak bisa memaksakan Almira untuk menerimanya.
Mama Tania menggeser kotak kecil itu ke hadapan Almira, dan semua yang ada di ruang makan menanti sebuah jawaban.
Almira menegakkan wajahnya dan menatap kotak kecil itu. Bismillah, semoga aku tidak salah memilih ...
“Kak Arash,” panggil Almira begiu lembutnya.
“Ya,” Arash pun menoleh ke samping dengan kedua netranya yang sudah memerah.
“Itu kotak nya,” tunjuk Almira dengan mengarahkan dagunya.
Semakin sedih tatapan Arash melihat kotak kecil itu, dan pasrah sudah dirinya kembali ditolak.
“Kok Kak Arash malah diam aja sih, ambil kotak nya cepetan!” pinta Almira.
Dengan uluran tangannya yang malas diambil lah kotak kecil itu lalu di masukkannya ke dalam saku celananya dengan suara helaan napas yamg sangat berat.
Almira dibuat melongo dengan kelakuan Aeash, antara paham apa tidak mudeng.
“Kak Arash kok malah dimasukin ke kantong celana sih, bukannya dipasangi di sini!” kesal Almira dengan menunjukkan jemarinya di hadapan Arash, lalu memasang wajah cemberutnya.
Kedua netra Arash seketika itu juga membulat dan mulutnya mengganggu, wajahnya yang tampan bagaikan orang bodoh setelah mendengar kata Almira.
Sontak saja semua orang yang ada di ruang makan menertawakan Arash.
Bersambung ...
__ADS_1