Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Amarah Mommy Alya


__ADS_3

Ruang kesehatan


Mencekam, suasana benar-benar mencekam di ruang kesehatan yang ada di dalam hotel. Wajah tampan Arash kembali memar setelah Alvan melepaskan bogeman mentahnya ke wajah pria bermata biru itu, saking marahnya.


Mommy Alya yang baru saja tahu, dan datang bersama daddy Erick, untuk pertama kalinya menampar pipi anaknya, mommy Alya benar-benar murka kepada Arash.


Sekarang pria itu hanya bisa berdiri terpaku dengan menundukkan kepalanya, sedangkan dua keluarga yang baru saja mau berbesanan tampak tidak menyukai Arash.


Almira masih berbaring lemah di ranjang, dengan hidung yang terpasang selang oksigen. Mama Tania terlihat amat sedih, sembari mengusap pucuk kepala Almira, berharap segera sadar.


Alvan dan Alvin sebenarnya sudah menggebu-gebu ingin kembali menghajar Arash, namun Papa Albert meminta mereka untuk menahan diri, walau tadi sempat Alvan memukul Arash.


“Mana perempuan itu, yang telah mencelakakan menantu Mommy, berani bilang menantu Mommy pelakor!” geram Mommy Alya, tatapannya begitu menyalak saat beradu pandang dengan Arash.


Hati wanita mana yang tak sedih dikatai seorang pelakor padahal bukan seperti itu, sama dengan yang dirasakan oleh mommy Alya dan mama Tania, yang sama-sama dibilang sebagai pelakor oleh istri tua suaminya, padahal mereka berdua tidak pernah masuk ke dalam rumah tangga orang lain, tapi mereka ditarik dan tenggelam dalam rumah tangga suaminya dengan istri pertamanya.


Mommy Alya mengusap air matanya dan menarik tangan Arash agar mengikutinya, lalu meminta pada petugas security menunjukkan keberadaan wanita itu.


Sherina masih berada di ruang manajemen di temani oleh salah satu petugas security, di saat Arash dan mommy Alya masuk ke ruangan, wanita itu langsung berdiri dengan menatap wanita paruh baya.


Pasti ini mamanya Arash, aku harus terlihat sopan dan baik, batin Sherina.


Mommy Alya memindai wanita itu dari ujung kaki sampai ujung rambutnya, lalu menyeringai tipis. Melihat gaya Sherina, dia teringat mantan istri suaminya, Agnes.


PLAK!


Bunyi tamparan begitu nyaring di telinga orang yang berada di ruangan tersebut, Arash hanya bisa terdiam. Sherina yang baru saja kena salam tempel dari mommy Alya, langsung memegang pipinya yang sudah memerah.

__ADS_1


“Berani sekali kamu bilang menantu saya seorang pelakor! Dan kamu sudah bertindak kejam, hampir saja menghilangkan nyawa orang lain! Kasus ini akan saya laporkan kepada pihak berwajib!” kata Mommy Alya sembari menahan emosinya agar tak meledak.


“Dia memang pelakor Tante, memangnya salah aku bilang dia pelakor, dia merebut pacar aku. Aku jelas tidak terima!” seru Sherina.


Mommy Alya langsung menoleh ke belakang, lalu menatap Arash dengan tajamnya. “Pacar!” kata Mommy Alya mengulang ucapan Sherina. Selama ini mommy Alya tidak pernah tahu jika Arash memiliki kekasih, yang dia tahu hanya sekedar teman.


“Arash, benarkah yang dia katakan sama Mommy?” tanya Mommy Alya, suaranya mulai terdengar tinggi.


“Kami sudah berpacaran selama tiga tahun Tante, dan aku juga sering main ke apartemen Arash. Oh iya aku belum mengenalkan diri, namaku Sherina, Tante. Aku juga teman kuliahnya Arash,” ucap Sherina terlebih dahulu dengan begitu santainya dan tak ada rasa hormatnya kepada mommy Alya, seperti mengajak ngobrol dengan teman saja gayanya.


Mommy Alya terlihat semakin geram dengan Arash, tangannya pun terkepal dengan kuatnya menahan emosi yang membuncah dihatinya. Wanita paruh baya itu dibuat tercengang dengan kata Sherina sering main ke apartemen Arash, pikirannya pun langsung negatif kepada putranya tersebut. Apalagi yang diperbuat oleh dua orang dengan jenis kelamin berbeda di apartemen tanpa pengawasan orang tua. Terpukul rasanya hati mommy Alya, yang telah membebaskan anaknya untuk tinggal di apartemen selama beberapa tahun, dan ini sudah terjadi.


“Mommy benar-benar kecewa denganmu Arash, kamu bukan hanya menutupi tentang pacar mu, tapi kamu juga telah membawa seorang wanita ke apartemen! Apa yang kamu lakukan di sana, Arash!” bentak Mommy Alya, rasa marah dan kecewa melebur menjadi satu.


“Tante kaya gak tahu anak muda aja, ya pasti ... ya begitulah,” sahut Sherina, senang sekali dia membuat keadaan semakin panas.


“Aku tidak memperkeruh, aku hanya bilang apa adanya sama mama kamu, biar tahu. Seharusnya aku yang dilamar kamu bukan bocah ingusan itu!” balas kata Sherina ikutan meninggi.


Sorot mata Arash begitu tajam menatap Sherina, sedangkan Sherina membalas dengan tatapan sinis.


Mommy Alya silih berganti menatap Arash dan Sherina, hatinya benar-benar hancur berkeping-keping, merasa gagal mendidik anak, merasa gagal sebagai orang tua.


“Baiklah Arash, mungkin ini yang kamu mau, telah mempermalukan Almira! Mommy tidak tahu apa yang selama ini kamu perbuat dengan pacarmu ini selama. Namun yang jelas Mommy benar-benar sangat kecewa. Acara yang barusan terjadi akan dibicarakan kembali dengan keluarga Almira, mencari yang terbaik ... Mommy tidak tega jika Almira harus memiliki suami sepertimu, tak pantas rasanya!” tutur Mommy Alya dengan tegasnya.


DEG!


Kedua netra Arash membulat saat itu juga, dan mengerti maksud perkataan mommy Alya. “Mom, jangan Mom. Arash tidak melakukan hal yang berlebihan dengan Sherina. Lagi pula Arash sudah memutuskan hubungan dengan Sherina,” jawab Arash. Mommy Alya tidak menjawab nya, namun wanita paruh baya itu meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Hati Sherina sorak bergembira melihat mommy Alya percaya dengan apa yang dia ucapkan.


“Brengsek lo ya! Telah memfitnah gue sama mommy gue! Ingat kita tidak pernah melakukan hal yang berlebihan!” maki Arash, ketika dia mendekati Sherina dengan murkanya. Petugas security menahan lengan Arash karena terlihat ingin memukul Sherina.


“Ingat Arash! Aku bakal mengagalkan hubungan kamu sama tuh bocah sampai kapanpun!” jawab Sherina dengan tatapan tajamnya.


Arash digerek untuk keluar ruangan agar tidak terjadi keributan, sedangkan Sherina tetap berada di sana, sampai ada perwakilan keluarga yang datang.


Kembali ke ruangan kesehatan ...


Dokter sudah mengecek kesehatan Almira, dan terlihat sudah agak membaik. Papa Albert meminta izin agar Almira bisa beristirahat di kamar yang telah mereka pesan, Dokter pun mengizinkannya.


Mereka sekeluarga mengantar Almira ke kamar, sedangkan keluarga daddy Erick tidak mengantarkannya, saat ini dua keluarga tersebut mencoba menenangkan diri terlebih dahulu, setelahnya akan dibicarakan kembali tentang kelanjutan hubungan anak mereka.


Sesampainya di kamar, mama Tania membantu Almira menggantikan pakaiannya, dan membersihkan make up pada wajah anak gadis semata wayangnya, tak terasa mama Tania berderai air mata saat menatap wajah sendu Almira.


Hati ibu mana yang tak sedih, mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Sherina untuk putrinya yang baik, yang tahu tentang budi pekerti, yang tahu mana yang dilarang dalam agama.


Almira mengusap air mata yang jatuh di pipi mamanya. “Mah.” Gadis itu memeluk mama Tania dan turut menangis dalam pelukan mamanya.


Aku bukan pelakor, Mah.


 


bersambung ....


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya. Makasih sebelumnya.

__ADS_1



__ADS_2