
Mommy Alya mulai menyamankan posisi duduknya sebelum melanjutkan pembicaraan antara dua keluarga, kemudian wanita paruh baya itu menggeser piring bekas makannya, lalu menaruh kedua tangannya di atas meja makan.
“Pak Albert dan Bu Tania.” Saat ini Mommy Alya bersikap formal pada rekan bisnisnya, padahal sejatinya kedua ibu itu adalah teman akrab hampir mengenal lima belas tahun lamanya, namun kali ini keadaan agak sedikit berbeda.
“Setelah apa yang telah di sampaikan oleh suami saya. Saya benar-benar minta maaf atas tingkah laku anak saya, dan saya sangat memahami kejadian semalam pasti akan amat menyakitkan hati Almira. Maka dari itu saya dan suami, mengembalikan keputusan tentang lamaran anak saya kepada anak Bapak dan Ibu. Jika hubungan tersebut tidak dapat dilanjutkan, kami akan menerimanya dengan lapang dada, karena saya juga merasa anak saya Arash tidak pantas bersanding dengan Almira,” tutur Mommy Alya, sangat lembut namun terlihat tegas.
Arash melepaskan alat makannya dari kedua tangannya. Degup jantungnya kembali berlarian, hatinya mulai terasa sakit mendengar perkataan Mommy Alya.
Tidak ... gue gak mau lamaran semalam dibakalkan. Ya ampun kenapa jadi sekacau ini! Batin Arash mulai galau.
Sebenarnya hati kecil Mommy Alya tidak ingin lamaran semalam berakhir begitu saja, ingin tetap berjalan hingga jenjang pernikahan. Namun, karena kesalahan ada di anaknya maka tidak bisa dipaksakan untuk dilanjutkan, lagi pula sesama wanita mommy Alya bisa merasakan sakitnya dituding sebagai pelakor.
Arash menatap nanar gadis yang ada di hadapannya, sayangnya Almira sedang menoleh ke samping menatap kedua orang tuanya. Tatapan Arash yang berawal melihat wajah gadis itu, kemudian turun melihat tangannya terutama jari manisnya. Saat itu juga tangan Arash meremat kain serbetnya sekuat tangannya, sakit melihatnya!
Mama Tania meletakkan kotak perhiasan berwarna biru navy di tengah-tengah meja makan. “Saya dan suami sebagai orang tua Almira, sudah berunding dengan Almira. Sebagai orang tua, kami menginginkan yang terbaik buat Almira, tapi kami juga harus mendengarkan perasaannya dan menghargainya. Maka dari itu kami mewakilkan Almira, jika lamaran semalam tidak bisa kami lanjutkan ke jenjang selanjutnya. Perhiasan sebagai tanda lamaran semalam, kami kembalikan kepada Bu Alya dan Pak Erick, semoga keputusan kami sekeluarga bisa diterima, tanpa mengurangi jalinan silaturahmi kita selama ini,” jawab Mama Tania dengan tenangnya.
PRANGG!!!
Gelas yang berada di sisi tangan Arash jatuh begitu saja ke lantai. Semua mata langsung memandang ke arah Arash.
Wajah pria itu mulai merah merona menahan semua gejolak yang ada didadanya, mau marah, mau sedih sudah menjadi satu kesatuan di hatinya.
“Apakah aku tidak pantas untuk diberikan kesempatan? Apakah aku tidak pantas untuk memperbaiki semuanya. Aku tahu ... aku salah sudah memiliki seorang pacar dan belum memutusinya! Begitu burukkah aku di depan matamu Almira, hingga kamu memutuskan sendiri, kenapa kamu tidak rundingkan dengan aku dulu,” kata Arash terdengar menggebu-ngebu, matanya tertuju pada gadis yang ada di hadapannya. Kata yang diucapkannya juga untuk Almira seorang.
__ADS_1
Seumur hidupnya baru kali ini hatinya terasa sakit mendapatkan penolakan atas dirinya, walau tahu banyak alasan kenapa dia di tolak oleh Almira.
Arash melipat bibirnya, menahan diri agar rasa yang dihatinya tidak meledak-ledak, karena sejatinya jiwa Arash tidak suka dengan penolakan.
Almira yang semula memalingkan wajahnya, akhirnya menatap wajah pria itu.
“Benarkah aku begitu buruk di hadapanmu, Almira! Hingga aku tidak diberikan kesempatan untuk mencoba memperbaiki diriku!” suara Arash terdengar bergetar.
“Bukankah Kak Arash tempo hari pernah bilang, jika aku bukanlah tipe wanita Kakak. Dan Kakak sendiri yang memuja Kak Sherina sebagai wanita yang sempurna di hadapanku! Lalu kenapa sekarang Kakak minta kesempatan? Aku tidak mau dibilang merebut pacar orang Kak, aku bukan pelakor Kak. Kejadian semalam, aku menerima lamaran Kak Arash karena aku menghargai kedua keluarga kita, dan aku yakin orang tuaku pasti memilih yang berbaik buatku. Tapi apa yang aku dapat Kak!”
Kedua orang tua Almira dan Arash, saat ini diam tak berkutik, sama-sama ingin melihat apa yang dilakukan oleh kedua anaknya, karena sesungguhnya hubungan ini lebih kepentingan kedua orang tersebut, yang akan membina sebuah hubungan, bukan kedua orang tuanya.
Arash menundukkan kepalanya sejenak, benar kata Almira dia sudah terlanjur bilang jika Almira bukanlah tipenya dan dia menunjukkan sosok Sherina sebagai wanita yang sempurna baginya.
“TIDAK!! Jangan bilang kamu menginginkan lamaran kita berakhir! iya benar aku akui telah menjilat ludahku sendiri, karena kamu selalu ada di pikiran dan di hatiku ... aku tidak bohong! Dan semalam ... iya aku akui telah salah tapi bukan berarti aku tidak menghargaimu, tapi aku terkejut saat bertemu Sherina semalam. Semalam juga aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Sherina, karena aku benar-benar serius denganmu,” jawab Arash dengan lantangnya.
Mungkin suara Arash terdengar sangat menggebu-ngebu, tapi dia sedang melawan egonya yang suka gengsian, sekarang dia menjatuhkan harga dirinya di depan keluarganya sendiri maupun di depan keluarga Almira.
Arash menatap lekat-lekat Almira. “Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi Almira, aku mohon, aku tidak mau putus,” pinta Arash.
Almira mendesah mendengarnya, gadis itu mengambil tas bahunya lalu bangkit dari duduknya, saat ini pikiran gadis itu tiba-tiba saja buntu.
“Mah, pah ... Mira permisi dulu,” pamit Almira dengan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat, kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan.
__ADS_1
“Almira ... please.” Arash tambah gusar melihat Almira yang tak menjawab permintaannya, pria itu pun beranjak bangun dari duduknya untuk menyusul gadis itu, namun mommy Alya mencekal tangan Arash.
“Arash, duduklah, biarkan Almira pergi,” pinta Mommy Alya, sorot matanya mengarah ke bangku.
Salah satu tangan Arash menyugar rambutnya, helaan napas beratnya terdengar, kedua matanya pun mulai berkaca-kaca.
Pria yang biasa memimpin geng motornya dan sering berseteru dengan geng motor lawannya, hari ini dibuat jungkir balik oleh seorang gadis bernama Almira. Gadis yang baru dia kenal karena sebuah musibah, ternyata mampu menguasai isi hatinya.
bersambung ....
Terima nasib aja sih Bang Wowo, Neng Kunti juga punya perasaan 🤧🤧.
Gak bisa mommy Ghina, Arash pokoknya gak mau putus sama Almira. Kalau Mommy Ghina bikin Arash putus sama Almira, Arash bakal keluar dari novel ini!
Astaga gimana ceritanya kalau MC cowoknya keluar dari novel, ceritanya tamat dong! Tapi gak pa-pa deh kalau Bang Wowo mau keluar dari novel, Mommy jadi ingat ada Arsal, wajahnya juga mirip sama Bang Wowo.
Eeeh ... No way, Arash gak jadi keluar dari novel, enak aja masa digantikan sama Arsal. TIDAK BOLEH!
__ADS_1
Mommy Ghina mengerutkan kening, lalu tersenyum lebar 😁😁😁