
Almira menyadari jika pria yang ada di sampingnya sedang menatap dirinya, dan sekilas dia melirik cincin lamaran yang masih tersemat dijari manis pria itu.
Arash masih memiringkan tubuhnya, kemudian mencoba menetralkan degup jantungnya yang masih berlarian mengitari gelora Bung Karno, Senayan.
“Almira,” panggil Arash, suaranya agak pelan.
Almira pura-pura tidak mendengarnya, masih fokus menyantap ice creamnya.
Terpaksa Arash menggeser posisi duduknya agar lebih dekat hingga benar-benar mepet, dan hal itu bikin Almira semakin gelisah aja.
Hembusan napas hangat Arash sampai terasa di pipi Almira, bikin bulu kuduk gadis itu merinding.
“Almira, aku minta maaf. Kemarin aku meninggalkan kamu begitu saja di restoran,” kata Arash, terdengar menyesal.
Almira tidak berani menoleh ke samping untuk menatap Arash, karena dia bisa merasakan jika wajah pria itu sangat begitu dekat, jika diukur mungkin hanya sepuluh centi.
“Kalau berbicara memang harus sedekat ini ya!” celetuk Almira, jengah dengan posisi mereka berdua yang terlalu dekat.
“Terpaksa harus lebih dekat dengan kamu, dari tadi kamu cuekin aku,” jawab Arash apa adanya.
Tidak bisa dipungkiri jika duduk berdekatan dengan lawan jenis, apalagi rupanya ganteng dan tubuhnya wangi pasti bikin jantung berdebar juga, bukan berarti suka, ya memang berdebar saja, dan mulai agak salah tingkah dibuatnya, untung saja Almira bisa berusaha tampak tenang.
“Almira, bisakah menatap aku kalau aku berbicara?” pinta Arash, agak memohon.
“Buat apa tatap Kak Arash gak ada gunanya,” celetuk Almira dengan ketusnya.
Jangan terpancing emosi, Arash ... tetap tenang, batin Arash.
Arash menarik napasnya dalam-dalam, lalu kembali berbicara pelan, berusaha tidak emosi untuk kali ini. “Baiklah kalau kamu tidak mau menatap aku, kalah begitu biar aku yang menatap kamu.” Terdengar Almira mendesis setelah dapat jawaban dari pria itu. Andaikan Almira adalah Sherina, sudah bisa dipastikan wanita itu akan senang hati jika ditatap terus oleh sang pujaan hati.
“Bisa agak geser duduknya Kak Arash, kayaknya sebelah kiri Kak Arash lebih leluasa,” pinta Almira agak memaksa, karena posisi duduk dia sudah mentok, tidak bisa bergeser, sungguh keterlaluan memang si Bang Wowo.
__ADS_1
“Kalau aku tidak mau bagaimana, aku udah nyaman duduk dekat sama kamu,” jawab Arash dengan santainya. Lagi dan lagi pipi Almira bisa merasakan hembusan napas hangat Arash, tambah merinding.
“Huft ...!” Almira hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam, kemudian dia mengambil botol air mineral lalu meneguknya hingga menyisakan setengah isinya.
“Sekali lagi aku minta maaf ya, yang kemarin. Aku benar-benar emosi saat itu,” kata Arash, kembali memohon.
“Kak Arash meminta maaf setelah menyakiti hatiku! Aku sangat yakin jika aku tidak ke sini, kemungkinan Kak Arash tidak akan mencariku dan minta maaf. Lagi pula buat apa Kak Arash minta maaf padaku, bukankah Kak Arash sudah terbiasa menyakiti hatiku! Lagian jika ada pria yang benar-benar mencintai seorang wanita pasti dia akan menjadi pria yang bertanggungjawab dan meminimalisir untuk tidak menyakiti wanitanya,” jawab Almira dengan ketusnya, dan tanpa menatap pria itu.
Tersindir lagi hati Arash, tapi wajarlah pria itu juga belum pernah menjaga perasaan seorang wanita karena saking banyaknya wanita yang justru menjaga perasaan nya demi menarik perhatian dia. Sedangkan saat berpacaran dengan Sherina, wanita itu yang lebih banyak menyesuaikan dirinya terhadap kekasih hatinya.
Jadi buat Arash, inilah pertama kali menghadapi wanita yang benar-benar extra menarik perhatian dirinya terlebih dahulu, bukan wanita kebanyakan yang seperti biasa dia temui.
"Iya aku salah Almira, tapi waktu itu aku mutar balik untuk menjemputmu. Tapi kamu sudah naik ojol. Dan aku mengikutimu sampai ke perusahaan Maxindo."
Almira tidak menggubrisnya, malah mengacuhkan nya kembali. Arash yang melihat tangan kiri Almira nganggur di atas meja, Arash langsung menyentuhnya. Reflekslah Almira terkejut dan menoleh ke sebelah kiri, dan terjadilah.
Almira lupa ...
DEG!
Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ...
Almira dan Arash langsung sama-sama menarik wajahnya, dan langsung memalingkan wajahnya masing-masing ke arah berlawanan Wajah mereka berdua pun mulai memerah, tak menyangka. Posisi Arash duduk pun agak di gesernya.
“Astagfirullah,” gumam Almira sendiri saat sudah menyadarinya, gadis itu beranjak dari duduknya, lalu pergi meninggalkan meja makan begitu saja.
“Astaga, pasti dia bakal marah lagi ama gue!” gumam Arash sendiri, sembari memegang bibir penuhnya yang baru saja tak sengaja mengecup bibir Almira. Lalu tak lama pria itu bangkit dari duduknya dan bergegas menyusul Almira, dia tak mau gadis itu tambah marah dengannya.
“Astagfirullah, kenapa aku bisa ceroboh begini sih,” gumam Almira kesal sendiri, sembari masuk ke dalam mansion untuk menyusul mama Tania.
Arash yang ke uber mengejar Almira, langsung menarik lengan gadis itu.
__ADS_1
“AAKKHH ...,” teriak Almira kaget, tubuh gadis itu menubruk badan Arash.
Kini mereka berdua saling bersitatap dengan jantung yang berdebar-debar, baik itu Almira maupun Arash. “Tolong jangan marah Almira, tadi itu di luar dugaan kita. Aku tidak bermaksud seperti itu,” kata Arash, wajahnya terlihat memelas.
Almira memalingkan wajahnya, memang kejadian lima detik itu juga hal yang tidak di sengaja, gara-gara kecerobohan Almira yang menoleh karena terkejut dengan tangan Arash, tapi mau bagaimanapun bibir Almira sudah ternoda, dan dia pernah berucap kepada Siti, jika pria yang pertama kali mencium bibirnya bakal jadi suaminya, dan ternyata yang cium bibirnya pertama kali adalah Arash. Apakah mungkin Arash beneran akan menjadi suaminya kelak, walau tahu jika pria itu sudah melamarnya walau berakhir dengan jalan yang tidak baik.
Jemari Arash mengapit dagu Almira agar gadis itu menatap dirinya kembali. “Aku benar-benar minta maaf ya Almira, aku tidak sengaja cium kamu,” kata Arash kembali memohon.
“Apa ... Kalian berdua berciuman!” suara bariton terdengar jelas, dan amat familiar di telinga Arash dan Almira.
Arash melepaskan tangannya dari dagu Almira, lalu mereka berdua sama-sama mencari sumber suara pria tersebut. Dan terlihatlah ada Daddy Erick, Mommy Alya dan Mama Tania yang baru saja kembali dari ruang makan.
Jemari Arash langsung menyentuh dan menggenggam jemari Almira yang sudah menundukkan wajahnya karena malu, begitu juga dengan Arash karena ucapannya terdengar oleh kedua orang tuanya, dan Mama Tania.
Daddy Erick sudah melipat kedua tangannya ke dadanya, dan menaikkan kedua alisnya saat menatap kedua tersangka tersebut, sedangkan kedua mama tersebut hanya bisa menghela napas panjang.
Berabe sudah urusan dengan orang tua. Arash dan Almira harus menyiapkan kalimat penyanggah, atau sebuah cerita yang masuk akal untuk menjelaskan kepada orang tua mereka berdua.
bersambung ... aduh Almira, Arash 🤧🤧
__ADS_1