
Semua sudah berakhirkah? Kepalan tangan Arash begitu kuatnya, hingga buku kukunya yang awalnya memerah lambat laun memutih. Ternyata tidak semudah dan segampang keinginannya terkabul begitu saja. Pria bermata biru itu tak bisa mengejar Almira yang telah berpamitan meninggalkan ruang VIP, dia kembali duduk dan mendengar pembicaraan keluarga kedua belah pihak, yang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri ikatannya dengan Almira. Andaikan Arash dan Almira semalam menikah, mungkin pernikahan mereka berdua jadi yang paling muda usia bertahan hanya dalam hitungan jam saja, bukan lagi hari ataupun bulan.
Keputusan kedua keluarga membuat Arash meradang, dengan menunjukkan emosinya dia menolak keputusan itu, lalu dia pergi meninggalkan restoran begitu saja.
Kedua orang tua Almira dan orang tua Arash dibuat tercenung melihat sikap arogan Arash, yang bersikukuh pada penolakan dan masih teguh dengan pendiriannya. Perhiasan yang dikembali oleh Mama Tania, pria itu meminta mommy Alya untuk tidak menerimanya.
“Aku akan berjuang mengambil hati Almira!” kata Arash sebelum meninggalkan ruangan VIP.
Sepeninggalnya Arash, kedua orang tua dari Arash dan Almira berembuk kembali, sejenak ada senyuman tipis yang mengulas di bibir wanita paruh baya itu.
...----------------...
Esok hari
Mansion Erick
Waktu masih menunjukkan jam 9 pagi, namun Jack sudah bertamu di kediaman Arash, kebetulan mereka tidak ada materi kuliah di hari Senin.
“Gila lo! Pacar lo lagi nginap di kantor polisi tuh!” tegur Jack, suaranya meninggi. Saat ini Arash menjamu Jack di ruang tengah, pria itu memutar malas kedua bola matanya pada sohibnya.
“Oh jadi lo datang pagi-pagi ke sini, buat kasih tahu ke gue kalau Sherina ada di sana!” celetuk Arash, dengan santainya membalas.
Jack yang semulanya berdiri dengan berkacak pinggang, pria itu sekarang duduk lalu meraih minuman yang disajikan oleh maid.
“Aneh lo bukannya terkejut dapat berita tentang pacar lo nginap di prodeo, malah kelihatan nyantai begini,” jawab Jack, agak kesal melihat Arash.
Arash tersenyum miring, kemudian menarik punggungnya dari sandaran sofa. “Oh jadi gue harus terkejut! Lo kayaknya belum tahu penyebab Sherina ada di sana'kan?”
__ADS_1
Jack tampak berpikir. “Iya gue gak tahu, yang jelas tadi pagi gue dapat telepon dari dia minta ajak lo nemuiin dia di kantor polisi. Dia nangis-nangis bilang saat ini sedang ditahan di sana,” jawab Jack apa adanya.
Mendengar hal itu, Arash pun bercerita mengenai dirinya dengan Almira mulai dari kejadian lamaran serta kejadian dengan Sherina. Jack benar-benar terkejut dengan cerita yang baru dia dengar.
“Jadi lo udah putusin Sherina, dan Sherina hampir menghilangkan nyawa Almira?” tanya Jack, dengan gugupnya, masih tak percaya. "Dan satu lagi lo ngelamar si Kunti ... si Almira itu, cewek SMU itu!"
“Iya, semua bukti ada, dan mommy gue yang ngelaporin ke pihak berwajib, dan gue gak bisa ikut campur, karena nyawa calon istri gue hampir hilang! Almira calon istri gue!" jawab Arash, penuh penekanan saat kalimat terakhir.
Jack mendesah. “Sherina kayak begitu, juga karena lo Arash! Lo sama Sherina masih pacaran, tapi lo malah ngelamar orang lain. Ya sakit hatilah si Sherina!” tegur Jack, gak habis pikir.
Pria bermata biru itu memalingkan tatapannya dari Jack, kemudian kembali menyandarkan punggungnya ke sofa. “Sudahlah gue lagi malas ngebahas Sherina, kalau lo mau tengok dia, tengok sendiri aja, gue gak ikut, ada urusan yang lebih penting dari dia,” jawab Arash.
“Lo emang gak punya hati, pacaran udah tiga tahun, eeh malah berakhir yang gak enak, pakai menduakan Sherina!” gerutu Jack.
Lagi pula Jack juga malas tengok Sherina jika tidak ada Arash, buat apa!
“Sekali lagi kamu berulah, Papa tidak akan membantumu keluar dari penjara Sherina. Cukup kelakuan kamu membuat Papa malu!” gertak Deddy.
Ini bukan sekali Sherina menginap di hotel prodeo, waktu wanita itu masih duduk dibangku SMU dia juga hampir mencelakakan temannya karena seorang pria, akhirnya berujung menginap di hotel prodeo dalam waktu beberapa hari.
Sherina tampak masam menatap wajah papanya. “Selalu saja pilih kasih, giliran aku selalu saja dibentak kalau berbuat salah, giliran anak yang lain di sayang-sayang!” balas Sherina sambil lalu, meninggalkan Deddy.
Deddy hanya bisa menatap nanar saat putri bungsunya berlalu darinya, dia menyadari jika sikapnya dengan Sherina berbeda dengan anak yang lain, karena dia meragukan Sherina sebagai anak kandungnya, karena istrinya pernah selingkuh sebelum ketahuan hamil lagi.
Aku akan merebut Arash kembali, dia harus putus dengan bocah itu! Geram batin Sherina.
...----------------...
__ADS_1
Menjelang siang hari, mobil milik Arash sudah terparkir dengan rapi di salah satu sudut dekat gerbang sekolah SMU INTERNATIONAL. Inikah urusan penting Arash yang dia katakan kepada Jack? Ya ... betul sekali.
Pria itu dengan pakaian santainya, keluar dari mobilnya, kemudian bersandar pada mobilnya, kedua netranya pun mulai sibuk memperhatikan siswa yang mulai keluar dari gerbang.
Hari ini kebetulan Almira sudah mulai masuk sekolah seperti biasa, saat ini dia dengan Siti dan Tia sama-sama jalan beriringan menuju keluar gerbang sekolahnya.
Tiba-tiba saja Tia menyolek pinggang Almira. “Al ... ada cowok yang tempo hari cariin kamu tuh,” kata Tia sambil menunjukkan ke arah Arash.
Almira dan Siti sama-sama menoleh. “Ck ... dia lagi!” gerutu Almira, untung saja Arash tidak melihat mereka bertiga.
“Ayo Siti cepetan jalan, nanti dia malah lihat ke sini,” pinta Almira menarik lengan Siti, Tia nampak heran.
Arash yang awalnya tidak engeh, akhirnya sadar gadis yang ditunggunya sudah berbelok ke arah yang berlawanan, pria itu bergegas mengejarnya.
“ALMIRA!” suara baritonnya terdengar memanggil gadis itu dengan nada naik satu oktaf agar terdengar jelas oleh Almira. Tapi sayangnya Almira pura-pura tidak mendengarnya, justru semakin dipercepat langkah kakinya, setengah berlarian.
Siti melepaskan tangannya dari lengan Almira, napas dia sudah ngos-ngosan ngikuti jalan Almira yang begitu cepat. Sesaat Almira menengok ke belakang, lalu kembali menatap ke depan kemudian tancap gas ... Lari ...
“Astaga, Almira!” teriak Arash melihat gadis itu malah lari, Arash pun turut berlari mengejar Almira.
Akanku kejar dirimu Almira, walau harus ke ujung dunia.
Bersambung ...
__ADS_1