
Di saat Arash mengerem mobilnya secara mendadak, kondisi mobil tidak dalam posisi di jalur cepat atau tengah, untung saja berada di jalur lambat dan bisa langsung menepikan mobilnya.
Almira masih menenangkan detak jantungnya yang hampir copot karena kaget, dengan mengambil napas ke udara berulang kali.
“Kamu gak pa-pa kan,” tanya Arash, agar khawatir.
Salah satu tangan Almira mengibas. “Gak pa-pa, hanya kaget saja, kok tiba-tiba mobil ngerem mendadak.”
Mesin mobil tetap nyala, dan mobil juga dalam keadaan direm tangan. Arash menatap ke arah jalanan dari balik kaca mobilnya.
“Sebenarnya apa yang ada dipikiran kamu saat ini, Almira? Apa sekarang kamu berpikir jika aku dengan Sherina sering melakukan sek*s bebas kah?” tanya Arash tanpa menatap wajah gadis itu.
Almira yang awalnya tubuhnya agak maju mendekati dasboard, sekarang dia menyandarkan punggungnya ke sandaran jok mobil, lalu sama menatap ke arah jalan seperti yang Arash lakukan.
“Kak Arash selama ini tinggal di negara tetangga sebelah yang tidak tabu dengan hal sek*s bebas apalagi dilingkup pergaulan anak mudanya. Jadi bolehkan jika aku menduga Kak Arash seperti itu juga terhadap Kak Sherina, apalagi saat di rumah sakit aku melihat Kak Sherina dengan santai cium pipi Kak Arash, lalu duduk berdempetan sampai payu*dara Kak Sherina menempel dengan lengan Kak Arash dan Kak Arash juga terlihat santai saja tidak risih. Aku bilang begini bukan karena aku cemburu, lagi pula belum tentu juga aku menikah dengan Kak Arash. Tapi aku berharap kelak punya suami bukan bekas orang atau yang sering melakukan hubungan intim walau statusnya masih sendiri, belum menikah,” ungkap isi hati Almira.
Arash menyugar rambut tebalnya dengan jemarinya, ada kalimat yang menyentil dirinya ‘cium pipi, tempel payudara' memang benar Sherina dan dia sering cium pipi kanan kiri saat berjumpa dan berpisah, dan kadang juga Sherina suka menggodanya dengan berani cium bibirnya, ya sebagai pria dia menikmatinya, akan tetapi tidak sampai menyelesaikannya sampai di atas ranjang. Kucing mana yang gak tahan jika disuguhi sama ikan asin, tapi paling tidak Bang Wowo masih bisa menjaga burungnya tetap berada di sangkarnya dari sentuhan wanita mana pun termasuk Sherina, walau wanita itu sungguh berani merangsang hasratnya jika hanya berduaan saja.
Arash tersenyum getir ketika menatap Almira yang tak menatap dirinya, hati nya agak sedih saat Almira bilang ‘belum tentu aku menikah dengan Kak Arash’ seakan dirinya kembali dijatuhkan ke harapan palsu.
“Aku akui jika memang sering ciuman dengan Sherina, tapi aku tidak pernah sampai melebihi batasnya, dan selama aku tinggal di Australia ... aku tidak ikutan pergaulan sek*s bebasnya, tapi jika ikut geng motor, pergi ke klub malam, iya aku lakukan, perlu kamu ketahui aku belum pernah berhubungan intim dengan wanita manapun, aku masih perjaka tulen, karena prinsipku dari dulu keperjakaanku hanya untuk istriku saja,” jawab jujur Arash apa adanya.
Kadang orang berkata jujur itu, bikin hati ada rasa nyess ya walau belum ada rasa suka terhadap orang tersebut, inilah yang sekarang Almira rasakan di hatinya 'sering ciuman dengan Sherina.'
“Jalankan lagi mobilnya Kak, keburu kita sampai mansion magrib, aku belum shalat ashar,” pinta Almira, tanpa menimpali ucapan Arash barusan.
Pria itu pun menuruti permintaan Almira, dan sepanjang sisa perjalanan menuju mansion Albert, mereka berdua benar-benar tidak bersuara lagi, akan tetapi Arash sesekali melirik Almira yang selalu menatap ke samping jendela mobilnya.
Mobil yang dikendarai Arash akhirnya tiba juga di mansion Albert, gerbang hitam yang menjulang tinggi mulai terbuka sendiri setelah Almira membuka jendela mobil untuk menyapa securty mansionnya.
__ADS_1
Ketika mobil Arash terparkir di depan lobby mansion, Almira bergegas keluar dari mobil Arash tanpa bersuara.
BRAK!
Suara bantingan pintu mobil Arash berdentum dengan kerasnya.
“Huft ... begini amat punya calon istri, untung cinta kalau gak cinta gak bakal gue kejer, gak bakal gue ikutin terus. Sabar oh sabar Arash,” guman Arash sendiri sembari mengelus dadanya sendiri.
Pria itu memilih untuk masuk ke dalam untuk menyapa keluarga Almira, siapa tahu ada calon pa-pa mertua yang bisa membantu dirinya. Tapi apa yang dia dapat kan ...
Kedua pria yang berparas tampan sudah berada di ruang utama, dengan tatapan yang begitu tajam.
GLEK!
Ada calon kakak ipar, batin Arash.
“Waalaikumsalam,” jawab serempak sikembar, namun terdengar nada ketus, siapa lagi kalau bukan Alvan.
“Kok sore tamat antar Almira pulang, sudah mau magrib, hampir ke mana dulu?” cecar Alvan.
Arash mengusap tengkuknya yang tiba-tiba saja terasa berat, belum juga di suruh duduk tapi sudah di interogasi sama calon kayak ipar.
“Duduk dulu Kak Arash,” pinta Alvin melihat pria itu masih ber diri di hadapannya.
“Eeh ... iya makasih,” jawab Arash, sembari menjatuhkan bokong ke sofa empuk itu.
Alvan masih menajamkan sorot matanya pada Arash, seperti sedang menanti sebuah jawaban.
“Tadi aku ajak Almira sama Siti untuk makan dulu di mall, jadi pulang nya agak telah,” jawab Arash.
__ADS_1
“Kalau mau ajak Almira mampir-mampir kasih tahu sama orang rumah, jadi kita gak panik cari Almira, untung saja aku telepon papa,” celetuk Alvan, dengan ketusnya.
Haduh salah lagi posisi Arash, bukan nya sudah cukup minta izin sama Papa Albert, kenapa izin nya jadi berlapis lagi, harus mengetahui Alvan dan Alvin, pria bermata biru itu terpaksa manggut-manggut saja, iyakan saja daripada babak belur lagi.
Tak lama kemudian Almira masih pakai seragam datang dengan membawa nampan ditangannya, ternyata neng Kunti membawakan minuman dingin untuk Bang Wowo.
“Kak, diminum dulu airnya, setelah itu shalat ashar mumpung masih keburu,” pinta Almira, lagi-lagi gadis itu tak mau menatap wajah pria itu, lalu pergi meninggalkan ruang utama.
Ingin rasanya pria itu tersenyum tapi melihat wajah datarnya Almira, jadi kembali turun sudut bibirnya, apalagi perintah disuruh shalat ashar, dia masih meraba dan belajar belum hapal bacaan shalatnya. Pengen nangis batin Arash.
“Makasih Mira,” jawab Arash, langsung menegak minuman dingin buatan calon istrinya sampai tandas, kemudian matanya melirik Alvin seperti sedang melambaikan pertolongan ke salah satu kembaran Almira.
“Kak Arash mau shalat Ashar, aku antar ke musholla.” Rupanya gayung bersambut pria yang ditatap nya paham jika dia membutuhkan pertolongan Alvin walau agak galak tapi masih mau nolongin Arash.
“Iya Alvin, aku mau ke musholla, aku tinggal dulu ya Alvan,” jawab Arash yang sudah beringsut dari duduknya.
“Mmm ...,” gumam Alvan.
Si Alvin baik banget sih ama Kak Arash, harusnya biarin aja dia cari musholla sendiri di belakang, gerutu batin Alvan.
Arash dan Alvin jalan beriringan menuju musholla yang ada dibelakang. “Vin, ajaran aku cara ambil wudhu ya, aku masih suka lupa,” pinta Arash dengan suaranya begitu pelan, agar tidak terdengar oleh orang lain.
Alvin menepuk jidat nya. “Astaga ternyata masih belum hapal juga, siap-siap loh Kak Arash nanti ada test bacaan shalat sama Mira kalau mau lulus jadi calon suaminya,” celetuk Alvin.
“Oh My God!” Arash pun ikutan menepuk jidat nya sendiri.
PR agar lulus calon suami Almira masih banyak ya Bang Wowo, selamat berjuang!
bersambung ...
__ADS_1