
Pria bermata biru itu tidak menyadari jika di kamar orang tuanya juga ada Mama Tania, dia hanya fokus dengan gadis yang sedang asik berbincang dengan saudara kembarnya.
Arsal yang ada di antara Almira dan Arash, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa lalu menatap gadis itu. “Mira, diminum dulu jus nya, sekalian nanti antar buat mama kamu,” pinta Arsal ramah.
“Oh, makasih Kak Arsal, aku minum dulu ya,” jawab Almira, turut terdengar ramah, sembari mengambil gelas jus tersebut.
Arash yang mendengar ada mamanya Almira, pria itu celingak-celinguk melihat ke sekeliling arah kemudian berdiri dari duduknya setelah melihat Mama Tania duduk di tepi ranjang dan sedang berbincang dengan mommy nya.
“Assalammualaikum, Mah,” sapa Arash berusaha bersikap sopan. Mama Tania menolehkan kepalanya. “Waalaikumsalam, Arash.”
Pria itu segera salam mencium punggung tangan Mama Tania. “Kapan nyampainya Mah?” tanya Arash, basa basi.
“Sepuluh menit yang lalu,” jawab Mama Tania. Mommy Alya hanya melirik Arash sebentar lalu mengalihkan tatapannya.
“Terima kasih Mah, udah jenguk Mommy,” kata Arash, tulus.
Tumben nih anak basa-basi, atau jangan-jangan karena melihat ada Almira, batin Mommy Alya.
“Kalau begitu silahkan dilanjut lagi ngobrolnya Mah, aku kembali ke sana,” kata Arash sembari menunjuk ke arah sofa yang tak jauh dari keberadaan ranjang.
“Ya, Nak,” jawab singkat Mama Tania, lalu mengedikkan salah satu bahunya saat bersitatap dengan Mommy Alya.
Pria itu kembali duduk di tempat semula, dan kembali juga menatap Almira.
“Oh iya Almira belum pernah keliling mansion ini kan?” tanya Arsal sembari melirik tajam ke arah Arash.
“Mmm ... belum pernah Kak Arash, lagi pula ini perdana aku masuk ke dalam sini, tempo hari hanya diluar saja."
“Kalau begitu aku ajak keliling biar tahu, mau gak?” kembali bertanya Arsal. Almira benar-benar mengacuhkan Arash, Arash pun belum juga menyapa gadis itu, namun tatapannya begitu tajam saat menatap saudara kembarnya. Arsal menyunggingkan salah satu sudut bibirnya saat dapat tatapan tajam dari Arash.
__ADS_1
“Boleh Kak Arsal,” jawab Almira.
Arsal pun bangkit dari duduknya diikuti oleh Almira, namun sebelum jalan-jalan mengitari mansion, Arsal berpamitan terlebih dahulu dengan mommy dan mama Tania.
Arash yang keberadaannya tak dianggap merasa amat sakit hati, apalagi diacuhkan oleh Almira, tapi dia harus menahan untuk tidak emosi, mengingat mommy nya sedang sakit.
Melihat kedua orang tersebut sudah berdiri dan ingin keluar dari kamar utama, Arash turut bangun dan mengikuti mereka dari belakang.
Ujung ekor Arsal melirik ke belakang, dan memperhatikan saudara kembarannya. “Mira, kamu bawa pengawalkah?” iseng Arsal bertanya saat mereka berjalan menuju anak tangga.
“Pengawal! Pengawalku ada di rumah Kak, mereka berdua tidak ikut,” jawab Almira, masih tidak engeh maksud dari Arsal, yang dia paham adalah saudara kembarnya Alvan dan Alvin.
“Oh ada di rumah. Tapi kenapa berasa ada yang mengikuti kita berdua ya, berasa lagi diintai secara terbuka begitu,” sindir Arsal, Arash yang mendengar kata sindiran Arsal hanya menarik napas panjang, ingin sekali dia membalas perkataan Arsal, namun harus ditahannya.
Gadis itu baru menyadari memang ada yang mengikuti mereka berdua, dan dia sudah menduga pasti Arash yang ada pas di belakangnya.
“Ya benar katamu,” jawab Arsal, dengan tatapan penuh kemenangan. Arash hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Ayo Bang Wowo mau marah nih!
Arsal mengajak Almira untuk berkeliling ke taman bunga belakang, sepanjang jalan Arsal dan Almira berbincang hal yang ringan-ringan, sedangkan Arash yang berada tak jauh dari mereka berdua tidak dilibatkan dalam obrolan tersebut, sesuai dengan ucapan Almira anggap saja tak ada siapapun di belakang mereka. Kasihan Bang Wowo jadi kambing congek. Semua itu karena sikapmu Bang Wowo dengan Neng Kunti, jadi terima nasib ya!
Usai berkeliling dan melihat-lihat koleksi bunga mawar, bunga anggrek serta berbagai tanaman, Arsal mengajak Almira untuk duduk di pinggir kolam renang, lalu meminta kepada kepala pelayan untuk menghidangkan makan siang mereka berdua, namun Pak Toni melirik Arash yang ada di antara mereka berdua, jadi tetap akan disiapkan untuk tiga orang.
Kali ini Arash menunjukkan emosinya, dengan duduk di samping Almira, gadis itu sempat memiringkan badannya karena kaget ketika Arash tiba-tiba menjatuhkan bokongnya di samping dia duduk. Pikir Arash merasa sudah cukup dirinya diabaikan selama satu jam. Bang Wowo gak tahan ya, dicuekkin sama Neng Kunti?
Arsal hanya mengernyitkan keningnya, lalu menaikkan salah satu alisnya melihat tingkah laku kembarannya yang sangat absurd itu.
Almira yang merasa tidak nyaman duduk bersebelahan dengan Arash beranjak dari duduknya karena ingin pindah duduknya, tapi pria itu cepat mencekal pergelangan tangan Almira.
__ADS_1
“Jika kamu menganggap aku tidak ada di sini, tidak perlu pindah duduknya. Anggap aja aku hantu,” kata Arash mulai mengeluarkan suaranya yang terkesan dingin, sedangkan Almira melirik tangannya yang dicekal oleh Arash.
Almira menyentak tangan Arash agar dilepaskan oleh pria tersebut, namun tak bisa, malah pria itu menarik lengan gadis itu agar duduk kembali. “Jika memang dianggap tidak ada, harusnya sadar diri, tidak perlu mengikuti kami berdua!” tukas Almira mulai terlihat kesal.
Arsal berdecak kemudian meneguk minuman kaleng yang sudah disajikan oleh maid. “Seharusnya kamu paham dengan maksud Almira, Arash!” sahut Arsal.
Kedua netra Arash memicing, wajahnya nampak tidak suka dengan perkataan saudara kembarnya. “Apa pantas seorang saudara mendekati calon istri saudaranya sendiri?” pertanyaan sekaligus sindiran buat Arsal.
Pria yang wajahnya mirip dengan Arash tampak menyeringai tipis, kemudian terkekeh melihat kecemburuan saudara kembarnya.
“Tidak ada calon istri di sini, aku tidak terikat dengan siapapun, dan wajar jika aku jalan dengan siapapun. Kak Arash tidak berhak menegur Kak Arsal! Tidak berhak sama sekali!” kata Almira dengan tegasnya, menegaskan posisi mereka berdua.
“Lagi pula aku juga tidak merasa punya calon suami yang tidak bertanggung jawab, sudah dia menculik aku, lalu ditinggalkan begitu saja di restoran. Aku benar-benar dibuat seperti wanita murahan, habis di pakai, lalu diberikan uang kemudian ditinggalkan begitu saja! Apa pantas aku menganggap pria itu sebagai calon suamiku, calon imamku, untuk saja aku memilih mengakhiri lamaran tersebut,” sindir Almira tanpa menatap Arash sedikitpun saat berkata-kata. Arash yang merasa tersindir merenggangkan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Almira, dan gadis itu buru menarik tangannya.
Arsal meneguk habis minuman kalengnya, lalu meremukkan kaleng minuman tersebut dengan sekuat tenaganya dengan menatap tajam ke arah Arash.
“Ya ... untung kamu sudah mengakhiri lamaran dengan cowok yang tak berguna itu. Masih banyak pria diluar sana yang lebih baik dari cowok brengsek itu!” geram Arsal rasanya ingin baku hantam saudara kembarnya setelah mendengar sindiran Almira untuk Arash.
bersambung ... duh jangan sampai deh Arsal dan Arash berkelahi nih 🤧
__ADS_1