Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Terluka


__ADS_3

Kepala Almira bagian belakangnya terasa amat sakit setelah terdengar suara timpukan yang begitu keras bunyinya, untung saja tangannya masih digenggam oleh Arash.


“K-Kak Arash.”


“Almira!” seru Arash terkejut.


Apalagi pria itu melihat batu dengan ukuran bola kasti terjatuh di tanah. Arash langsung memeluk Almira yang sudah tak sadarkan dirinya.


“SIAPA YANG SUDAH MELEMPAR BATU ... HAH!” teriak Arash kesetanan.


Dari kejauhan Prima sudah mengumpat di balik salah satu pondok dengan napas yang tersengal-sengal. Hampir saja ketahuan, batin Prima.


Ana yang jelas melihat kejadian penimpukan itu pura-pura tidak tahu, dan untuk saja tidak banyak orang yang lalu lalang.


“Haduh, kenapa Kak Arash, ada apa!” seru Ana menunjukkan rasa cemasnya dan perhatiannya, namun sayangnya Arash tak butuh perhatiannya. Tapi rupanya gelagat Ana seperti ingin mencari simpati Arash. “Sebaiknya dibawa ke kamar dulu Kak, jangan dipeluk aja,” pinta Ana, terdengar ada nada tidak sukanya melihat adegan peluk itu.


Kedua netra Arash masih memindai ke semua penjuru arah, ingin tahu siapa yang telah berani menimpuk Almira dari belakang, walau dia masih memeluk Almira yang sudah tak sadarkan diri.


Di kepala bagian belakang Almira sudah mengeluarkan darah. “Sabar ya sayang, kita ke rumah sakit ya,” gumam pria itu sendiri, lalu dia membopong Almira seorang diri. Pria itu membawa Almira ke area menuju masjid. Ana ikutan berlarian mendampingi Arash, layaknya teman akrab.


Beberapa orang sebagai panitia bergegas berlarian melihat Arash membopong Almira. “Ada apa ini Mas,” tanya salah satu pria berbaju koko putih.


“Tolong antar kan saya ke rumah sakit, calon istri saya kena timpukan batu,” pinta Arash kepada salah satu pria yang mendekatinya.


“Oh ... Iya Mas, akan saya antar,” jawab pria itu dengan sigap, sembari koordinasi dengan panitia lainnya.


Ana juga terlihat sok sibuk meminta kain untuk menghentikan darah yang keluar dari kepala Almira, setelah itu dia masih mengekori Arash.


Setibanya di parkiran mobil, Arash masih membopong Almira, dan dia masuk ke dalam mobil tetap dalam keadaan membawa Almira lalu dipangkunya, karena tidak memungkinkan untuk digeletakkan begitu saja.


“Saya ikut ke rumah sakit, gak mungkin pria yang mengurusi wanita yang bukan muhrimnya,” kata Ana, sambil masuk begitu saja.

__ADS_1


Panitia yang membawa mobil hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Arash mengacuhkan wanita berhijab itu, lalu dia fokus melihat wajah Almira yang dia pangku. “Sabar ya sayang, kita segera ke rumah sakit,” gumam Arash kembali, sembari mengusap wajah Almira, yang kini bersandar di bahu lebarnya.


Ana yang melihat mendesah pelan. Siapa yang nyuruh kamu ikut Ana! Gak usah sok cemburu begitulah.


Tiga puluh menit kemudian, mobil yang membawa Almira sudah sampai di rumah sakit, Almira pun langsung dilarikan ke IGD.


“Alvin, aku ada di rumah sakit sekarang ... Almira dibawa ke rumah sakit ada sedikit accident di villa. Aku minta rapikan semua barang kita, juga bilang ke Siti untuk merapikan barang miliknya dan milik Mira. Kunci mobilku ada di atas nakas, kalau kamu bisa bawa mobil, ajak Siti ke sini segera,” pinta Arash dalam sambung telepon nya.


Alvin yang masih ada di villa terkejut setelah menerima panggilan telepon dari Arash, apalagi mengenai saudara kembarnya. “Baik Kak Arash, aku bisa bawa mobil.” Tanpa banyak bertanya lagi Alvin menjalankan semua perintah Arash, setelah merapikan barang miliknya dan milik Arash, dia buru-buru menghampiri Siti memberitahukan pesan Arash.


Kembali ke rumah sakit.


Arash masih menunggu Almira di ruang tunggu, tak lama Ana yang ikut datang ke rumah sakit membawa cup minuman.


“Kak Arash, ini ada teh hangat buat hangatin badan,” ucap Ana, dia menyodorkan cup gelas yang masih mengeluarkan asap karena masih panas.


“Terima kasih, buat kamu saja,” tolak Arash, tidak mau menerima minuman itu.


“Kasih saja buat yang lain,” celetuk Arash.


Perhatian Ana buat Arash ternyata sia-sia, dengan terpaksa dia memberikan cup teh itu ke pria yang mengantarkan mereka, lalu dia duduk di samping Arash kemudian menikmati sesapan teh hangat itu dengan anggunnya.


Panitia yang mengantar ke rumah sakit mendekati Arash.


“Kalau boleh saya tahu kronologinya bagaimana ya, kok bisa mbaknya di timpuk sama batu?” tanya pria itu.


Arash pun menceritakan seadanya, karena kejadiannya begitu cepat, dan memberitahukan posisi kejadiannya. Tapi sayangnya kejadian tersebut tidak bisa diselidiki, karena tidak ada cctv, dan orang pun hanya yang lewat saja, kecuali Ana.


Arash menatap penuh tanda tanya dengan Ana. “Benarkah, kamu tidak melihat siapa yang melempar batu itu ke Almira, karena yang jelas saat itu masih ada kamu selain saya dengan Almira?” tanya Arash, suara baritonnya terdengar tegas.


“Demi Allah, saya benar-benar tidak melihat siapa yang melemparkan batu, kalau saya melihat pasti sudah mengejarnya. Lagian kurang kerjaan sekali yang melempar batu tersebut, atau jangan-jangan hantu yang melempar nya,” jawab dusta Ana, ekspresi wajahnya sangat mendukung jika dia memang tidak tahu.

__ADS_1


Pria bermata biru itu mendengkus kecewa, dan mengalihkan pandangannya ke panitia itu.


“Mungkin nanti saya sama panitia lain akan coba menghimbau siapa yang melakukan pelemparan batu itu pada kajian pagi ini,” ucap pria berbaju koko itu.


“Orang yang melakukan kejahatan baik disengaja ataupun tidak disengaja, pasti tidak akan mengakui nya Mas. Apalagi batunya sebesar bola kasti, saya hanya titip pesan tolong doakan calon istri saya tidak mengalami luka berat, jangan sampai gegar otak atau sampai hilang ingatan. Jika sampai seperti itu terjadi mungkin akan saya tindak lanjuti kasus ini, dan yang membuat saya semakin merasa aneh ... ini acara pengajian tadabbur alam, calon istri saya hanya mengenal beberapa orang saja hanya dari majelisnya ... apa mungkin Almira punya musuh, sedangkan dengan yang lainnya baru pertama kali bertemu kan?” cecar Arash, otak sedari tadi berpikir keras.


Pria itu hanya mangut-mangut, paham dengan perkataan Arash. Sedangkan Ana terlihat tenang, karena bukan dia pelakunya.


Untung saja tidak ada cctv, paling tidak kasus ini tidak akan di usut. Mau berat atau kecil lukanya, ya sudah takdirnya, batin Ana.


“Kalau begitu Mas bisa kembali ke villa dengan Ana, soalnya saya sudah menghubungi keluarga saya untuk datang ke sini, jadi sebelumnya terima kasih, dan semoga di sana ada yang mau mengakui kejahilannya, sebelum dapat balasan yang sama dari Allah,” pinta Arash, mempersilahkan pria tersebut, sekaligus mengusir Ana.


“Sebelumnya saya selaku salah satu panitia mohon maaf atas ke tidak nyaman ini nanti akan saya sampaikan kepada yang lainnya, kalau begitu saya pamit dulu Mas,” jawab pria itu.


“Mari Mbak, kita kembali ke villa,” ajak pria itu.


Ana masih tampak diam dalam duduknya. “Saya baiknya nanti saja Mas, kasihan Kak Arash tidak ada yang menemani,” jawab Ana menolak untuk balik ke villa.


Kedua netra Arash menajam. “Ana, tidak perlu beralasan ingin menemani saya di sini, keluarga saya yang ada di villa akan menyusul kesini, lagi pula di sini ada orang. Dan perlu kamu ketahui Ana, saya amat menghargai calon istri saya, dan saya tidak mau terjadi salah paham kembali dengan calon istri saya. Jadi sebaiknya silahkan kembali ke villa!” ucap Arash dengan tegasnya.


Tenggorokan Ana terasa tercekat mendengar kata Arash yang jelas-jelas tidak menghargainya, apalagi di depan orang lain, bukannya memerah karena menahan rasa malunya.


Ana yang selama ini di agung-agungkan oleh para pria karena kesahajaannya serta kecantikannya, kali ini dirinya dibuat jungkir balik oleh Arash demi menjaga hati Almira.


Sehebat apa Almira itu, sampai Kak Arash begitu menghargainya! Aku harus cepat tahu tentang Almira!


 bersambung ...


 


 

__ADS_1


__ADS_2