
Dalam wajah yang terlihat tenang dan teduh, ada hati yang berkecamuk karena sikap Arash, namun dia harus tetap terlihat anggun ketika bersikap.
“Baik Kak Arash, semoga Almira tidak terlalu parah lukanya dan segera cepat sembuh,” kata Ana, sembari beringsut dari duduknya lalu berpamitan pada Arash.
Namun sebelum dia menyusul ke parkiran mobil, ponsel milik Ana berdering, dan wanita itu merogoh kantong gamisnya.
Prima Calling ...
Ana menolehkan wajahnya ke belakang untuk memastikan jika posisinya sudah agak menjauh dari keberadaan Arash.
“Assalammualaikum, Prima,” sapa Ana dari sambungan ponselnya.
“Waalaikumsalam, Ana lagi ada di mana sekarang? Aku cari di pondok kok gak ada?” tanya Prima dari ujung teleponnya.
Ana menghela napasnya. “Aku lagi di rumah sakit, gara-gara kamu ... wanita itu masuk rumah sakit,” celetuk Ana.
“Sorry Ana, aku udah jengkel lihat cewek itu, memangnya siapa sih yang dekat sama Kak Arash yang kamu sukai itu? Pakai nempel-nempel begitu, ganjen banget! Makanya aku lembar aja pakai batu biar tahu dirasa,” jawab sinis Prima.
DEG!
Siti yang kebetulan mau melewati Prima, kedua netranya terbelalak ... lalu dia memundurkan langkah kakinya, telinga dia mendengar jelas kata Kak Arash yang disebut-sebut oleh Prima. Berhubung tangan Siti sedang pegang ponsel, dengan gaya santainya dia merekam Prima dari belakang.
“Jadi sekarang kamu ikut ke rumah sakit karena ingin mengetahui keadaan cewek itu atau untuk mendekati Kak Arash. Semoga aja tuh cewek lukanya parah ya, biar dirasa sama dia. Untung banget tadi ada batunya lumayan besar waktu aku melemparnya dari belakang!” lanjut kata Prima.
Wanita berhijab yang sedang menelepon Ana, sungguh teledor tidak memastikan dengan keadaan sekitarnya, walau sebenarnya sekarang posisi dia berdiri ada di belakang pondok, tapi tidak disangka Siti yang kebetulan mau ke parkiran mobil untuk menyusul Alvin, sengaja lewat belakang pondok karena lebih cepat sampainya.
Selama merekam dari balik tembok pondok, hati Siti sangatlah geram, dan sudah bisa dipastikan cewek yang dimaksud Prima adalah Almira, karena Siti juga baru tahu kalau Almira dilarikan ke rumah sakit.
“Antara keduanya lah Prima, aku harus tahu keadaan wanita itu, dan yang sudah kamu tahu lah, kapan lagi aku bisa dekat dengan Kak Arash,” jawab Ana, walau hati kesal tapi bisa menarik sudut bibirnya.
“Oh ya sudah, Ana jangan lupa hanya kamu yang tahu kalau aku yang melempar batu itu. Aku lakukan itu juga demi kamu, jadi please pura-pura tidak tahu kejadian itu,” pinta Prima.
__ADS_1
“Itu sudah pastilah, lagi pula tadi aku juga bilang dengan Kak Arash kalau aku tidak melihat yang melemparnya. Jadi tenang saja, untung saja di villa tidak ada cctv. Tapi lain kali kamu jangan melakukan hal itu lagi, dosa tahu,” celetuk Ana.
“Mmm, itukan juga reflek Ana, kalau saja tuh cewek meninggalkan kalian berdua, gak mungkin aku lemparin batu begitu. Tapi lumayan juga lemparanku pas banget kena kepala cewek itu,” balas Prima, agak tertawa kecil.
Hati Siti benar-benar meradang mendengarnya, tapi dia harus kuat untuk merekam nya, ini akan jadi bukti satu-satunya. Kejahatan sekecil apapun yang disembunyikan jika memang sudah salah, pasti akan berhembus dengan cara yang tak disangka. Boleh jadi memang tidak terekam oleh cctv atau tidak ada bukti yang melihatnya, tapi dengan cara Allah lah menunjukkan siapa pelakunya.
Kurang ajar, percuma pakai pakaian syar'i tapi tidak bisa menjaga akhlak dan perbuatannya. Mending lepas Mbak hijab nya! Batin Siti ingin meledak rasanya, tapi memang dasarnya anaknya lembut, dia tidak akan mampu meluapkan emosinya seperti Almira.
Dirasa sudah cukup merekamnya, Siti menyudahi nya dan memutar balik arah dan bergegas menyusul Alvin yang sudah menunggunya.
...----------------...
Gelapnya malam mulai tergantikan dengan sinar matahari yang tampak masih malu-malu menunjukkan dirinya, suara ayam berkokok pun mulai saling sahut sahutan. Adzan Subuh pun sudah berkumandan dari tadi, dan pria itu terpaksa meninggalkan ruang tunggu IGD demi menunaikan sholat shubuh nya di musholla yang ada di rumah sakit.
Ana juga sudah kembali ke villa, dan langsung menemui Prima. Sedangkan pria yang mengantar Almira ke rumah sakit segera menceritakan kejadian yang menimpa Almira kepada Ustadz yang bertanggungjawab dengan acara tadabbur alam.
Tiga puluh menit kemudian, Siti dan Alvin sudah sampai di rumah sakit, mereka berdua bergegas menuju ruang IGD.
“Oh untung kalian sudah datang, Almira masih ada di dalam, aku masih menunggu kabar dari dokter,” kata Arash.
Hati boleh kecewa dan kesal, tapi Alvin masih memiliki hati yang baik. Saudara kembar Almira memberikan cup coffe dengan sandwichnya yang sengaja di beli saat menuju ke rumah sakit pada Arash. “Buat Kak Arash,” ucap Alvin, menyodorkan apa yang di beli.
“Terima kasih,” dengan senang hati Arash menerimanya, dan mulai menyesap cup coffe nya.
Siti dan Alvin sama-sama duduk di bangku yang ada di ruang tunggu, dan menanti kabar terbaru Almira.
“Awal kejadiannya bagaimana Kak Arash, kenapa Almira bisa kena batu?” tanya Alvin minta penjelasan.
“Kejadiannya begitu cepat, aku dan Almira habis ngobrol di taman sebentar, dan bermaksud ingin mengantarnya ke pondokan, tapi tiba-tiba ada yang menimpuk dari arah belakang, pas aku lihat yang ditimpuk ternyata batu dan pas sekali mengenai bagian kepala belakang Almira. Almira pun langsung pingsan,” tutur Arash.
Rahang Alvin mengeras dan sorot matanya kelihatan berapi-api. “Siapa yang berani lembar batu itu, kurang ajar!” umpat Alvin.
__ADS_1
“Maaf Kak Arash, saat kejadian itu kalau boleh tahu ada orang lain kah selain Kak Arash dan Almira?” tanya Siti untuk memastikan sebelum dia menyampaikan hal yang sudah dia ketahui.
Arash menatap wajah Siti. “Iya ada wanita lain, namanya Ana,” jawab jujur Arash.
“Jangan bilang wanita itu yang pas Kak Arash mau ke masjid ... dia ada di samping Kak Arash!” sentak Alvin
“Iya wanita itu, Alvin,” jawab Arash.
Alvin mengusap kasar wajahnya lalu mendengkus kesal ketika menatap Arash.
“Wanita yang bernama Ana itu sangat menyukai Kak Arash, aku dan Almira sempat mendengar obrolan wanita itu dengan temannya, saat kami berdua mau ke masjid saat mau sholat malam,” kata Siti.
Kedua pria itu langsung menatap Siti, dengan tatapan ingin tahu lebih lanjut nya.
“Wanita itu berniat ingin mendekati Kak Arash, dan rencana ingin mengajak jalan pagi setelah sholat subuh. Almira mendengarnya dengan jelas, dan di saat wanita itu memanggil Kak Arash ... Almira memilih untuk menghindari Kak Arash dan wanita itu, dan kami cari jalan alternatif yang lain.”
DEG!
Hati Arash seperti ada sembilu yang agak menyakitkan ketika mengetahui Almira sudah mendengarnya dan malah menghindarnya, pantas saja Almira sempat berkata Ana menyukainya.
“Dan masalah yang kejadian lembar batu sepertinya berhubungan dengan wanita yang bernama Ana,” lanjut kata Siti.
“Maksud kamu apa?” tanya Arash, dirinya semakin bertanya-tanya.
Siti merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel miliknya.
“Lihat video ini Kak Arash,” pinta Siti.
bersambung ....
__ADS_1