Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Menjenguk


__ADS_3

Sudah berapa orang yang sudah menasihati Arash, semoga saja hati pria itu mulai terbuka untuk merubah perilakunya, meninggalkan hal-hal yang buruk, terutama geng motornya yang sangat tidak bermanfaat.


Waktu terus berjalan, hari ini kebetulan tanggal merah jadi semua penghuni mansion Daddy Erick lengkap, namun berhubung Mommy Alya sedang sakit, suasana mansion berasa ada yang kurang.


Arash memilih kembali ke kamar setelah mengobrol dengan tante Vio, biasanya pria itu tidak betah di mansion walau hari libur, pasti dia akan kelayapan dengan geng motornya, tapi untuk hari ini dia tinggal di mansion saja.


Sementara itu di mansion Papa Albert, Mama Tania terlihat sedang bersiap-siap siang ini setelah membuat beberapa menu makanan dan memasukkannya ke wadah makanan, siap untuk dibawa.


“Tumben Mah, masaknya banyak banget?” tanya Almira melihat Mama Tania merapikan beberapa kotak yang sudah berisi makanan serta kue.


“Ini mau Mama bawa ke rumah teman Mama, mau jenguk,” jawab Mama Tania.


Almira mendudukkan bokong disalah satu kursi bar dapur. “Siapa yang sakit Mah?”


Wanita paruh baya itu menatap wajah anak gadisnya. “Yang sakit mamanya Arash.”


“Ooo ....” Bibir gadis itu membulatkan bibir ranumnya, sembari memutar bola matanya ke arah lain, sambil mengambil kripik kentang yang sedari tadi dia kunyah.


“Almira, mau temani Mama ke mansionnya?” tanya Mama Tania, sembari berharap anaknya mau ikut.


“Lagi pula Arash biasanya juga tidak ada di mansion, jadi  jangan khawatir, kamu tidak akan bertemu kok. Lagi pula menjenguk orang sakit itu perbuatan yang terpuji,” lanjut kata Mama Tania, seakan membaca pikiran Almira.


Gadis itu masih sibuk mengunyah keripik kentangnya, hatinya masih bimbang antara mau ikut atau tidak ikut. Mama Tania juga tidak mau memaksa Almira untuk ikut dengannya, tapi jika ada temannya itu lebih baik.


Seperti biasa Almira anaknya penurut sama kedua orang tuanya. “Ya sudah Mira ganti baju dulu Mah,” kata Almira sembari beringsut dari kursi tinggi itu.


Mama Tania tersenyum ketika melihat wajah Almira yang terlihat datar. “Iya, Mama tunggu di ruang depan ya,” jawab Mama Tania.


Gadis itu bergegas naik ke lantai dua, lalu mengganti pakaiannya dengan hati yang berharap tidak bertemu dengan Arash.


...----------------...


Mansion Erick.

__ADS_1


Hampir satu jam perjalanan dari mansion Albert menuju mansion Erick, mobil yang membawa Mama Tania dan Almira sudah tiba dan berhenti di luar lobby Mansion. Pak Toni setelah mendapat kabar akan kedatangan tamu tuan dan nyonya besarnya segera menyambut Mama Tania dan Almira di luar lobby.


“Selamat datang Nyonya Tania,” sapa Pak Toni, saat membukakan pintu mobil.


“Terima kasih Pak,” balas sapa Mama Tania.


Pak Toni sedikit melirik Almira yang ikutan keluar dari mobil mewah tersebut, sembari mengingat-ingat wajah Almira seperti pernah melihat sebelumnya. Gadis berambut panjang itu tersenyum kepada Pak Toni, kepala pelayan tersebut baru teringat jika gadis itu pernah datang membawakan kue dan undangan.


“Selamat datang Non,” sapa Pak Toni.


“Terima kasih, Pak.”


“Mari Nyonya, Non, silahkan masuk,” ajak Pak Toni, pria paruh baya itu memutar badannya dan memimpin masuk duluan diikuti oleh Mama Tania dan Almira.


Rupanya Daddy Erick juga baru turun untuk menyambut Mama Tania yang kabarnya sudah tiba di kediamannya.


“Assalamualaikum Pak Erick, “ sapa Mama Tania.


“Waalaikumsalam, terima kasih atas kedatangannya, Bu Tania,” sapa Erick dengan ramahnya sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, dan pria paruh baya itu juga tak menyangka jika Almira rupanya turut datang ke mansionnya.


“Iya Daddy, temani Mama ke sini, katanya Mommy Alya sedang sakit,” jawab Almira dengan sopan nya.


“Iya, Mommy sedang sakit, Almira. Kalau begitu kita langsung ke atas saja, kebetulan sudah ditunggu saat dapat kabar Bu Tania mau menjenguknya, dan ternyata Almira ikut datang juga, pasti Mommy senang,” kata Daddy Erick sembari tangannya menunjukkan jalan kedepan.


Mama Tania dan Almira mengikuti langkah kaki Daddy Erick menuju lantai dua ke kamar utama. Selama menuju ke kamar utama, kedua netra Almira menelisik ke setiap sudut, dan perasaannya tenang karena tidak menjumpai Arash.


Syukurlah ternyata Kak Arash tidak ada di mansion, batin Almira.


Sesampainya di kamar utama, Almira sempat terlonjak kaget melihat sosok Arsal yang sedang duduk di tepi ranjang, bagaimana tidak kaget rupa Arash dan Arsal sangat mirip yang berbeda hanya iris matanya serta gaya berpakaiannya.


“Masya Allah, terima kasih Tania, Almira sudah mau menjenguk saya,” ucap Mommy Alya menyambut kedatangan besan dan menantunya (masih berharap), wanita paruh baya itu sudah duduk bersandar di head board ranjang.


“Biar cepat sembuh Mbak Alya, oh iya saya bawakan makanan semoga bisa bikin sehat nih ” jawab Mama Tania, sembari menaruh paper bag ke atas nakas.

__ADS_1


Wah ada calon istrinya si Arash, semoga aja dia tidak tahu, kalau calonnya ada di sini, batin Arsal.


Arsal terpaksa bangkit dari duduknya dan tersenyum hangat pada gadis cantik itu saat tak sengaja saling bersitatap, Almira pun tersenyum kikuk pada Arsal.


Hampir saja jantungku copot, dikirain Kak Arash, ternyata Kak Arsal, batin Almira.


Almira buru-buru mendekati Mommy Alya lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan takzimnya. “Sakit apa Mom?” tanya Almira.


“Mommy demam dan agak kelelahan Nak, dikirain Mommy hanya mama kamu saja yang datang, ternyata kamu datang juga,” jawab Mommy Alya, wajah pucatnya terlihat berseri-seri melihat kedatangan calon menantu yang dia harapkan.


“Mumpung lagi  libur sekolahnya, jadi sekalian saya ajak ke sini, Mbak Alya,” sambung Mama Tania.


Almira hanya bisa mengulas senyum tipisnya, lalu memberi ruang buat mamanya agar bisa mengobrol dengan Mommy Alya, dan dia memilih untuk duduk di sofa bersama Arsal.


Pak Toni datang kembali ke kamar utama dengan membawakan minuman dan cemilan untuk Mama Tania dan Almira, Arash yang baru saja keluar dari kamarnya dan tak sengaja melihat Pak Toni membawa makanan dan minuman tersebut, bertanya untuk siapa, dan dijawab kalau ada tamu Nyonya. Pria bermata biru itu pun lantas mengikuti ke kamar utama, ingin tahu siapa yang menjenguk mommy nya.


DEG!


Jantung Arash berdebar-debar melihat Almira duduk di salah satu sofa dan terlihat sedang ngobrol santai dengan saudara kembarannya.


Pak Toni terlihat menyajikan minuman dan makanan yang dia bawa di atas meja sofa.


“Silahkan di minum ya Non, sekalian buat mamanya ada di sini,” kata Pak Toni.


“Makasih banyak Pak,” jawab Almira langsung tatapannya beralih ke Pak Toni, lalu meluruskan pandangannya ke arah ambang pintu, tertangkaplah sosok pria kembaran Arsal.


Hufh, ternyata dia ada disini, batin Almira.


Wajah pria itu terlihat datar, kedua kakinya melangkah masuk lebih dalam, lalu dia duduk di sofa yang berhadapan dengan Almira. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya dan tidak menyapa Arash.


 


bersambung ....

__ADS_1


 


 


__ADS_2