Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Calon istri saya!


__ADS_3

Sungguh begitu banyak sekali orang memandang Almira sebelah mata, gadis yang memiliki wajah cantik memang selalu berpenampilan sangat sederhana, tidak pernah menunjukkan dia dari keluarga yang kaya. Cara berpakaiannya pun bisa dikatakan tidak mengenakan merk yang sudah brandid atau yang terkenal, selama bajunya dirasa nyaman dan cocok ditubuhnya maka dia kenakan dan tidak melihat seberapa murah harga pakaian yang dia kenakan.


Ana Marissa yang sudah menginjak usia 21 tahun, berasal dari keluarga mampu yang memiliki usaha travel umroh dan haji yang sangat terkenal di Jakarta. Namun, lebih kaya keluarga Almira ketimbang Ana.


Wanita yang memiliki garis keturunan Asia, memang suka berpenampilan yang cukup wah serta glamor terlihat dari model gamis yang dia kenakan hasil rancangan desainer yang terkenal khusus model pakai muslim, termasuk hijab yang dipakai nya.


Ana masih melirik wajah Almira, walau Arash sudah mempersilahkan dirinya untuk berbicara. Raut wajah Ana sungguh pandai menyembunyikan wajah kecewanya melihat Almira belum juga berinisiatif untuk meninggalkan mereka berdua. Bagaimana Almira mau meninggalkan Arash, pria itu justru menautkan jemarinya ke jemari Almira.


Buat Arash kali ini, dia tidak mau mengulangi kejadian untuk kedua kalinya, yang pertama di saat usai acara lamaran, dia tak sengaja melepaskan tangan Almira, dan kali jangan sampai terjadi.


“Kak Arash, sepertinya aku tidak bisa ada di sini, sepertinya ada hal yang pribadi ingin dia bicarakan,” ucap Almira, sembari berusaha melepaskan tautan tangannya, tapi sayangnya tenaga Arash lebih kuat.


Arash menatap hangat gadis yang ada di sampingnya itu. “Buat aku tidak masalah kalau ada kamu,” jawab Arash.


Siapa sih wanita itu, kenapa tetap duduk di samping Kak Arash, batin Ana.


Wanita itu masih tampak tenang dan tersenyum tipis pada Arash, dan menghiraukan keberadaan Ana. Prima yang berdiri tak jauh dari bangku tersebut, hanya bisa menatap jengkel melihat Almira masih menempel dengan pria yang disukai oleh temannya. Hey bukan Almira yang menempel, tapi Arash lah yang menempel pada Almira!


Wah gak tahu diri tuh cewek masih aja nempel sama tuh cowok, batin Prima agak kesal.


Arash menatap dingin ke arah Ana. “Jadi apa yang ingin kamu bicarakan Ana?”


Almira menatap Ana, wanita yang dia tahu sangat menyukai Arash. Gadis itu membalas senyuman wanita itu, lalu melayangkan pandangannya ke arah yang berbeda.


“Maaf ya Mbak, bukan maksud saya tidak sopan. Ini benar-benar hal pribadi saya dengan Kak Arash,” ucap Ana meminta dengan lembutnya pada Ana, tapi berharap sekali agar Almira beranjak dari duduknya.


Almira menoleh ke samping dan menatap Arash, dengan tatapan memohon, agar melepaskan tangannya. Pria itu dengan santainya bertanya, “hal pribadi apa Ana?”


Ana menghela napas akhirnya dan membiarkan Almira tetap ada di antara mereka berdua. Eeh gak salah yang ada Ana yang berada di antara mereka berdua, bukan Almira!

__ADS_1


Wajah teduh dan enak dipandang itu menatap dalam wajah Arash tanpa ada rasa malu sedikit pun. “Mmm ... begini Kak Arash tadi saya ada ngobrol sedikit dengan Ustadzah Syofi, dan mengungkapkan jika saya ada niatan untuk ta’aruf dengan Kak Arash, sejujurnya saya ingin lebih mengenal Kak Arash, dan ingin menjajaki hubungan yang lebih serius ke arah pernikahan. Lagi pula waktu semalam kita berkenalan Kak Arash bilang belum menikahkan,” tutur Ana begitu tenangnya.


Sontak saja Almira langsung berdiri, namun tangan kanannya masih menyangkut di tangan Arash. Wajah Arash dibuat pias dengan ucapan Ana yang menurutnya sangat berani buat wanita yang memakai hijab, ternyata menurut Arash sama saja dengan wanita kebanyakan di luar sana, yang membedakan hanyalah kemasannya saja.


“Bagaimana Kak Arash, bersedia kah?”


Almira hanya bisa menggelengkan kepalanya, cara mengajak ta'aruf itu tidak seperti begini, ini sama saja dengan berkenalan secara langsung, sama seperti hal yang banyak dilakukan dalam membina sebuah hubungan.


Arash turut berdiri karena Almira juga berdiri. “Kak Arash, aku mau ke kamar. Sebaiknya selesaikan pembicaraan kalian berdua,” pinta Almira, sudah mulai merasa tidak nyaman.


Pria itu mengikis jarak dengan Almira, agar lebih dekat, lalu menatap Ana dengan dinginnya. Ana yang ditatap oleh Arash mulai panas dingin, karena saking tampannya wajah pria itu.


“Ana sepertinya ada salah paham di sini, saya saat ini memang belum menikah, tapi sudah punya calon istri dan sudah melamarnya,” Arash melayangkan pandangannya dari Ana dan kini menatap Almira dengan tatapan hangatnya, dilepaskannya tautan jemarinya, lalu tangan besar itu merangkul lekuk punggung wanita itu.


“Perkenalkan ini calon istri saya namanya Almira,” ucap Arash pada Ana.


Sejenak Ana terkejut, namun secepatnya mengontrol rasa terkejutnya, dan kembali memindai Almira dengan tatapan yang amat menyelidik. Almira mengulurkan tangannya dan Ana terpaksa menjabat tangan gadis itu.


Almira spontan menajamkan tatapan matanya, akan tetapi berusaha tenang. Lain hal dengan Arash, semakin erat merangkul pinggang Almira.


"Semua bukan rencana Ana, saya datang kesini pun bersama calon istri saya bukan seorang diri, dan ini buktinya saya sudah melamarnya," sentak Arash, namun tidak terlalu tinggi nada bicaranya, sembari menunjukkan cincin lamaran yang dia kenakan di jari manisnya.


Ana bergeming seketika ...


“Aurat yang tertutup dengan sempurna memang lebih baik, tapi tidak menjamin dengan sikap dan sifatnya turut lebih baik, bisa saja jauh dari kata lebih baik atau justru buruk. Dan tidaklah orang itu terlihat buruk saat seseorang belum bisa menutupi auratnya dengan sempurna, namun sikap dan sifatnya lebih baik dari orang yang mampu menutup auratnya. Jangan pernah menjudge seseorang dari luarnya!” lanjut kata Arash dengan tegasnya, tatapannya juga begitu tegas pada Ana.


Arash kembali menatap Almira. “Ayo sayang, aku antar ke pondokan,” kata Arash. “Oh iya saya ingatkan sekali lagi Ana, jangan selalu ambil persepsi atas sikap ramah seorang pria, bukan berarti pria itu menyukai mu, tapi hanya menjaga kesopanan santunan. Dan satu lagi sayangilah hijab yang kamu kenakan, seharusnya malu jika kamu duluan mengajak taaruf pada laki-laki, padahal wajah kamu cantik tapi kenapa mengajukan diri terlebih dahulu, berarti ada yang salah dengan kepribadian mu,” pungkas Arash.


DEG!

__ADS_1


Hati Ana mencelos dapat teguran yang begitu menohok untuk dirinya sendiri. Dan kali ini Almira sama sekali tidak mengeluarkan argumen untuk Ana, karena Arash lah yang lebih banyak berbicara dan menunjukkan dirinya pada wanita berhijab itu.


Astagfirullah kenapa aku jadi begini, ah memangnya benaran wanita itu calon Kak Arash, seharusnya aku tidak menyinggung nya dulu. Kalau seperti ini aku harus cari infonya, wanita itu dari majelis taklim mana. Siapa tahu mereka tidak jadi menikah, yaa berharap tidak menikah! batin Ana.


Hati orang tidak ada yang tahu, dibalik wajah yang teduh, baju yang tertutup rapat dari ujung kaki sampai ujung rambut, tidak menjamin hatinya baik pula.


 BUK!!


Baru empat langkah kaki Almira dan Arash menuju pondok yang ditempati gadis itu, tiba-tiba saja berhenti.


“K-Kak Arash.”


“Almira!” seru Arash terkejut.


 


Bersambung ...


 


Kakak Readers kasih semangat dong, saya masih oleng gara-gara regulasi NT 😭😭😭


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2