Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Perdebatan saat makan siang


__ADS_3

Perasaan Almira mulai ketar ketir setelah merasakan aura yang kurang menyenangkan antara kedua saudara kembar itu. Apalagi melihat remasan kaleng dari tangan Arsal, sedangkan Almira enggan untuk menoleh kesamping, agar melihat jelas bagaimana raut wajah Arash.


Dengan suasana yang semakin panas, tak lama Pak Toni bersama salah satu maid membawa troly yang berisikan beberapa hidangan yang siap disantap siang hari ini.


“Permisi, Den Arsal, Den Arash, Non,” ucap Pak Toni, kedua tangannya sudah terlihat sibuk meletakkan beberapa piring yang sudah berisikan macam-macam lauk, lalu wadah nasinya, kemudian piring kosong untuk ketiga orang tersebut, dan yang terakhir minuman segar dan air mineral.


“Kira-kira ada yang perlu ditambahkan lagi, Den Arsal?” tanya Pak Toni memecahkan keheningan sejenak antara mereka bertiga.


“Nanti bawakan buah potong untuk cuci mulutnya, Pak Toni,” jawab Arsal.


Oh ternyata Pak Toni lupa jika Arsal selalu menyukai buah potong sebagai makanan penutupnya, dan dia lupa menghidangkannya.


“Kalau Den Arash ada yang mau ditambahkan lagi menu makanannya?” sekarang giliran Arash yang ditanyakan.


Arash melirik makanan yang ada di meja, dirasa sudah langkap. “Nanti bawakan saja ice cream rasa coklat ukuran mangkok besar, tambahkan choco chip, potongan buah pisang dan stawberry,” pinta Arash sembari melirik Almira.


Pak Toni mengernyit, merasa heran dengan permintaan Arash. Sejak kapan Den Arash suka sama ice cream?


“Jangan lupa ya Pak Toni, ice creamnya diantar setelah selesai makan,” lanjut kata Arash.


Pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya. “Baik Den Arash, kalau Non ada yang mau ditambahkan?” tanya Pak Toni.


Gadis itu mengulas senyum tipisnya, membuat gadis itu tampak semakin cantik. “Tidak ada Pak, ini sudah cukup kok.”


“Baiklah kalau begitu, selamat menikmati makan siangnya,” kata Pak Toni sebelum undur diri.


Almira sedikit bernapas lega ketika Pak Toni datang untuk menyajikan makan siang untuk mereka bertiga, paling tidak meredakan emosi kedua pria tampan tersebut, karena teralihkan dengan makanan.


“Mari kita makan, Almira,” ajak Arsal sembari menunjukkan tangannya ke piring milik Almira, untuk diambilkan nasi. Kebetulan Almira-nya menurut, diberikannya piring yang ada di hadapannya kepada Arsal, lalu pria itu menuangkan nasi ke atas piringnya.


Meradanglah hati Arash melihat keakraban Arsal dan Almira, ujung ekor kedua netranya benar-benar menyipit dan menajam saat menatap Arsal, akan tetapi yang di tatap terlihat santai.


“Jangan banyak-banyak nasinya Kak Arsal, sudah cukup,” pinta Almira saat melihat nasi di piringnya.

__ADS_1


Sekarang giliran Arash menyodorkan piring kosongnya kepada Arsal. “Sekalian punya gue ambilin juga!” perintah Arash, agak menjengkelkan.


Alis mata Arash naik sebelah. “Memangnya tangan lo udah gak berfungsi buat ambil nasi sendiri!” celetuk Arsal, mengabaikan perintah Arash, kemudian dia mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


Arash berdecak kesal. “Giliran Almira, lo ambil in sedangkan gue gak diambil in!” sahut Arash.


“Emangnya lo tamu di sini! Wajar dong gue melayani tamu di mansion! Bukan kayak elo yang hanya bisanya emosi saja, bikin sakit hati orang lain!” balas Arsal tak mau kalah.


Almira yang baru saja menyuap makanannya tiba-tiba tidak jadi, diletakkan lah sendok di atas piringnya.


“Sepertinya kehadiran aku di sini membuat kalian berdua tidak nyaman, sebaiknya aku pamit dulu,” kata Almira, gadis itu langsung berdiri dari duduknya.


“Duduk!” kata serempak Arash dan Arsal, sambil mendongakkan wajahnya, menatap gadis itu yang sudah beranjak dari duduknya.


“Duduklah Almira, makanan kamu belum juga dimakan. Dan keributan ini bukan karena mu, kami memang terbiasa ribut,” kata Arsal dengan lembutnya.


“Kamu sendiri bilang jangan sia-siakan makanan, mubazir!” timpal Arash kepada Almira.


“Tidak, tidak boleh pulang! Harus habiskan makanannya dulu, aku janji tidak akan berdebat lagi,” jawab Arash serius.


Mimik wajah Arsal hanya mencebik mendengar janji saudara kembarnya. “Ayo Mira, kita lanjut makannya, tidak akan ada perdebatan lagi,” timpal Arsal.


Akhirnya Almira menyetujui untuk melanjutkan makan siang bersama, dan kedua pria tersebut tidak mengeluarkan sepatah kata pun, makan dalam keheningan. Ya gak pa-pa lah saling diam, dari pada berdebat yang tak ada ujungnya.


Selama tiga puluh menit mereka sudah menyelesaikan makan beratnya, dan Pak Toni datang kembali dengan membawakan dessert. Ada buah potong dan ice cream pesanan Arash. Dan ternyata mangkok ice cream yang dia pinta di gesernya ke hadapan Almira.


“Buat kamu,” kata Arash.


Almira menoleh ke samping dengan tatapan heran pada Arash. “Buat aku, perasaan aku tidak pesan ice cream, bukannya Kak Arash yang pesan?” tanya Almira.


“Aku pesan buat kamu, bukan buat aku kok, jadi makanlah,” jawab Arash terkesan dingin.


Ice cream coklat adalah godaan terbesar buat Almira, karena dia pencinta ice cream, dan jarang menolak kalau ada yang kasih. Tapi yang ini agak berbeda, ingin rasanya menolak ice cream dari Arash.

__ADS_1


“Bukannya kamu suka ice cream coklat kan, makanlah dijamin aman tidak ditambahi obat pencahar atau racun!” celetuk Arash agak kesal karena melihat Almira belum menyentuh ice creamnya, seakan dirinya ditolak oleh gadis itu.


“What!” seru Almira dengan kedua bola matanya membulat.


“Tenang Mira, kalau kamu kenapa-napa setelah makan ice creamnya. Aku yang akan menyeret Arash ke pihak berwajib,” timpal Arsal sembari mengunyah buah potongnya.


“Sialan lo!” sentak Arash ditujukan ke saudara kembarnya.


Almira menaikkan kedua tangannya ke udara. “Stop jangan berdebat lagi, baik ... aku akan makan ice creamnya, dan jika aku kenapa-napa, maka Kak Arash lah yang akan bertanggung jawab. Jadi tolong jangan ribut dulu, kalau mau ribut tunggu aku pulang! Mengertikan kalian berdua!” tegur Almira dengan tegasnya dan suara lembutnya terdengar naik satu oktaf.


Sontak saja Arsal dan Arash membisu, bergeming ... hening, berasa kayak ditegur sama Mommy Alya.


Almira pun mulai menyendok ice creamnya ke mulutnya, menikmati sensasi manisnya coklat, lembutnya ice cream, bikin perasaan hati meleleh. Sempurna rasanya batin Almira.


Arsal kembali menikmati buah potongnya, tapi tiba-tiba ponselnya berdering.


“Mira, aku tinggal sebentar ya, mau terima telepon dulu,” kata Arsal sembari menunjukkan ponselnya ke arah Almira.


“Oh iya Kak, silahkan,” jawab Almira.


Tinggallah kini Almira dengan Arash, hanya berduaan. Melihat hanya berdua saja pria bermata biru itu, memiringkan posisi duduknya dan mengikis jaraknya dengan gadis itu.


Cukup lama Arash menatap gadis yang masih menikmati ice creamnya, dan sabar mengatur degup jantungnya yang sedari tadi bergejolak, ingin berlarian.


 


bersambung ... Ayo Arash mau ngapain nih??


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2