Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Disidang


__ADS_3

Ruang Tengah


Almira dan Arash sudah duduk berdampingan, tanpa banyak mengeluarkan suara sedikit pun.


Sedangkan Daddy Erick, Mommy Alya yang masih mengenakan infusnya serta Mama Tania sudah duduk berhadapan dengan kedua tersangka tersebut, astaga tega sekali sebutnya tersangka ... ralat maksudnya kedua anak muda tersebut.


Suhu ruangan yang dingin dan sejuk karena air conditioning siang ini tidak berlaku buat Almira dan Arash, kedua kening mereka sudah terlihat ada buliran-buliran bening sebesar biji jagung membasahi keningnya. Sesaat ujung ekor netra Arash melirik Almira yang sedari tadi menundukkan kepalanya, dan selalu menautkan jemarinya sendiri.


“Baiklah ... sekarang katakan pada Daddy, kalian berdua sudah berciuman?” Suara Daddy Erick terdengar tidak ramah, karena yang terdengar hanyalah pertanyaan dengan tegas.


Arash menatap ketiga orang tua tersebut, dan menarik napasnya dalam-dalam sejenak.


“Aku tidak sengaja cium bibir Almira, Dad. Benar-benar tidak disengaja,” jawab jujur Arash, tidak dilebihkan. Tapi sayangnya tatapan Daddy Erick seakan tidak percaya dengan ucapan anaknya sendiri, apalagi melihat Almira menundukkan kepalanya.


“Benar kamu tidak sengaja cium Almira, atau kamu berbohong pada Daddy. Apalagi kamu punya pengalaman berpacaran di luar sana!” sindir Daddy Erick.


Pria bermata biru itu mendesah, dan sudah menduga jika daddy nya pasti tidak akan mempercayainya


“Daddy benar-benar kecewa jika kamu sampai berbohong pada kami, dan Daddy tidak rela jika kamu sampai merusak anak dari teman Daddy.” Tatapan Daddy Erick sangat tajam kepada anaknya sendiri.


Arash menegakkan punggungnya dan terlihat sikap tubuhnya yang menunjukkan keberanian dirinya terhadap Daddynya. “Aku siap dihukum apapun oleh Daddy dan Mommy jika tidak percaya. Aku memang tidak sengaja melakukannya, dan karena itulah tadi aku mengejar Almira, takut dia marah padaku, tapi malah ketahuan sama Daddy. Dan aku juga siap bertanggungjawab, karena aku memang tidak ada niatan buat merusak Almira,”  jawab Arash dengan tegasnya.


Sekarang giliran Daddy Erick melayangkan tatapannya ke Almira. “Almira, sekarang Daddy tanya, apa benar Arash tidak sengaja cium kamu?” tanya Daddy Erick, nada suaranya agak rendah berbeda ketika bertanya dengan Arash.


Gadis cantik itu menegakkan wajahnya, tersirat dari sorot matanya ada rasa takut dengan ketiga orang tua tersebut. “Sebenarnya ini salah Almira, Daddy ... bukan salah Kak Arash. Almira lupa jika Kak Arash lagi duduk di samping Mira, gara-gara tangan Kak Arash pegang tangan Mira, Mira langsung tengok ke samping ... terus itu Daddy—,” malu sudah Almira menceritakannya.


Mommy Alya yang sedari tadi hanya memperhatikan dan diam saja, rasanya ingin ketawa.


Kedua netra Almira mulai berkaca-kaca, bukan karena sedih tapi menahan rasa malunya dengan Daddy Erick, Mommy Alya dan Mama Tania.


“I-ini s-semua juga karena Kak Arash, duduknya terlalu mepet ke Mira. Mira gak bisa bergerak ... Mira udah nyuruh Kak Arash buat ngeseran duduknya malah gak mau. Jadinya kan—.” Dasar bocah SMU, kadang timbullah sifat kekanak-kanakan, mimik wajah Almira amat polos dan lugu saat ini, ingin rasanya ketiga orang tua yang duduk berhadapan dengan Arash dan Almira untuk menertawakan Almira, tapi ditahan ... tidak enak rasanya.


“Hiks ...,” kedua bahu Almira mulai naik turun, seperti ingin menangis.


“Sudah ... sudah jangan diterusin lagi, Daddy sudah paham.” Ya harus paham dong Daddy, dulu malah sama Mommy Alya ... Daddy juga pernah begitu, dipepet terus jangan sampai kabur.


“Mira malu ... ini gara-gara Kak Arash!” mulai sesegukan Almira. Ingin rasanya Arash merengkuh tubuh mungil gadis itu, namun sudah ke duluan dipeluk sama Mama Tania.


“Cup ... Cup sudah jangan nangis ah,” bisik Mama Tania menenangkan Almira.


“Ini gara-gara Kak Arash Mah,” jawab Almira masih tersedu-sedu.

__ADS_1


“Iya Almira, aku yang salah, dari tadi aku kan sudah minta maaf,” timpal Arash, dengan lembutnya.


Almira mengurai pelukannya dengan Mama Tania, kemudian menoleh ke samping. Gadis itu dengan kedua netranya yang masih sembab, menelisik Arash dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lalu ...


“AAWW!” jerit Arash kesakitan. Gadis itu menyeringai tipis setelah menginjak salah satu kaki Arash begitu kuatnya.


“S-sakit Almira,” kata Arash mengadu.


“Siapa suruh cium bibir aku,” kata Almira dengan ketusnya.


“Kan gak sengaja Almiraku, sayangku,” balas Arash.


“Sayangku ... Sayangku kepala lo peyang!” sahut Almira sembari beranjak dari duduknya.


Arash mendongakkan wajahnya ketika Almira sudah berdiri di hadapannya. Lalu ...


“AAWW ... AAWW!” jerit kesakitan kembali Arash.


“Ini hukuman buat Kak Arash!” geram Almira, gadis itu kembali menginjak telapak kaki Arash dengan brutalnya, Arash tak kuasa menarik kedua kakinya, sudah tak tertolong.


Tapi tiba-tiba saja badan Almira doyong, dan dia berpegangan pada rambut Arash untuk menjaga keseimbangan, sedangkan Arash refleks memegang pinggang Almira.


“Astaga Ya Allah ...” kata Daddy Erick serempak sama Mommy Alya, lalu tak lama mereka berdua terkekeh. Cie cie ada yang ingat masa muda ya.


Terjadilah jambak-jambakan di atas sofa sampai terguling ke atas karpet.


“Ampun Almira, sakit!” rengek Arash.


“Biarin ini gara-gara Kak Arash, bibirku sudah ternoda,” geram Almira. Benar-benar tidak ada yang memisahkan mereka berdua, sampai rambut Arash dan Almira jingkrak ke atas semua.


“Baiklah Bu Tania, sepertinya saya harus bertemu dengan Pak Albert, untuk kembali negosiasi pernikahan mereka berdua, lihatlah mereka berdua sekarang sudah saling berpelukan di lantai. Dan Arash harus bertanggungjawab atas kelakuannya,” kata Daddy Erick kepada Mama Tania.


Pergulatan tiba-tiba terhenti setelah mendengar kata-kata Daddy Erick. Lalu mereka berdua baru menyadari posisi tubuhnya, jika Almira sudah berada di atas tubuh Arash.


“Astaghfirullah,” gumam Almira, tepok jidat si Almira karena gak sadar dengan dirinya sendiri, gadis itu pun bangkit dari atas tubuh Arash dengan wajahnya yang mulai merah merona, menahan malu.


Arash samar-samar tersenyum tipis mendengar rencana daddy-nya, sungguh amat menguntungkan buat dirinya walau kepala dan kakinya sekarang terasa berdenyut sakit.


“Aku siap bertanggungjawab, Daddy,” sahut Arash semangat, sembari berubah posisi dari pembaringan menjadi duduk


Almira mendengkus kesal. “Daddy, Mira gak mau nikah sama Kak Arash, karena Kak Arash belum bisa ngaji, surat Alfatihah aja gak hapal, terus masih suka mabuk-mabukan, masih ikutan geng motor, masih berhubungan dengan Kak Sherina maupun sama wanita di luar sana. Pokoknya Mira gak mau punya suami kayak begitu,” sahut Almira dengan bibir yang mengerucut.

__ADS_1


Arash langsung menatap Almira yang sama-sama masih duduk di atas karpet. “Kalau aku bisa baca Al Qur'an, lalu tidak mabuk-mabukan, keluar dari geng motor, dan tidak punya hubungan dengan wanita manapun selain mommy dan kamu. Kamu masih mau terima aku gak jadi suami kamu?” tanya Arash serius.


Almira malah diam saja, lalu gadis itu menatap wajah Mama Tania seperti sedang mencari jawaban.


“Aku kasih waktu sebulan melihat perubahan Kak Arash. Jika tidak ada perubahan dalam diri Kak Arash, maka Kak Arash tidak bisa jadi suami aku! Mending aku tunggu dilamar sama Ustad Ridwan aja!” imbuh Almira.


GLEK!


Tercekatlah saliva Arash di tenggorokannya, di tambah hatinya kembali meradang karena nama Ustadz Ridwan kembali naik ke permukaan.


“Tolong jangan sebut nama Ustadz Ridwan lagi, Almira. Aku gak suka!” pinta Arash dengan kesalnya, lalu pandangnya teralih ke arah Daddy Erick. “Aku akan belajar berubah demi bisa jadi suami Almira, Daddy, Mommy tolong panggil kan guru agama, biar aku kembali belajar agama,” pinta Arash, menunjukkan wajah seriusnya.


Mommy Alya sedikit tersenyum mendengar permintaan anaknya sendiri untuk kembali belajar dan mau berubah.


“Izinkan aku untuk berubah menjadi lebih baik untukmu Almira,” kata Arash ketika kembali menatap Almira.


“Kak Arash berubah lah untuk diri sendiri, jangan karena untukku,” balas Almira.


Saking gemasnya Arash melihat Almira tidak menatap dirinya saat bicara, dicondongkanlah dirinya.


CUP!


“KAK ARASH!” teriak Almira, setelah pipinya dikecup sama Arash. Pria itu lantas beringsut dari duduknya, begitu juga dengan Almira.


Terjadi lagi mereka berdua main kejar-kejaran di dalam mansion.


Daddy Erick, Mommy Alya dan Mama Tania jadi ngelus dada, tak bisa melarang mereka berdua lagi.


“Sebaiknya saya harus menghubungi Pak Albert sekarang, mungkin bisa mampir ke sini, biar kita langsung  membicarakan tentang hubungan anak kita,” kata Daddy Erick.


“Silahkan Pak Erick, kebetulan suami saya juga akan menjemput kami berdua di sini,” jawab Mama Tania.


“Syukurlah kalau begitu, pas waktunya.”


 Otwlah kalau begitu ...


bersambung ...



 

__ADS_1


__ADS_2