Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Ampun sayang!


__ADS_3

Benar saja Almira meneteskan air matanya setelah menyelesaikan sholat shubuh bersama Arash dan Alvin, walau bacaan surat pendek saat Arash menjadi imam, tapi hal itu sudah sangat menyentuh perasaan Almira paling dalam.


Arash sebagai salah satu mahasiswa yang cerdas memang sangat mudah jika urusan menghapal apapun, tinggal memperhatikan tanda baca jika membaca Al Qur'an. Sekarang Arash membantu melepaskan mukena dari kepalanya Almira.


“Sayang, kok malah nangis? Kamu sakit lagi kepalanya, aku panggil kan dokter ya,” kata Arash mulai terlihat panik, dan terlihat ingin keluar dari ruangan.


Almira menarik lengan Arash. “Gak usah di panggil Kak, aku gak kenapa-napa kok, hanya kelilipan debu mataku ini,” kata Almira sedikit berbohong.


Jemari Arah mengusap pipi Almira yang mulai basah itu. “Jangan berbohong padaku kalau kamu terasa sakit, tolong bilang sama aku ya,” balas Arash.


Alvin yang baru merapikan sajadah mereka bertiga, menghampiri mereka berdua yang duduk di atas ranjang. “Kak Arash ini gak peka banget sih, Mira itu nangis karena terharu melihat Kak Arash jadi imam sholat, secara Kak Arash itu kan badboy banget, eeeh tiba-tiba menjelma jadi goodboy, tapi aku juga terharu kok Kak,” sambung Alvin dengan ber pura-pura ikutan menangis terharu mengikuti Almira.


BUG!


“AAAWW!” teriak Alvin setelah kena lembaran bantal dari Almira yang terlihat kesal.


“Apaan sih Kak Alvin!” kesal Almira melihat Alvin mengolok-olok dirinya.


Pria bermata biru itu ikutan terkekeh melihat Alvin menggoda saudara kembarnya. “Sudah Alvin jangan godaain Mira terus, nanti dia kepalanya kembali sakit lagi,” pinta Arash, menghentikan mereka berdua.


“Mending beli makanan di bawah gih, Vin,” lanjut kata Arash.


Mendengar kata makanan, mata jernih Alvin semakin terang benderang dan seperti biasa kantong calon iparnya bakal dikuras sama Alvin, hitung-hitung uang sakunya selama dua hari utuh, bisa buat jajan besok lagi.


“Kak Arash mau dibelikan makanan apa?” tanya Alvin setelah menerima uang dari Arash.


“Apa aja yang ada di cafe bawah Vin, eeh sayang mau dibeli in apa?” tanya Arash pada Almira.


“Aku mau crosaint sandwich smoke beef, sama hazelnut milk pakai red bean ya Kak Alvin,” pinta Almira.


“Oke asiap, aku siap meluncur ke bawah. Tapi ingat ya Kak Arash selama aku ke bawah jangan ada adegan messum! Dilarang keras, belum jadi muhrimnya! Kalau ada adegan messum aku aduiin sama Papa dan mama!” ancam Alvin sebelum dia meninggalkan ruang rawat.


Arash menepuk keningnya sendiri. “Ya ampun Alvin, adegan messum dari mana, paling cuma kecup pipi aja, sedikit aja,” sahut Arash sembari terkekeh kecil, tinggal Almira lah melototi Arash.


“Eeh gak jadi deh, nanti malah diblacklist jadi calon suami,” ralat Arash, setelah melihat wajah Almira terlihat garang.


“Bagus,” jawab Alvin sembari menunjukkan jempol tangannya pada Arash.

__ADS_1


Pria bermata biru itu nyengir kuda sekaligus tergidik melihat Almira sudah terlihat jutek di tambah sedikit marah. “Sayang, jangan marah dong ... aku kan cuma bercanda sayang, tapi kalau dibolehin sedikit aku gak nolak kok,” rayu Arash agak memohon sembari menunjukkan wajah memelasnya pada Almira.


“AAWW ... sakit sayang!!” teriak Arash sembari berjingkat dari duduknya setelah pahanya kena cubitan pedas dari Almira.


“Kak Arash mau ya diblacklist jadi calon suami,” geregetan Almira sama Arash, hingga tak henti-hentinya cubit paha Arash.


 “Ampun sayang ... sakit paha aku,” rengek Arash, tapi pria itu tersenyum bahagia apalagi di saat raut wajah Almira sangat ngregetan dengan dirinya.


Awal yang indah di hari Senin pagi untuk Arash dan Almira.


...----------------...


Di tempat yang berbeda, Puncak Bogor.


Pipi Ana sebelah kanannya memerah, wanita berhijab itu pun menangis sesenggukan setelah mendapat tamparan dari Deddy papanya.


Pria paruh baya itu sangat murka pada anaknya, dia semalam telah dihubungi oleh pengacara Albert mengenai kasus Almira, sungguh syok Deddy saat menerima kabar tersebut, kebetulan semalam Deddy ada di Bandung dan langsung berangkat ke Puncak untuk mengurus Ana.


“Kamu ternyata sama saja dengan kakak kamu Sherina! Papa tidak habis pikir dengan kamu, pikiran kamu kemana Ana!” sentak Deddy dengan murkanya.


Pria paruh baya itu mengusap wajahnya dengan kasar, dia tidak habis pikir harus kembali berurusan dengan pihak kepolisian setelah beberapa bulan yang lalu dia ber urusan dengan kepolisian mengurus kasus Sherina.


Deddy berdecak kesal. “Papa tidak peduli dengan alasan mu Ana! Yang jelas kamu telah melakukan hal yang sangat fatal atas bisnis Papa selama sepuluh tahun ini! Kamu tahu sedang berurusan dengan siapa ... Huh!” ucap Deddy dengan lantang serta emosi menjadi satu.


Ana hanya menggelengkan kepalanya, dan masih terisak menangis.


“Kamu tahu Ana! Kamu telah berhadapan dengan anak investor terbesar bisnis Papa, dan baru saja beliau akan menarik semua investasinya, dan saat ini bisnis Papa hancur seketika karena kesalahan kamu dengan teman kamu yang begitu bodohnya, Ana!” murka sudah Deddy, membabi buta pada wanita berhijab itu.


Tubuh Ana gemetaran, terlihat dari kedua tangannya yang bergetar hebat, dia pikir papanya Almira hanya pemilik perusahaan besar, ternyata papanya Almira ada hubungannya dengan bisnis papanya sendiri. Investor terbesar bisnis Deddy, hilanglah semua kemewahan yang dia rasakan dalam hitungan jam, bukan lagi hitungan hari.


“Dasar anak bodoh, kamu tidak beda jauh dengan kakak kamu!” maki Deddy masih emosi dengan Ana.


Ana menundukkan wajahnya, dia tak mampu lagi melihat wajah papanya yang masih murka padanya, napasnya juga mulai tersengal-sengal karena isak tangisnya yang tak mau berhenti. Percuma juga menangis karena keadaan tidak akan berubah karena Papa Albert tipe pengusaha yang keras apalagi jika anaknya terluka, pasti dia akan memberikan pelajaran yang tidak main-main


Tamatlah riwayat bisnis keluarga Deddy hari itu juga!


“Aaarghh!!” teriak frustasi Deddy di kantor polisi.

__ADS_1


...----------------...


Kembali ke rumah sakit.


Arash masih meringis kesakitan sembari mengusap pahanya yang habis jadi sasaran Almira, sedangkan Almira sedari tadi menertawakan Arash yang sedari tadi mengadu-ngadu, rasanya hatinya sangat puas.


Alvin yang sedang menyantap sandwichnya jadi terheran-heran melihat mereka berdua.


“Kak Arash dimakan dulu sarapannya, perasaan dari tadi kayak orang kesakitan aja, terus yang ini dari tadi ketawa terus,” kata Alvin, salah satu tangannya menyodorkan kotak makan ke Arash.


“Paha aku sakit Vin, kayaknya bakal memar deh,” keluh Arash.


“Sakit ... memangnya habis ngapain?” tanya Alvin dengan mulut penuhnya.


“Tuh ... calon istriku galak banget, habis cubit pahaku,” keluh Arash sambil mendesah.


Wajah Alvin seperti ikutan ngerasain ngilu. “Akhirnya Kak Arash ngerasain dicubit Almira juga, cubitannya itu udah kayak digigit pakai gigi, rasanya begitu perih,” ungkap Alvin dengan kata-kata hiperbolanya.


“Ho’oh sangat sakit dan untungnya aku cinta, kalau gak cinta rasanya pengen cubit juga,” jawab Arash sambil menganggukkan kepalanya.


Kedua netra Almira kembali membulat. “What! Kak Arash mau balas cubit aku?” tanya Almira dengan menaikkan kedua alisnya.


Arash hanya bisa nyengir kuda lalu dia merapatkan kedua pahanya kemudian menutupi dengan kedua tangannya. “Ampun sayang, gak lagi ... yang ini masih sakit,” rengek Arash.


Almira pun tersenyum jahat pada Arash.


 


bersambung ...


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2