
Perjuangan hanya ada waktu sebulan, dan itu pun sudah terpotong dengan beberapa hari yang sudah terlewati, Arash harus benar-benar memanfaatkan sisa waktu untuk membenahi dirinya.
Alvin amat sabar mengajar Arash yang usianya lebih tua empat tahun untuk mengambil wudhu, begitu pun Arash yang terlihat serius untuk belajar sekaligus mengingatnya.
Nah pas mau shalat, Arash dan Alvin hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana tidak garuk kepala, si Arash ngaku sama Alvin tidak terlalu hafal dengan bacaan shalatnya, dan gurunya pun baru datang dua kali untuk mengajarinya.
“Ya sudah lah Kak Arash, sekarang shalat dulu dengan bacaan yang masih diingat, selanjutnya ya harus belajar. Ini bacaan niat shalat ashar, terus dilakukan 4 rakaat,” tanya Alvin sembari menunjukkan layar ponselnya. Arash mencoba melafadzkan niatnya lalu menjalankan kewajibannya, sedangkan Alvin melangkah mundur dan duduk di atas karpet yang ada di musholla, menunggu Arash selesai shalat.
Usai shalat, Arash ikutan duduk dengan Alvin. “Vin, aku boleh tanya tentang Mira gak?”
Ujung ekor mata Alvin melirik ke samping, “Mau tanya apa, kenapa gak nanya sama Mira langsung,” jawab Alvin.
“Kayaknya dia lagi marah sama aku, Vin. Makanya aku tanya sama kamu.”
“Ooh begitu, ya udah kalau aku tahu dijawab, kalau gak tahu tanya sama orangnya langsung,” balas Alvin.
“Almira pernah pacaran gak? Atau lagi deket sama cowok gak saat ini?” wajah Arash tampak serius ketika bertanya.
Alvin memutar malas bola matanya. “Dikirain Kak Arash mau nanya apa, sampai serius begitu mukanya,”celetuk Alvin.
“Ya pertanyaannya sih banyak, tapi salah satunya ya itu dulu lah.”
“Mama sama papa tidak mengizinkan kami untuk berhubungan dekat dengan lawan jenis tapi jika sekedar teman ... ya gak masalah, dan yaa bisa dikatakan baru Almira yang diizinkan dengan Kak Arash, dan itu juga bukan buat pacaran tapi untuk jenjang ke pernikahan. Jadi sudah jelas artinya Almira belum pernah pacaran tapi bukan berarti dia tidak pernah menyukai seseorang,” jawab Alvin sembari tersenyum lebar, seakan mengetahui sesuatu.
“Ya kalau masalah menyukai seseorang, aku juga tahu jika Almira suka sama Ustadz Ridwan kan?” tanya Arash, seakan butuh penegasan.
“Mmm ... bisa jadi sih. Ya kalau Kak Arash tidak bisa berubah, mungkin Kak Arash akan dicoret dari daftar calon suaminya. Lagi pula siapa tahu Ustadz Ridwan suka sama Almira juga,” jawab Alvin dengan mengedipkan salah satu matanya.
__ADS_1
Wah gawat dong, kalau begini.
Alvin beringsut dari duduknya dilantai. “Ayo Kak Arash, kita ke dalam siapa tahu papa sama mama sudah pulang,” ajak Alvin.
Arash tiba-tiba mulai bad mood, dengan tubuh yang mendadak terkulai tak semangat, beringsut dan mengikuti langkah kaki Alvin.
“Jangan tiba-tiba lemas begitu dong Kak Arash, ngaku nya cinta sama Almira, tapi udah gak semangat aja. Harusnya jadi pemicu agar lebih semangat untuk belajar. Ingat jangan mau kalah sama anak SD yang sudah hapal sama bacaan shalatnya, dan jangan malu untuk belajar terus, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar!” seru Alvin, memberikan semangat buat calon ipar.
“Makasih Vin, doain ya semoga aku bisa cepat belajar.”
“SEMANGAT!” seru Alvin sambil melayangkan kepalan tangannya ke udara.
Alvin mengajak Arash untuk ke ruang tengah, ternyata mama dan papanya sudah berada di mansion dan sedang menikmati teh hangatnya. Calon menantu langsung menyapa dan mencium punggung tangan kedua orang tua Almira, kemudian duduk bersama.
Almira tidak tampak hadir di ruang tengah, hanya ada Alvan yang sedang sibuk dengan ponselnya.
“Arash, kuliah kamu tinggal satu semester lagikan?” tanya Papa Albert.
Papa Albert menyesap teh hangatnya. “Jadi kapan kamu akan belajar mengurus perusahaan daddy kamu? Daddy kamu cerita ke Papa katanya belum pernah kamu bantu daddy di perusahaan?” tanya Papa Albert.
Arash terdiam sejenak, dan memikirkan jawaban yang baik untuk Papa Albert. Selama ini memang daddy-nya selalu meminta dirinya untuk belajar mengurus bisnisnya apalagi dia salah satu ahli waris dari kekayaan yang dimiliki oleh daddy Erick.
“Menikah itu bukan hanya bermodalkan kata cinta, namun ada bentuk tanggung jawab saat sudah sanggup menikahi seorang wanita. Selain menjadi imam, kepala rumah tangga yang baik buat istri dan anak-anak, sebagai pria juga harus bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan untuk keluarganya dengan cara ya bekerja atau berbisnis,” tutur Papa Albert.
Arash pun terhenyak dengan kata tanggung jawab, yang selama ini dia abaikan karena merasa tentang kekayaan tidak menjadi masalah, karena kekayaan dari daddy-nya sudah berlimpah ruah.
“Mau dapat uang banyak atau dikit, tapi jika hasil dari keringat suami sendiri, itu rasanya sangat berarti dan berharga buat seorang istri,” timpal Mama Tania begitu lembutnya.
__ADS_1
“Terima kasih Pah, Mah ... aku sudah diingatkan, memang selama ini daddy sudah memintaku untuk belajar bekerja di perusahaan, tapi waktu itu aku belum ada keinginan karena sibuk dengan kuliah, mungkin kedepannya aku akan belajar ber bisnis dengan daddy,” jawab Arash, dengan nada yang amat meyakinkan.
Sebenarnya bukan sibuk kuliah, tapi sibuk dengan geng motornya, sibuk mencari kebahagiaannya di luar sana dengan teman-teman kongkownya. Hingga dia lupa jika suatu hari nanti ada masa depan yang harus di raih demi kelangsungan hidupnya.
“Itu harus Nak, bukan hanya sekedar wacana saja. Walau kamu dan Almira dari keluarga yang berada, tapi yang namanya berbisnis akan ada pasang surutnya, dan tidak selamanya kami selaku orang tua panjang umur, makanya Papa juga menekan kan kepada ketiga anak Papa untuk belajar dari usia muda, hingga nanti bisa berdikari sendiri. Termasuk kamu jika memang sangat serius dengan anak Papa,” imbuh Papa Albert.
PR Bang Wowo bertambah lagi, dan ini dari calon papa mertua, semangat Bang Wowo!
Arash menegakkan punggungnya. “Aku serius memang ingin menikahi Almira, Pah. Dan Aku akan berusaha belajar bukan hanya sekedar wacana,” jawab Arash dengan tegasnya, menunjukkan keseriusan nya.
“Bagus! Harus segera direalisasikan,” jawab Papa Albert.
Jika sudah ada niat untuk menikahi seorang wanita, berarti dia sudah siap bertanggungjawab dengan kehidupan wanita itu walau keberadaan orang tuanya berada, karena setelah diucapkan ijab kabulnya maka tanggung jawab seorang ayah akan berpindah ke pria yang menjadi suaminya.
Di sinilah Papa Albert mengingatkan kodratnya seorang pria yang akan menjadi calon menantunya, karena masih banyak pria di usia muda melakukan pernikahan namun belum paham dengan hak dan kewajiban sebagai suami, hingga terjadilah pertengkaran dalam rumah tangga sampai adanya kasus perceraian. Ingat nikah itu bukan karena hanya saling mencintai tapi sebuah komitmen bersama yang dilandasi dengan niat ibadah dan mau berjuang bersama-sama.
Serta sejatinya seorang ayah ingin memiliki menantu yang sama baiknya seperti dirinya saat menjaga, merawat anak gadisnya sejak kecil hingga dewasa, karena dinikahkan bukan untuk disakiti tapi untuk dibahagiakan baik secara mental dan fisik nya. Maka jangan heran kalau ada ayah yang bersikap galak dan tak ramah jika lihat anak gadisnya datang mengenali pacarnya ke rumah, galak nya itu ada maksudnya. Jadi bersyukur jika masih memiliki ayah yang selalu peduli, ayah yang selalu menjadi pelindung anak-anaknya.
Siapakah cinta pertama dari seorang anak gadis? Ayahnya.
Bersambung ...
__ADS_1