
Almira mengikuti mama Tania setelah selesai shalat maqrib, menuju ruang makan untuk membantu menyiapkan makan malam.
Setelahnya baru para lelaki ganteng menyusul ke ruang makan dengan datang bersama-sama. Arash lebih menempelkan dirinya ke Alvin ketimbang Alvan yang selalu ketus dengannya.
Almira walau anak yang dilahirkan dari keluarga terpandang, kaya namun tetapi dididik sebagai wanita pada umumnya bukan dimanjakan dengan segala kemewahan yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Gadis itu tahu caranya membersihkan rumah, tahu bagaimana mencuci piring, tahu bagaimana memasak, inilah salah satu pendidikan rumahan yang dididik oleh mama Tania, anak-anaknya tidak dimanjakan dengan hadirnya para maid di mansion, mereka harus bisa mengerjakan hal yang kecil.
Arash di saat masuk ke ruang makan semakin terpesona melihat Almira yang sedang membantu mama Tania menghidangkan makan malam.
“AAUW,” jerit Arash sembari mengangkat salah satu kakinya.
“Makanya kalau jalan lihat-lihat,” kata Alvan dengan ketusnya, padahal dia sengaja menginjak kaki kiri Arash karena Alvan melihat mata pria itu dari tadi menatap Almira.
Bibir Arash mengerucut, rasanya tangannya mulai gatel pengen pites si Alvan, udah jelas dia diam di tempat namun sengaja kakinya di injak.
Alvin hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ayo Kak Arash, duduk,” kata Alvin sembari menunjukkan tempat duduk.
“Thanks Vin,” jawab Arash. Pria itu segera menduduki kursi yang ditunjuk oleh Alvin. Lagi-lagi nasibnya tidak beruntung untuk mendekati Almira, ternyata dia diapit oleh kedua si kembar Alvan dan Alvin. Sedangkan Almira duduk bersebrangan dengannya, di samping mama Tania.
Beberapa menu makanan sudah tersaji di meja makan, dan papa Albert mempersilahkan untuk menyantapnya kepada Arash.
Suasana makan malam terasa hangat, buat keluarga papa Albert ini adalah waktu guality time mereka semua untuk berkumpul dan saling berbincang, membangun komunikasi yang intens antara orang tua dengan anak.
Papa Albert pasti akan selalu menanyakan kegiatan anak-anaknya, dan apa saja kendala yang dihadapinya. Arash sebagai tamu hanya bisa menyimaknya dengan baik. Sebenarnya pola didik keluarga papa Albert dengan keluarga daddy Erick hampir sama, namun yang membedakannya papa Albert tidak mengirim anak-anaknya yang masih usia belasan tahun untuk sekolah keluar negeri, bukan karena tidak mampu namun sebagai bentuk tanggung jawab sebagai orang tua untuk terus mendampingi mereka selalu.
Keakraban antara orang tua dengan anak, sudah hilang rasanya buat Arash karena moment di usia emasnya yang masih mencari jati dirinya justru dia tinggal di luar negeri. Maka dari itu Arash merasa tidak dekat dengan daddy Erick. Kini di saat dia menikmati makan malam di kediaman Albert ada rasa iri melihat keadaan Alvan dan Alvin di usianya sekarang sangat terlihat akrab, dekat dengan papa Albert.
Tidak ada kata terlambat untuk dekat dengan orang tua bukan? Semoga Arash bisa kembali dekat dengan daddy Erick.
“Kak Arash, dari tadi makanannya hanya diaduk aja. Tidak enak kah?” tanya Almira, tak sengaja melihat Arash.
Lamunan Arash pun buyar setelah mendengar suara Almira. “Eh ... enggak kok enak makanannya,” jawab Arash salah tingkah.
“Dia itu lagi ngelamunin kamu ... Almira!” celetuk Alvan yang ada di samping Arash.
“Ck ... apaan sih,” jawab Arash pelan, sembari ujung ekor matanya melirik Alvan, jengkel.
__ADS_1
“Bilang jujur aja, jangan pakai bohong,” lanjut kata Alvin.
Mama Tania mulai melihat kedua anak kembar laki-lakinya mulai cari gara-gara kembali. “Alvan, Alvin jangan menggoda Kak Arashnya, kita sedang makan,” tegur Mama Tania.
“Iih ... aku tuh jujur loh Mah, memang Kak Arash lagi ngelamunin Almira, tadi aja pas masuk ke ruang makan matanya lihatin Almira aja. Padahal dia sendiri yang menolak dijodohin sama Almira!” jawab Alvan ketus.
Pias sudah wajahnya Arash menahan rasa malunya, sedangkan Almira terlihat biasa saja tidak tergugah apapun, tersanjung pun tidak.
Papa Albert yang berada di antara mereka semua berdeham lalu menegur Alvan untuk menghormati tamu yang datang.
Usai makan malam, Arash masih juga tidak ada kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Almira padahal dia ingin sekali, sampai akhirnya dia berpamitan.
“Nak Arash jangan lupa hari Sabtu datang ke acara ya di hotel Mulia,” ucap Papa Albert.
Ingin rasanya Arash menanyakan ada acara apa di hari Sabtu, namun rasanya enggan tapi penasaran. “Iya Om Albert, saya akan usahakan datang.”
“Harus datanglah, soalnya Almira mau dilamar!” sahut Alvan sembari menyunggingkan senyum sinisnya.
DEG!
Jadi benar kalau Almira akan dilamar! ... batin Arash terasa sesak.
Syukurin biar tahu dirasa! Enak banget udah nolak adikku yang sebaik itu! ... geram batin Alvan.
Kedua kaki Arash terasa lemas mendengar ucapan Alvan, dan tidak ada satu pun yang menyanggahnya, berarti itu benar pikir Arash.
“Kalau begitu saya pamit pulang dulu Om Albert, Tante Tania,” ucap Arash, pria itu mengulurkan tangannya kepada kedua orang tua Almira, lalu mencium tangan mereka. Kemudian di saat dia ingin bersalaman dengan Almira, tangan Alvan sudah menghalaunya, Arash hanya bisa mendesah panjang.
Alvin menepuk bahu Arash. “Yang sabar ya Kak Arash, kalau belum berjodoh, masih banyak penggantinya. Lagian sejak awalkan sudah menolak Almira!” ucap Alvin sambil menunjukkan senyum manisnya, dan sengaja mengantar Arash sampai ke mobilnya.
Arash hanya bisa tersenyum kecut mendengar perkataan anak SMU itu, antara sedang mengejeknya atau menghiburnya, pokoknya ambigulah.
...----------------...
Keesokan hari
__ADS_1
Mansion Erick
Arash tidak masuk kuliah kembali, terasa tak ada semangat untuk beraktifitas. Sekarang dia hanya terduduk sembari menikmati jusnya dipinggir kolam renang, lalu menatap ponselnya berulang kali. Mommy Alya dari kejauhan tampak tersenyum-senyum setelah dapat kabar dari mama Tania jika kemarin Arash ke mansionnya.
“Kamu tidak ada kuliah hari ini?” tanya Mommy Alya, saat menghampiri anaknya lalu duduk di salah satu kursinya.
“Lagi malas,” jawab Arash tak bersemangat.
“Tumben malas, biasanya kamu semangat buat kuliah dan ngumpul bareng teman segengmu itu,” kata Mommy Alya, sembari mengamati wajah anaknya yang tampak berbeda.
“Ya lagi malas aja, gak semangat, Mom,” jawab Arash, kali ini agak ketus. Pria itu kemudian mengusak-ngusak rambutnya dengan kasar, lalu menatap kosong ke arah kolam renang.
“Kalau mommy lihat kamu kayak orang lagi galau saja,” celetuk Mommy Alya dengan santainya.
Ah itu benar banget Mommy Alya, sepulang dari mansion Almira, Arash itu uring-uringan di kamarnya, udah kayak orang frustasi. Tapi dia gak bakal ngaku pastinya.
“Ck ... galau dari mana si Mom, Arash biasa aja kok,” jawab Arash, mencoba terlihat biasa saja, namun tampaknya tidak bisa mengelabui mommy Alya.
“Syukurlah kalau memang tidak lagi galau. Oh iya kemarin kamu ke mansion Almira, kenapa gak bilang ke mommy? Tapi kok tumben ke sana, kena angin apa?” cecar Mommy Alya dengan seberondongan pertanyaan.
Arash lupa kan hal tersebut, pria itu putar otak mencari alasan yang tepat untuk menjawabnya.
“Gak sengaja mampir Mom, ternyata mansionnya dekat dengan mansionnya si Jack,” jawab dusta Arash.
“Oh gak sengaja mampir toh, dikiraiin memang sengaja datang buat ketemu sama Almira.” Kecewa mommy Alya atas jawaban Arash, karena mommy Alya sudah diceritakan kejadian kemarin oleh mama Tania, termasuk kesalahpahaman dengan anak kembarnya.
Nak sampai kapan kamu membohongi diri sendiri, sampai kapan kamu ngengsi tak mau mengakuinya!
bersambung ...
__ADS_1