Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Membujuk Almira


__ADS_3

Sebelum Arash berpamitan pulang, Papa Albert mengajak Arash untuk makan malam terlebih dahulu dan seperti biasa keluarga Albert shalat magrib berjamaah terlebih dahulu sebelum makan malam, untung saja pria itu tidak ada kendala lagi saat mengambil wudhu, tinggal kembali menghafalkan bacaan shalatnya.


Setelah selesai shalat berjamaah, kedua netra Arash melirik Almira yang tampak mengacuhkan dirinya, dengan sengaja pria itu bergegas mengejarnya yang sudah terlebih dahulu keluar dari musholla.


“Almira, kamu masih marah sama aku ya?” tanya Arash, ketika langkah kakinya sudah sejajar dengan langkah kaki gadis itu.


“Mmm ...,” gumam Almira pelan, tanpa menoleh ke samping.


Arash hanya bisa mendesah, mau bagaimana lagi kalau gadis kecilnya sedang mode marah. Tanpa bertanya lagi Arash mengikuti langkah kaki gadis itu, terkadang dengan sengaja tangan pria itu menyentuh jemari Almira, tapi sayangnya langsung ditepis nya.


Sabar Arash.


Mereka sudah berkumpul bersama di ruang makan, dan sudah tentu malam ini formasi duduknya agak berbeda, kali ini Arash berkesempatan duduk di sebelah Almira, walau Arash masih didiamkan oleh Almira paling tidak hatinya sudah senang berada di samping gadis itu.


Didalam heningnya Almira, dia melayani menyediakan dan menawarkan makanan untuk Arash tanpa suara, namun Arash bisa langsung memahaminya. Sikap Almira dan Arash juga terpantau oleh Mama Tania dan Papa Albert.


“Jika ada masalah, segera dituntaskan segera, jangan berlarut lama. Komunikasi itu lebih penting,” celetuk Papa Albert disela-sela mereka menikmati makan malam kepada Arash dan Almira.


Hampir saja Arash menyemburkan minuman yang sedang dia teguknya, ya walau akhirnya kerah bajunya agak basah. Pria itu langsung melirik Almira. “Iya Pah, nanti akan segera diselesaikan masalahnya,” jawab Arash, seakan membenarkan jika memang ada masalah dengan Almira.


Almira wajah mulai terlihat masam saat menyantap makan malam, sedangkan kakinya yang ada dibalik meja makan mulai berselancar.


BUG!


“AAWW!” jerit kaget Arash, sontak saja membuat orang yang ada diruang makan langsung menatap Arash.


“Arash, ada apa?” tanya Mama Tania.


“A-anu Mah, dengkul aku gak sengaja kepentok meja Mah,” jawab Arash berdusta, padahal yang sebenar Almira menginjak kakinya. Mama Tania melirik meja dan kedua pahanya, perasaan jaraknya jauh, kok bisa dengkul kepentok meja, tapi ya sudahlah pikir Mama Tania.


Ujung ekor Almira menajam ketika melirik Arash tanpa harus menolehkan wajahnya, Arash juga sedang menatap Almira, jadi ya saling main tatap-tatapan.


Tatap mata saya! Hihihi


“Beliin aja coklat ayam sama boneka kelinci warna putih, nanti marahnya juga bakal reda sendiri kok, Kak Arash. Kalau bisa malam ini belinya, biar hatinya luluh, percaya deh kata aku,” timpal Alvin, yang tahu jika Almira lagi mode marah sama Arash.


Kedua netra Almira membulat saat Alvin berkata-kata, si kembar Almira hanya menjulurkan lidahnya seperti meledek gadis itu.

__ADS_1


Arash tampak tersenyum sembringah setelah dapat poin cara meluluhkan Almira, pria itu bergegas menghabiskan sisa makanannya.


“Mah, Pah, aku pamit keluar sebentar. Nanti balik lagi ke sini,” ucap Arash sebelum bangkit dari duduknya. Almira hanya bisa melongo jika beneran si Arash mengikuti saran dari Alvin.


Setelah dapat permisi, Arash bergegas keluar mansion dan menuju mobil, tanpa berpamitan dengan Almira terlebih dahulu, memang sengaja.


“Apa-apaan sih Kak Alvin tadi bilang kayak begitu sama Kak Arash!” gerundel Almira, sambil menyudahi makan malamnya.


“Biar kamu tuh jangan lama-lama marahnya, yang ada nanti aku sama Alvan yang kena getahnya, lagian kalau beneran dibeliin kan lumayan aku kebagian coklatnya, kamu dapat bonekanya biar tambah rame tuh koleksi boneka kelinci kamu di kamar,” cicit Alvin, Alvan yang mendengar kata Alvin jadi menaikkan salah satu alisnya. Kenapa nama aku yang dibawa-bawa, dasar Alvin,” batin Alvan yang tidak terima.


“Sudah-sudah kenapa jadi ribut di meja makan!” tegur Mama Tania, kalau tidak cepat ditengahi nanti Almira bisa mengeluarkan tongkat ajaibnya lagi.


“Ini gara-gara Kak Alvin duluan Mah,” rengek Almira.


“Iiih orang kamu yang lagi gambek sama Kak Arash, kok aku yang disalahin sih!” balas Alvin tak terima.


Almira mendesis panjang bak ular, gadis itu berdiri dari duduknya dan merapikan piring bekas makan dia dan bekas Arash, memilih untuk tidak berdebat kusir sama kakaknya yang jago debat di sekolah, nanti ujung-ujungnya Almira yang mewek sendiri.


Papa Albert hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah laku anak-anaknya, kadang tenang, kadang musuhnya minta ampun, tapi mereka bertiga harta yang berharga buat Papa Albert.


...----------------...


TOK ... TOK ... TOK


Pintu kamar Almira ada yang mengetuk. “Ya tunggu sebentar,” sahut Almira dari dalam kamar. Gadis itu sedang membaca bukunya di atas ranjang, bergegas turun untuk membuka pintu kamarnya.


“Ck ... mau apalagi!” ketus Almira saat melihat siapa yang menyandar di sisi pintu kamarnya.


“Cepetan turun ke bawah, calon suami sudah menunggu tuh,” jawab Alvin dengan tersenyum lebar.


Almira berdecak sebal. “Ck ... kenapa pakai balik lagi sih, emangnya gak bisa besok apa,” gerutu nya, tapi langkah kakinya mulai keluar dari kamarnya.


“Lah memangnya kamu gak ingat kalau Kak Arash bilang bakal balik lagi,” sahut Alvin masih tersenyum lebar sambil melirik bawaan yang dia pegang, sayangnya Almira tidak engah.


Dengan menyeret langkah kakinya yang mulai berat namun terpaksa harus dia temui jua.


“What the hell!” Kedua bola mata cantik Almira seketika membulat, melihat sebuah benda yang sedang digendong oleh Arash bagaikan anak umur sepuluh tahun yang ada di gendongan pria itu.

__ADS_1


Warnanya putih bersih, kedua bola matanya terlihat bulu matanya sangat lentik, lalu ditangannya pegang wortel. Ah Almira jadi melting melihat yang sedang digendong Arash, karena dia belum punya yang kaya begitu.


Akan tetapi Almira tampak ragu-ragu untuk mendekati Arash yang sudah menunggunya di ruang tengah.


“Udah jangan malu-malu, ayo deketin Kak Arashnya,” seloroh Alvin, yang mulai membuka bungkusan coklat berbentuk bulat, lalu memasuki ke dalam mulutnya dengan tatapan penuh kenikmatan. Haduh sih Alvin, ternyata dia dibeliin coklat sama Arash, coklat yang mahal pula. Eh gak dibeliin sih tapi punya Almira diserobot sama Alvin. Nikmat tiada tara buat Alvin si penggemar coklat.


Almira tidak munafik kalau dia sangat suka apa yang kini sedang digendong sama Arash, karena makhluk berkuping panjang itu, makhluk kesayangannya dia. Dan dia juga memeliharanya di kebun belakang mansion.


Melihat Almira tidak juga mendekati dirinya, Arash memilih mendekati gadis itu.


“Almira, aku minta maaf ya kalau saat di mobil ada kata yang membuat hatimu tidak nyaman, aku hanya berusaha berkata jujur padamu, walau aku tahu hal itu membuat kamu tidak nyaman menerima kebenaran itu,” tutur Arash begitu lembutnya.


Almira hanya bisa menundukkan kepalanya, menatap lantai marmernya.


Arash meraih tangan Almira lalu menyodorkan boneka kelinci itu pada gadis itu. “Maafin aku ya, sayang,” pinta Arash kembali, dengan tatapannya memohon belas kasihan.


Ya gak salah Bang Wowo sih berkata jujur, tapi tetap saja namanya hati wanita ada rasa tidak mau menerima kenyataan pahit itu.


“Sayang, please.”


Almira malu tapi mau mulai menyentuh benda berbulu putih itu, lalu menerimanya dari tangan pria itu, kemudian mendekap nya.


“Aku gak marah, cuma rasanya gak enak dihati waktu dengannya,” ucap Almira pelan.


“Sayang, tetap aja aku melihat sikap kamu kayak orang marah ke aku kok. Kita baikkan ya sekarang, jangan marah lagi,” bujuk rayu Arash.


Gadis itu mengangguk pelan, Arash pun hatinya lega. “Semoga kamu suka ya boneka nya, aku bingung waktu belinya.”


“Aku suka kok boneka nya,” jawab Almira, sekarang sudah mulai tersenyum manis.


“Tapi ...,” Arash melirik Alvin yang masih saja santai mengunyah coklat di tempat duduknya. “Coklat buat kamu dibagi dua sama Alvin, buat bayar pajak nya,” lanjut kata Arash.


Almira hanya bisa mendengus kesal. “Emang begitu kerjaan Kak Alvin, gak bisa lihat coklat,” celetuk Almira, Alvin yang ditatap oleh Almira dan Arash hanya bisa nyengir kuda menunjukkan giginya sudah dipenuhi dengan coklat.


Bersambung ...


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komen dan lain-lainnya, yang masih punya VOTE mau dong buat Almira dan Arash, makasih sebelumnya.

__ADS_1



__ADS_2