Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Keributan di Mall


__ADS_3

Sumpah demi apa! Arash masih saja merengek untuk ikut ke acara tadabbur alam sama Almira, jika tidak diizinkan pria itu akan mengancam bilang ke Papa Albert untuk mencabut izin Almira pergi. Siti yang melihat sikap Arash pria berjaket kulit bagaikan anak kecil yang sedang minta dibelikan mainan sama mamanya, rasanya ingin tertawa terbahak-bahak, ternyata dibalik sikap garangnya terhadap Meggi, ternyata bisa meleyot.


Selang berapa lama kemudian pesanan makanan mereka bertiga sudah tiba, dan sudah waktunya menikmati makan siang mereka. Almira sudah sibuk menyantap bibimbapnya sama dengan menu Siti, sedangkan Arash memilih bulgogi, tapi pria itu membaginya dengan Almira.


“Kak Arash kok dagingnya dipindahkan ke mangkok aku?” tanya Almira heran.


“Punyaku banyak, dan lagi pula kamu butuh vitamin yang banyak buat menghadapiku yang mengesalkan ini,” celetuk Arash asal.


Bibir Almira mencebik. “Akhirnya Kak Arash nyadar juga kalau dia memang benar-benar menyebalkan,” balas celetuk Almira, sambil mengunyah makanannya, Arash hanya bisa nyengir kuda, lalu pria itu mencubit gemas pipi gadis itu dan kedua netra Almira pun melototi Arash.


PROK! PROK!PROK!


Suara tepuk tangan terdengar jelas dari beberapa orang, Arash, Almira dan Siti serempak menoleh ke asal suara tersebut.


Tiga wanita muda dengan style anak kampus, celana jeans, kaos oblong yang agak mengetat di bagian dadanya, ditambah lagi dengan polesan make up ala SPG kosmetik, kemudian rambut panjangnya ada yang dicatok lurus, ada juga di curly biar tampak girly, terkesan imut, manis plus cantik.


“Wow luar biasa nih Arash, mainannya sekarang sama bocah SMU nih!” celetuk salah satu wanita bernada sinis.


Almira yang sedari tadi memindai ketiga wanita yang menghampiri meja mereka, langsung mengalihkan tatapannya. Arash mendengkus kesal dengan meletakkan sumpit dengan kasarnya ke atas meja.


Tangan kiri Arash, langsung merangkul pinggang gadis itu dan menariknya agar lebih dekat dengannya, kemudian menatap tajam ketiga wanita itu.


Salah satu wanita yang kelihatan rambutnya habis dicatok, lalu bibirnya dipoles dengan lipstik merah membara, bukannya tambah cantik malah tambah aneh, mendekati Almira dengan tatapan sinisnya, Almira tampak tenang berada di sisi Arash yang masih merangkul pinggangnya.


Wanita ber lipstik merah membara itu sedikit membungkukkan tubuhnya lalu menggebrak sisi meja dekat Almira. “Hey bocah bau kencur! Lo tahu cowok yang ada di samping lo itu?” tanya wanita itu dengan membentaknya.


“Sayang, jangan ngubris mereka bertiga, sebaiknya kita habiskan makanan lalu pergi dari sini,” pinta Arash.

__ADS_1


Siti yang ada di antara mereka bertiga agak was was jadinya, bukan takut sama ketiga wanita yang baru menghampirinya, tapi takut Almira akan menghajar ketiga wanita itu.


Almira mendongakkan wajahnya lalu menatap wanita itu dengan tatapan santainya. “Jika aku tidak kenal dengan pria yang ada disebelahku, mana mungkin aku dan dia duduk bersebelahan,” celetuk Almira dengan santainya, lalu menunjukkan sendok yang sudah terisi bibimbap kemudian memasukinya ke dalam mulutnya.


Wanita itu menyeringai, kemudian tangannya merebut sendok yang di pegang oleh Almira kemudian menjatuhkannya ke lantai.


Arash langsung berdiri dan menunjukkan wajah garangnya kepada ketiga wanita itu. “Wow Arash, lo mau bela bocah ini ya! Hebat, lo udah di kasih apa aja ama nih bocah, sampai lo berpaling dari Sherina. Jangan-jangan lo udah bobo bareng ya sama nih bocah!” kata wanita itu dengan gaya santainya namun pedas omongannya. “Eeh bocah biasa jual diri di mana! Orang tua lo miskin ya! Sampai lo jual diri sama Arash!” lanjut kata wanita itu, dengan nada tinggi nya. Untung saja pengunjung restoran tidak terlalu ramai, karena jam makan siang yang semestinya sudah lewat.  


“TUTUP MULUT SAMPAH LO, SEPTI!” sentak Arash sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah wanita yang disebut Septi oleh Arash.


Di saat Arash menegur keras, Septi dengan tenang nya menarik rambut panjang Almira, hingga membuat gadis itu agak terjengkang ke belakang dalam duduknya, untung saja Arash sigap memegang badan Almira hingga tak sampai terjerembap jatuh ke lantai, gadis itu pun menahan tangan Septi dengan sekuat tenaganya, yang masih memegang rambutnya.


“Oh kalian bertiga di suruh sama Sherina untuk mencelakakan calon istri gue ya! Kalian benar-benar teman dongo, menyerahkan diri sendiri untuk merasakan tidur di hotel prodeo rupanya! Semua yang ada di sini menjadi saksi, hati-hati!” ancam Arash, sembari menahan badan Almira.


Septi menyeringai lebar, lalu tangannya yang masih memegang rambut Almira langsung kembali menarik rambut gadis itu. Tapi apa yang terjadi? Karena Almira sudah menahan tangan Septi, dipelintirnya tangan wanita itu, kemudian dibantu oleh Arash, gadis itu bangkit dari duduknya.


“Di sangka aku takut sama kamu!” bentak Almira sudah mulai menunjukkan sisi dia yang berbeda.


Almira menarik tangan Septi lalu mengereknya hingga tubuh wanita itu terhuyung, dan memaksa mengikuti langkah Almira menuju keluar restoran, Arash dan Siti ikutan mengikuti nya.


Sherina yang rupanya memantau dari luar restoran langsung berlarian meninggalkan depan restoran dan bersembunyi di balik standing banner restoran sebelah, dan tetap mengamati temannya.


Almira menatap tajam wajah Septi dan masih mencengkeram pergelangan lengan wanita itu. “Kalau punya mulut itu di sekolahkan dengan benar. Jangan asal menuding orang, karena tudingan itu bisa saja terjadi dengan mbak nya sendiri!” bentak Almira.


Wanita itu mendengus kesal. “Hey bocah jangan sok menasehati gue! Justru elo lah yang harusnya tahu diri. Elo sudah ngerebut pacar Sherina, masih kecil sudah murahan, jual diri!” balik sentak Septi.


Arash sudah berdiri di sisi Almira, lalu melayangkan tangannya ke salah satu pipi Septi dengan murkanya. “Berani sekali kamu mengatakan calon istri gue jual diri! Brengsek lo Septi!” teriak Arash, emosinya mulai meledak-ledak, kedua netranya pun mulai memerah.

__ADS_1


Cekalan Almira terlepas dari lengan Septi, karena melihat Arash begitu marah. Septi yang baru saja wajahnya terpaling karena tamparan Arash, menatap tajam ke arah Arash dan Almira.


“Tapi memang bocah itu murahan kan! Gak usah ditutupi deh, Arash!” jawab Septi sinis.


Melihat pengunjung Mall mendekati dan menonton mereka bertiga, Almira memegang tangan Arash. “Kak Arash, sudah ... sebaiknya kita masuk ke dalam untuk membayar bill dan pergi dari sini. Gak enak kalau kita bikin keributan di mall,” pinta Almira dengan lembutnya.


Arash menatap Almira dengan napas yang menggebu-gebu. “Tapi dia sudah menghina kamu, dan mencoreng nama baik kamu, Sayang!” kata Arash.


“Gak pa-pa Kak, yang penting Allah yang lebih tahu tentang aku yang sebenarnya, lagi pula kita tidak perlu menjelaskan ke banyak orang, siapa kita,” tutur Almira begitu lembut, dan secara tidak langsung menenangi hati Arash.


“Baiklah Sayang, kita ke dalam sebentar,” jawab Arash menuruti Almira, namun sebelum masuk kembali ke restoran, pria itu menghunuskan tatapan tajam nya ke tiga Wanita itu, gengnya Sherina.


Namun sebelum masuk ...


“AAWWW!” jerit kesakitan Almira, rupanya ketiga wanita itu menarik rambutnya, dari belakang saat gadis itu mau masuk ke restoran. Mau tidak mau Almira mengeluarkan ilmu taekwondonya.


BUG!


BUG!


BUG!


“AAAKKKH!” teriak kesakitan ketiga wanita itu yang sudah tergeletak di lantai secara bergantian.


Arash hanya bisa menepuk keningnya dan menggelengkan kepalanya dengan menghela napas panjang.


“Urusan semakin panjang!” gumam Arash sendiri, resikolah kalau punya calon istri jago bela diri.

__ADS_1


Dibalik standing banner, Sherina membungkam mulutnya sendiri sembari mengadu melihat ketiga temannya yang dibanting ke lantai oleh Almira, kemudian dengan mengendap-endap dia meninggalkan tempat tersebut.


bersambung ...


__ADS_2