Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Perjalanan


__ADS_3

Arash terlihat sangat menikmati perjalanan kali ini menuju Puncak Bogor, yang biasanya dia suka jalan bersama dengan teman geng motornya. Namun, kali ini sama calon istrinya, ternyata jalan dengan Almira tidaklah membosankan, tidak seperti jalan dengan Sherina yang sangat mengesalkan. Ya Iyalah si Bang Wowo jelas beda, sudah jelas Almira dan Sherina beda tipe beda casing juga.


Baru setengah perjalanan mereka beristirahat sebentar di rest area, kebetulan Almira kebelet mau ke kamar mandi, sedangkan Alvin mau isi tangki dulu di salah satu minimarket dengan mengeret calon iparnya untuk turut masuk ke dalam minimarket.


Langkah kaki Alvin sudah menuju ke stokist minuman dingin, lalu lanjut ke bagian cemilan, segala rupa minuman dan cemilan dia masukkan ke dalam keranjang merah yang Arash bawa.


“Vin ini benaran mau beli sebanyak ini?” tanya Arash sembari berulang kali mengerjapkan kedua netranya.


“Kita'kan ada berempat, jadi cukuplah, lagian ukuran tangkiku sebenarnya besar cuma ketutup sama otot-otot yang menggemaskan ini,” jawab santai Arash, tangannya mengusap perut datarnya.


Arash hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan calon iparnya selain gemar coklat, ternyata dia doyan gemil, sepertinya mulutnya tidak bisa berhenti mengunyah.


“Vin, kalau calon istriku sukanya minum apa ya?” Pria itu membuka stokist minuman itu.


“Ambil aja teh tarik, terus susu coklat, sama jus pome. Dia gak suka minuman soda, terus cemilannya kripik kentang, sama kripik jagung, terus dia pecinta roti yang isinya sosis,” jawab Alvin.


Setelah dapat informasi dari Alvin, tangan Arash mengambil minuman yang disebut oleh Alvin, kemudian lanjut ke bagian cemilan. Tanpa disadari oleh Arash, semakin penuh keranjang merah yang ada ditangannya, terpaksa ambil satu keranjang merah lagi.


“Dah Kak Arash, tinggal dibayar nih,” kata Alvin meletakkan kedua keranjang ke atas meja kasir, sembari nyengir kuda. Sebenarnya Alvin mampu membayarnya, tapi boleh dong ngerjain calon iparnya, bagi Arash masalah uang no problem, jajan habis 700 ribu itu hanya bilangan kecil.


Almira yang sudah selesai urusannya ke toilet bersama Siti, menunggu kedua pria itu di depan minimarket.


Tak lama kemudian Arash dan Alvin keluar dari minimarket dengan membawa beberapa tas belanjaan berwarna biru. “Kak Alvin itu gak salah belanja banyak amat, memangnya mau buka warung,” celetuk Almira, saat kedua pria itu mendekatinya.


“Biasa buat stok, agar kediaman tangki ku yang tersayang ini aman sentosa,” jawab santai Alvin.


Almira hanya mengerucutkan bibirnya, dan memicingkan kedua netranya. “Kebiasaan!”


“Sayang, aku juga beli minuman kesukaan kamu nih,” ucap Arash, tas belanja yang ada ditangan kanannya di naikkan sedikit.


“Mmm ... ya udah kita lanjut perjalanan lagi Kak Arash yang lainnya sudah masuk daerah Gadoq,” ajak Almira.

__ADS_1


“Oke,” sahut Arash.


Mereka sama-sama bergerak menuju parkiran mobil, dan kembali melanjutkan perjalanan. Namun, sebelum melanjutkan perjalanan, Arash menaruh tas belanja khusus makanan buat Almira dan dirinya, sedangkan selebihnya di taruh dibelakang.


“Kak Alvin jangan lupa, Siti dibagi juga,” celetuk Almira ketika mendengar suara kresek plastik chiki.


“Iya ini aku bagi juga kok sama Siti,” jawab Alvin, pria itu menoleh ke samping, menatap wajah Siti sebari menggoyangkan tas belanjanya. Dengan wajah malu-malu Siti membalas tatapan pria tampan itu. “Kamu pilih sendiri mau yang mana, asalnya jangan ambil kripik tempe, kripik coklat, kripik jagung, kripik basreng, biskuit, coklat, roti manis,” ucap Alvin dengan santainya.


Siti dibuat melongo setelah melihat semua isi tas belanja Alvin adalah yang tak boleh dia pilih, terus dia harus pilih apa dong.


Alvin tertawa melihat wajah polos Siti agak bingung. “Jangan bingung Siti, dibilang begitu aja langsung bingung mau pilih apa,” celetuk Alvin.


“Ya bukannya begitu Vin, yang ada di dalam tas isinya yang tadi kamu sebutin, terus aku boleh ambil yang mana,” jawab Siti, kayak orang pasrah.


“Aku bercanda Siti, udah cepetan ambil aku udah pegel nih pegangannya,” keluh Alvin.


Siti baru nyadar dari tadi tas dipegangi sama Alvin. “Sorry, Vin.” Buru buru dia merogoh tas belanja dan mengambil bungkus kripik. “Sekalian minumnya diambil juga,” pinta Alvin.


Sementara itu di bagian depan mobil, Almira sedang mengunyah kripik kentang yang dibelikan Arash. “Sayang, aku mau juga dong kripiknya, suapi aku,” pinta Arash dibalik kemudinya.


Duh ... merinding lagi bulu kuduk Almira, tapi mau bagaimana lagi, melihat kedua tangan Arash sedang mengendalikan laju mobilnya, gak akan bisa dia merogoh kripik untuk di makannya dengan tangannya sendiri.


Almira menyerong duduknya agak menyamping menghadap Arash. “Aaa ... Kak mulutnya,” pinta Almira, tangan kanannya sudah menyodorkan kripik kentangnya, dengan senang hati pria itu membuka mulutnya lalu menerima suapan dari Almira calon istri, duh tambah semangat Arash mengemudi mobilnya.


...----------------...


Menjelang tengah hari, mereka berempat sudah sampai di wilayah Mega Mendung, terpaksa Arash memarkirkan mobilnya karena harus menunggu orang pesantren yang akan menjemputnya, agar tidak tersesat saat masuk ke dalamnya, serta menunggu rombongan yang lain yang sebentar lagi menyusul mereka.


Berhubung mereka parkir mobil di depan toko-toko dan ada warung nasi padang, Arash berinisiatif untuk turun dan membelikan makan siang, dan seperti biasa aja temannya ikutan turun, siapa lagi kalau bukan Alvin.


“Kak Arash mau ke mana?” saat mereka berdua turun dari mobil, sedangkan Almira tidak turun.

__ADS_1


“Beli makan siang buat kita semua,” jawab Alvin.


Bocah SMU itu merangkul bahu Arash dengan santainya, maklum tinggi badan mereka sama sama 180 cm. Mereka bagaikan kakak beradik, sudah sama sama punya wajah ganteng, dan agak mirip jika di lihat sekilas. “Ayo Kak, tahu aja perutku lapar,” Alvin kembali nyengir.


Arash melirik perut datar Alvin, “kayaknya perut kamu isinya anak gajah ya, dari tadi makan aja kerjaannya,” celetuk Arash asal.


“Gak pa-pa isinya anak gajah, ketimbang anak orang, kan bingung anak siapa yang ada di perut aku ini,” jawab asal Alvin.


“Astaga Alvin ... ckckck!” Makin lama dekat sama Alvin berasa ikutan oleng ke kiri pikir Arash.


Untung saja Arash tahu tentang masakan padang, berhubung mereka menunggu orang jadi Arash memesan makannya dibungkus saja, dan seperti biasa Alvin menunjukkan beberapa lauk yang dipajang dan minta dibungkus terpisah dengan alasan biar tidak cepat basi. Jangan salah Alvin pilih semua lauk biar enak nanti pas makannya, untung orang kaya calon iparnya ya Vin, kalau enggak bisa bocor tuh dompet.


“Kak Arash, ini gak salah lauknya sebanyak ini?” tanya Almira saat mengecek belanjaan Arash, ketika pria itu sudah kembali masuk ke dalam mobil.


“Tuh tanya sama Alvin, dia yang pesan  semua nya, aku tinggal bayar aja tadi,” jawab Arash.


Kedua netranya Almira menajam ke arah bangku belakang, Alvin yang ditatap pura-pura lihat kantong nasi padang nya. “Buat sampai malam Almira, takut nanti malam gak kebagian lauk,” celetuk Alvin.


Almira hanya bisa mendesah, kata Alvin memang ada benar nya, karena biasanya suka tidak kebagian lauk karena ambil makanannya secara prasmanan, apalagi banyak peserta dari tempat lain, kadang masih ada orang yang ambil lauk satu piringnya dua lauk, dua pula jumlahnya, Padahal bagian yang masak sudah menghitung jumlah pesertanya.


“Benar kata Alvin, sayang, tidak harus dihabiskan sekarang, bisa buat nanti malam. Sekarang kita makan dulu ya, perut aku udah lapar, maklumlah sopir ... energi mulai terkuras,” kata Arah begitu menenangkan. Pria itu mengambil satu kotak nasi lalu plastik berisikan rendang dan membuka nya.


“Ayo sayang, makan dulu, kamu juga harus diisi perut nya,” pinta Arash, menyodorkan sendok makan ke mulut Almira.


Wajah gadis itu memerah, “Ayo sayang, dibuka mulut nya,” kembali meminta Arash.


“Tapi Kak, aku makan sendiri aja,” tolak harus Almira.


“Sudah sayang, sekalian aku yang suapin kamu.” Kali ini suara Arash terdengar tidak mau ada penolakan. Almira akhirnya memajukan wajahnya dan menerima suapan dari Arash dengan rasa yang canggung serta aneh. Iii so sweet banget si Bang Wowo, mommy juga mau dong disuapin ama Bang Wowo.


 bersambung ...

__ADS_1


 


__ADS_2