
Daddy Erick meninggalkan Arash begitu saja di dalam kamar mandi, tanpa banyak berkata lagi. Arash yang ditinggalkan meraup wajahnya yang basah dengan kasarnya, lalu membuang napasnya dengan kasar, dan tak tak lama pria itu menertawakan dirinya sendiri.
“Hanya karena gadis itu gue jadi begini!” terkekeh Arash sendirian, sembari kedua tangannya melepaskan pakaiannya yang basah dari tubuhnya.
Kemudian dia kembali mengguyur badannya dengan air hangat.
...----------------...
Daddy Erick kembali ke kamar utama, lalu berjalan menuju ruang walk in closet untuk mengganti pakaian namun sebelumnya dia melihat istrinya sedang terisak menangis di atas ranjang mereka.
Setelah berganti pakaiannya yang lumayan ikutan basah, Daddy Erick naik ke atas ranjang lalu memeluk istrinya yang memunggungi dirinya. “Sayang,” kata Daddy Erick begitu lembutnya.
Tak ada jawaban dari Mommy Alya, hanya suara isak tangis yang dia dengar, jika sudah begini butuh waktu lama Daddy Erick untuk menenangi istrinya. Daddy Erick berusaha merubah posisi Mommy Alya agar tidak memunggunginya, dan bisa berhadapan dengannya, untung saja Mommy Alya menurut, dan langsung membenamkan wajahnya ke dada pria paruh baya itu.
Daddy Erick mengecup lembut pucuk kepala istrinya, lalu mengusap lembut lengan istrinya, hingga akhirnya usapan itu membuat wanita paruh baya itu terbuai dan mulai menghentikan tangisannya karena sudah mulai tertidur.
Hati Ibu mana yang tidak merasa sedih dan sakit hatinya melihat anaknya main ke club malam ditambah minum-minuman hingga mabuk, Mommy Alya benar-benar terpukul terhadap dirinya sendiri, merasa gagal sebagai seorang ibu yang baik.
...----------------...
Esok hari.
Pagi ini tidak seperti hari biasanya, Arsal dan Nabilla merasa heran kenapa pagi ini kedua orang tuanya belum bangun dan tidak menemani mereka sarapan pagi.
“Kak, tumben mommy sama daddy belum bangun ya,” tanya Nabilla, sembari mengunyah nasi gorengnya.
“Kakak gak tahu, Billa,” jawab Arsal, sama-sama sibuk makan nasi goreng.
“Tuan dan Nyonya baru pulang jam tiga pag Non,” ucap sang kepala pelayan, yang kebetulan masih ada di ruang makan mengantar omelet pesanan nona kecilnya.
Arsal melirik pria paruh baya itu. “Pulang jam 3 pagi! Tumben,” ucap Arsal, dengan rasa ingin tahunya.
“Semalam Tuan Besar dan Nyonya jemput Den Arash, udah begitu Den Arash dalam keadaan mabuk,” jawab sang kepala pelayan.
Sendok yang ingin masuk ke dalam mulut Arsal langsung berhenti. “Astaga Arash mabuk!” terkejut Arsal.
__ADS_1
“Iya Den Arsal,” jawab sang kepala pelayan.
“Benar-benar ya tuh bocah masih aja gak berubah!” gerutu Arash sendiri, Nabilla hanya bisa menyimak saja.
“Assalamualaikum,” tiba-tiba saja ada suara pria yang sangat familiar di telinga penghuni mansion Daddy Erick.
“Waalaikumsalam,” jawab serempak Arsal dan Nabilla, sambil melihat sosok pemilik suara itu yang sudah berdiri di ambang pintu ruang makan, dengan membawa jinjingan paper bag di tangannya, serta boneka teddy bear di tangan lainnya.
Wajah Nabilla langsung cemberut, lalu menyantap sarapannya setelah melihat pria tampan itu, yang wajahnya mirip sekali sama daddy-nya yang ganteng.
“Hai Bro,” sapa Arsal, bangkit dari duduknya lalu menyambutnya dengan pelukan hangat, kedua pria itu saling berpelukan karena hampir enam bulan tidak bertemu.
“Bawa apa nih, Shaka?” tanya Arsal, sembari merangkul bahu sohibnya dari kecil sekaligus tetangganya.
Pria itu tersenyum lebar sembari melirik gadis yang mengacuhkan kehadirannya. “Biasa, aku bawa oleh-oleh buat non putri tukang ngambek,” kata Shaka, putra kembarnya Daddy Edward dan Mommy Ghina.
“Ah dikirain ada oleh-oleh buat aku dari Amerika, ayo sekalian sarapan,” ajak Arsal.
“Tenang aja, nih di dalam sini ada oleh-oleh buat kamu sama Arash kok,” jawab Shaka sembari menyodorkan paper bag yang lumayan besar ukurannya.
CUP
Shaka mencium pipi Nabilla, saat melewati gadis yang masih berusia 15 tahun itu. Nabilla langsung mengusap pipi bekas kena ciuman Shaka sambil menggerutu.
“Masih marah ya sama Kakak?” tanya Shaka begitu lembutnya sembari memberikan boneka teddy bear ke atas pangkuan gadis itu. Nabilla hanya melengos saja, tidak menggubris pria tampan itu.
CUP
Kembali lagi Shaka menggoda gadis kecil itu dengan mencium pipi Nabilla, dan hal itu membuat gadis itu tambah kesal. “Apaan sih, aku bukan anak kecil lagi yang suka dicium-cium pipinya!” kesal Nabilla, gadis itu melempar boneka yang diberikannya ke lantai lalu meninggalkan ruang makan.
Shaka hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nabilla yang tak pernah berubah dari kecil selalu marah kalau Shaka pergi jauh baik itu keluar kota maupun keluar negeri, dan sejak dulu memang Shaka suka cium pipi Nabilla dari gadis itu masih bayi karena gemasnya.
Shaka pun mengutip boneka yang sudah dijatuhkan oleh Nabilla, lalu duduk di bangku bekas gadis itu.
“Makanya kalau pergi jauh tuh pamit dulu sama Nabilla, kamu kan tahu dia itu paling kesal kalau kamu pergi. Apalagi kamu gak pernah telepon Billa kan?” tegur Arsal, sangat paham dengan perasaan adik bungsunya yang cantik kayak Mommy Alya.
__ADS_1
“Iya aku tahu, tapi udah sering kali telepon Billa, tetap aja gak di terima sama tuh anak,” jawab Shaka.
Kepala pelayan mulai menyiapkan sarapan tambahan buat Shaka agar bisa dinikmati.
Shaka sembari menikmati sarapan paginya, melirik bangku yang kosong. “Mommy, sama Daddy kemana, Ar?” tanya Shaka.
“Masih dikamar, kayaknya belum bangun,” jawab Arsal.
“Terus si Arash?”
“Biasalah, pasti lagi tidur juga, kamu kan tahu dia susah kalau dibangunin.”
“Mmm ... Iya juga sih,” jawab Shaka, sembari menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
Sementara itu di kamar utama, Daddy Erick yang baru terbangun dari tidurnya langsung kaget, badan wanita yang dia peluk terasa panas.
“Sayang, badanmu panas,” ucap Daddy Erick, punggung tangannya ditempelkannya ke kening Mommy Alya.
“Dad, mommy haus,” gumam Mommy Alya dengan kedua netranya yang masih terpejam.
Daddy Erick langsung meleraikan dekapannya, kemudian beringsut dari pembaringannya. “Sebentar ya sayang, Daddy ambilkan dulu,” jawab Daddy Erick bergegas mengambil air yang selalu di siapkan di atas nakas.
Orang tua jika sudah banyak pikiran, maka tubuh pun akan terbawa dampaknya, efeknya jadi sakit. Daddy Erick setelah memberikan minum untuk istrinya, segera menghubungi dokter pribadi, lalu meminta kepala pelayan membuatkan makanan lunak buat istrinya.
Daddy Erick mengusap lembut kening Mommy Alya yang terasa panas, lalu mengecupnya. “Maafkan Daddy ya sayang, mommy jadi sakit begini,” kata Daddy Erick penuh penyesalan.
Mommy Alya tidak bisa menjawab, karena matanya tak sanggup terbuka lama saking pusing kepalanya efek badannya demam. Daddy Erick paling sedih kalau lihat istrinya sudah sakit, paling gundah, kalau bisa sakitnya pindah aja ke dirinya, itu semua karena saking cintanya Daddy Erick sama Mommy Alya.
bersambung ...
Kakak Readers masih ingatkan sama Shaka, salah satu anak kembarannya Edward dan Ghina, hadir di sini ya.
__ADS_1