Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Patah hati


__ADS_3

Wajah Daddy Erick tampak santai namun serius ketika ingin berbicara dengan anak temannya.


“Ingin bicara apa Daddy?” tanya Almira penuh rasa ingin tahu.


“Begini, sebenarnya Daddy ingin membicarakan tentang anak Daddy, Arash,” kata pria paruh baya itu sembari melihat reaksi Almira, gadis itu mencoba terlihat tidak kesal pada Daddy Erick.


“Daddy tahu jika Arash banyak kekurangan ketimbang kelebihannya, Daddy dan Mommy sebenarnya hampir putus asa untuk mencoba merubah sifat kerasnya Arash,” keluh Daddy Erick.


“Mommy sangat berharap kamu bisa menaklukkan sikap Arash untuk bisa berubah menjadi pria yang baik seperti dulu, tapi kami juga tidak bisa berharap banyak padamu karena kejadian tempo hari. Tapi kalau boleh Daddy memohon, bisakah Nak Almira memikirkan kembali, memberikan kesempatan kedua buat Arash, dan jika memang tidak bisa dirubah, kamu boleh meninggalkannya,” pinta Daddy Erick, nada suara pria paruh baya itu terdengar amat sangat memohon padanya.


Orang tua jika sudah memohon dengan memelas padanya, membuat hati gadis itu tersentuh, akan tetapi tetap hatinya penuh kebimbangan.


Almira mengalihkan tatapannya ke Papa Albert, berharap sang papa membantu memberikan sebuah gambaran.


“Papa dan Pak Erick tidak memaksa kok Nak, lagi pula kamu tidak harus memberikan jawabannya sekarang, bisa dipikir terlebih dahulu. Pak Erick hanya memberitahukannya saja,” kata Papa Albert, seraya tersenyum.


Gadir itu menganggukkan kepalanya paham. “Sebenarnya tadi Kak Arash ke sekolahku, Pah, Daddy,” tutur Almira.


Daddy Erick dan Papa Albert sama-sama mencondongkan punggungnya, raut wajahnya yang semula serius santai sekarang agak terkejut. “Ceritakan apa yang dilakukan oleh Arash,” pinta Daddy Erick.


Almira pun menceritakannya dari awal sampai akhirnya dia ditinggalkan begitu saja oleh Arash. Daddy Erick menghela napas dengan kasar dan meraup wajahnya dengan salah satu tangannya. “Benar-benar ya tuh anak, bisa-bisanya dia meninggalkan Almira begitu saja!” geram Daddy Erick sendiri. Almira hanya diam mendengarnya.  Pupus sudah harapan Daddy Erick meminta Almira memberikan kesempatan kedua untuk Arash, karena Arash berulah kembali.


“Baiklah kalau begitu Daddy menarik permintaan tadi, anggap saja Daddy tidak pernah membicarakannya, lupakan saja,” pinta Daddy Erick, dengan pasrahnya.


Almira hanya menganggukkan kepalanya pelan, tanpa menjawab.


...----------------...


Colosseum Jakarta.


Malam pun tiba, semenjak kejadian tadi siang, meninggalkan Almira begitu saja, Arash menghubungi sohibnya si Jack dan mengajaknya untuk bersenang-senang di club malam, tempat biasa mereka pesta pora jika menang balapan motor.

__ADS_1


Suara music DJ kali ini benar-benar menggelegar, menyemarak suasana malam ini. Arash dengan santainya menegak minuman laknat itu.


“Tumben lo berani minum lagi? Gak takut lo ama mommy lo?” tanya Jack.


Arash menatap para wanita yang meliukkan tubuhnya di lantai dansa, lalu tersenyum miring. “Gak peduli gue bakal dimarahinya, yang penting malam ini gue mau bersenang-senang dan melupakan semuanya. Malam ini gue nginap di rumah lo ya,” kata Arash.


“Ya terserah lo aja deh,” jawab Jack, lalu pria bermata sipit itu kembali menuangkan minuman laknat itu ke gelas kosong milik Arash.


“Cheers!” teriak Arash dan Jack sebelum menegak minuman itu.


Cukup lama Arash dan Jack berada di club malam, pria bermata biru itu sampai menghabiskan beberapa botol minuman haram itu.


“Emangnya lo aja wanita di dunia ini, masih banyak wanita yang demen ama gue! Gue benci sama lo Kunti!!” teriak Arash, pria itu sudah mulai ngelantur bicaranya efek kebanyakan minum.


Dengan matanya yang sudah kelihatan kayak orang mabuk ... eh memang lagi mabuk, dia menggoyangkan badan Jack. “Jack, gue tambah lagi dong minumnya,” rengek Arash, sambil menyodorkan gelas kosongnya.


Jack menepis tangan Arash, “Udah cukup Arash, lo udah kebanyakan minum nih. Mending kita pulang aja, udah jam 2 pagi,” sahut Jack berusaha memelekkan kedua matanya yang mulai terasa mengantuk.


Arash coba mengambil botol minuman di atas mejanya dan mencoba menuangi isinya ke dalam gelasnya. “Shitt! Pakai abis segala!” bentak Arash pada botol kosong tersebut, dan melemparnya begitu hingga terdengar suara pecahan.


Pria bermata biru itu hanya tersenyum lebar dan meraih pundak Jack agar bisa bangkit dari duduknya, dengan badan yang sempoyongan serta kepala yang mulai terasa pusing, dia merangkul bahu Jack agar bisa jalan menuju pintu club.


Tapi apa yang terjadi saat Arash keluar dari clubbing.


PLAK!


PLAK!


Mata Arash yang terlihat sendu, badan yang sudah sempoyongan, tiba-tiba saja dia terhenyak setelah mendapat tamparan keras di kedua pipinya. Jack langsung melepaskan rangkulan Arash, dan agak menjauh dari Arash.


“Hihihi ... kok ada orang mirip sama mommy dan daddy gue, Jack!” kata Arash terkekeh, kedua matanya tidak bisa membedakannya, karena pengaruh halusinasinya.

__ADS_1


Mommy  Alya dan Daddy Erick benar-benar dibuat emosi, geram oleh Arash, untung saja Daddy Erick menyebar anak buahnya untuk mencari keberadaan anaknya karena sejak jam 7 malam, setiap ditelepon tidak diangkat oleh Arash, dan setelah mendapat kabar Arash ada di Colosseum, mereka berdua langsung datang.


“Malam Om, Tante,” sapa Jack agak segan dan sedikit takut, karena keadaan Arash sedang mabuk.


Daddy Erick tidak membalas sapaan Jack hanya menatap kesal pada pria bermata sipit itu. “Bawa dia ke dalam mobil!” perintah Daddy Erick pada bodyguardnya.


Pria berseragam hitam itu menganggukkan kepalanya, dan langsung memegang bahu anak tuannya.


“Eeeh ... apa-apaan ini, gue mau nginap di rumah Jack,” kata Arash masih belum waras, kalau ada Mommy dan Daddy-nya, dan tubuhnya memberontak ketika dipaksa untuk ikut.


Wah bahaya nih Arash, lo kepergok sama mommy dan daddy lo, alamat masuk pesantren ... batin Jack.


...----------------...


Mansion Erick


Setibanya mereka semua di mansion, Daddy Erick meminta bodygourdnya untuk membawa anaknya ke kamar anaknya, lalu tak lama Daddy Erick menyusul ke kamar Arash, dengan kekuatan penuh Daddy Erick menyeret anaknya yang sudah berbaring dia atas ranjang ke kamar mandi, kemudian menyiram tubuh Arash dengan shower.


Arash gelagapan saat tubuhnya yang telah disiram oleh Daddy Erick. “Sadar, Arash! Mau jadi apa kamu ini bikin kecewa Daddy!” teriak Daddy Erick dengan emosinya yang meledak-ledak.


Arash di antara sadar dan tidak sadar menutup wajahnya agar tidak gelagapan dari siraman daddynya. Namun saat dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia berusaha mengenali pria paruh baya itu dari sela-sela jemarinya.


“Daddy,” gumamnya sendiri.


“Tidak usah panggil Daddy ... Daddy! Seberapa sering kamu mabuk-mabukan seperti ini, kamu benar-benar sudah menghancurkan hati mommy!” sahut Daddy Erick.


“Arash gak akan minum, kalau Almira gak nolak Arash. Dia gak suka sama Arash. Arash benar-benar pria brengsek!” teriak Arash mengeluarkan unek-unek hatinya.


“Daddy tahu rasanya, hati Arash sakit, sakit Daddy!” kembali berteriak kencang pria itu di dalam kamar mandi, sambil memukul-mukul dadanya begitu kencang, terlihat sangat frustasi.


Shower yang dipegang oleh Daddy Erick tiba-tiba saja terjatuh ke lantai, tubuh pria baya itu pun bersandar ke dinding sambil menghela napas panjang.

__ADS_1


Patah hati mampu membuat orang kehilangan akal sehatnya, bayangan masa lalu Daddy Erick pun mulai muncul, rasa sakit yang pernah dia rasakan saat ditinggal oleh Mommy Alya, memang sangat menyakitkan.


 bersambung ...


__ADS_2