Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Triple A berkelahi


__ADS_3

Mansion Albert


Hampir satu jam Arash mencari rumah Almira dengan mengandalkan alamat yang diberikan oleh Tia, lalu GPS ponselnya sebagai petunjuk arahnya. Sekarang mobil yang dikendarai oleh Arash sudah berhenti di depan gerbang bangunan mewah yang hampir sama dengan mansion milik keluarganya.


Arash mengendalikan degup jantungnya yang sedari tadi lari di tempat, padahal hanya mau ketemu Almira doang tapi berasa mau ketemu presiden saja. Kedua tangannya yang masih memegang kemudi mulai berkeringat begitu juga dengan dahinya sudah mulai bercucuran keringat sebiji jagung muda.


Security mansion Albert terlihat celingak celingukan dari pos keamanannya, memperhatikan mobil mewah berhenti pas di gerbang mansion.


“Siapa ya, kenapa berhenti di depan gerbang? Tamu tuan besarkah?” gumam Jono si security.


Arash akhirnya keluar dari mobilnya, lalu menghampiri pos keamanan. “Permisi Pak numpang tanya, benarkah ini kediaman Pak Albert?” tanya Arash agak sopan.


“Benar ini kediaman Pak Albert, Mas nya ada keperluan apa ya?” balik bertanya Jono, sembari memperhatikan wajah Arash dengan seksama.


“Bisa bertemu dengan Kunti ... Eh maksudnya Almira, saya Arash temannya Almira,” jawab Arash agak kagok.


Seumur-umur Jono baru kali ini ada cowok yang mencari nona mudanya, karena biasanya cowok yang datang itu teman tuan mudanya Alvan dan Alvin, jadi agak curiga si Jono.


“Sebentar saya tanyakan dulu,” jawab Jono langsung menelepon ke mansion melalui line teleponnya. Arash dengan teriknya matahari yang lumayan menyengkelit di kulit, bersabar menunggu di luar pos, baru kali ini Arash mampu menunggu seseorang, padahal dia paling anti menunggu, tidak sabaran sebenarnya.


Tak lama dari kejauhan ada dua sosok laki-laki berwajah tampan keluar dari pintu utama mansion, mereka berdua walau usianya masih muda, badannya sudah terlihat gagah karena keturunan Papa Albert.


Gerbang mansion yang menjulang tinggi akhirnya sedikit terbuka. Kedua laki-laki itu pun keluar lalu menatap tajam sosok pria yang mencari Almira.


Wah pasti mereka berdua cowok si Kunti, enak benar mereka ada disini! Geram batin Arash, saat melihat kedua laki-laki itu menghampirinya.


“Anda siapa mencari Almira!” sentak Alvan dengan gaya coolnya.


Arash menunjukkan wajah sombongnya lalu berdecak kesal. “Kenalin gue cowoknya, lo berdua siapanya Almira!” balik sentak Arash, berani ngaku-ngaku si Wowo, jangan bohong Bang Wowo.


"Hush ... diam Mommy Ghina, jangan ikut campur, ini urusan Arash!"


"Ooh ... oke."

__ADS_1


Alvan dan Alvin menaikkan salah satu alisnya, lalu tersenyum sinis, kemudian sama-sama memindai Arash dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.


“Cih ngaku-ngaku cowoknya Almira! Mending pulang aja deh! Almira itu punya kita berdua!” jawab Alvan sembari menunjukkan wajahnya yang tak gentar terhadap Arash.


Di usir lalu bilang Almira milik mereka berdua, meradanglah hati Arash dibuatnya. Pria itu mengikis jaraknya dengan kedua laki-laki itu, lalu meraih kerah kemeja si Alvan dan mencekalnya.


“Apa yang baru lo bilang tadi, Almira milik lo berdua, ingat ya kedudukan lo berdua lebih gak ada apa-apanya dari gue. Gue ini anak temannya Pak Albert yang akan dijodohkan sama Almira, jangan macem-macem ya. Gue kepret kalian berdua bisa langsung mental!”


Haduh si Bang Wowo mau cari masalah nih! Coba Bang Wowo perhatikan wajah mereka berdua dulu dong. Ah Mommy mending ke sebelah ajalah, gak ikutan kalau ada apa-apa.


Alvan dan Alvin terlihat tenang, namun menyeringai tipis, serasa ada lawan untuk memperlihatkan ketangkasan mereka berdua dalam ilmu bela diri.


“Ck ... siapa takut!” Alvan menantang Arash, dipegangnya tangan Arash yang masih mencekal kerah kemejanya, lalu diputar balik tangan Arash sampai pria itu terangkat kemudian dibantingnya kebelakang.


“SHITT!” umpat Arash, yang tak siaga terhadap serangan Alvan. Pria itu meringis sejenak kemudian berdiri tegak kembali, dan terjadilah dua lawan satu.


“Astaga, kenapa jadi berkelahi begini!” gumam Jono kebingungan, akhirnya dia meminta Budi untuk ke mansion memanggil nona mudanya. Lalu Jono mendekati kedua tuan mudanya dengan bermaksud untuk meleraikan perkelahian dengan pria yang belum dikenalnya, namun malah Jono yang kena pukulan Alvin, terpaksa Jono mundur.


Almira tergopoh-gopoh keluar dari mansion setelah Budi kasih tahu jika Alvan dan Alvin berkelahi dengan seseorang di luar gerbang mansion.


“Astagfirullah, STOP KALIAN BERTIGA!” teriak Almira sekuat tenaganya.


Alvan dan Alvin yang baru mau pasang kuda-kuda begitu juga Arash langsung berhenti. Ketiga pria itu sudah compak campik bajunya, belum lagi rambutnya pada ngejingrak kayak habis kena sentrum, sudut bibir mereka pun sudah ada yang terluka.


“Aaaaawwww!” ringis Alvan, Alvin bersamaan. Kedua telinga Alvan dan Alvin sudah kena jewer Almira dengan gemasnya.


“Kak Alvan sama Kak Alvin pasti cari mangsa baru lagikan, ayo masuk ... Aku aduin kakak berdua sama mama!” sentak Almira sembari menarik kedua telinga laki-laki itu.


Arash yang dibantu berdiri oleh Jono, langsung melongo. “A-apa kakak, mama!” seru Arash. Sudah sedekat itukah mereka bertiga? Jadi bukan gue aja yang dipanggil Kakak?


“Pak Jono ajak pria itu ke dalam  juga,” teriak Almira dari kejauhan.


“Iya Non Almira,” jawab Jono. “Mari Mas, ikut ke dalam,” ajak Jono. Arash hanya manggut-manggut saja.

__ADS_1


Bu Mimi yang baru saja ke ruang tamu, dibuat geleng kepala melihat keadaan Alvan dan Alvin. “Astagfirullah, pasti mereka berdua berkelahi lagi,” gumam Bu Mimi, lalu meminta Titi mengambil minum dan kotak obat.


Namun pas lihat Jono memapah Arash, langsung terkejut. “Den Arash, kok bisa begini!” panggil Bu Mimi. Arash hanya bisa tersenyum tipis.


Alvan, Alvin dan Arash sengaja di duduki bersama di satu sofa panjang, bagaikan terdakwa, triple A.


Jono dan Bu Mimi berjibaku mengobati luka lecet di lengan, dan di beberapa wajah tampan mereka bertiga. Sedangkan Almira duduk di sofa single dengan sorot matanya yang tajam sambil bersedekap.


Ketiga triple A hanya bisa menundukkan kepalanya. Alvan dan Alvin memang nyalinya bisa menciut jika Almira sudah marah, apalagi kalau memang mereka berdua yang salah, marahnya Almira hampir sama seperti mama Tania yang jarang marah, namun sekalinya marah bagaikan bom hirosima, bisa menguncang mansion.


“Siapa duluan yang mulai berkelahi?” tanya Almira, suaranya naik satu oktaf.


Mereka bertiga langsung main tunjuk ke arah lawan. Almira menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan agar tidak terpancing emosi. Satu persatu Almira menatap mereka secara bergantian, hingga akhirnya Almira dan Arash saling bersitatap.


“Mereka berdua yang memulai, dan mereka bilang cowok kamu, dan kamu milik mereka berdua. Gue gak senang dengarnya!” ucap Arash, agak galak.


Bu Mimi dan Jono dibuat melongo, sembari menahan perut agar tidak tertawa. Begitu juga Almira sedang menahan agar tidak menertawakan Arash.


“Pria ini ngaku-ngaku anak teman Pak Albert, yang katanya mau dijodohin sama kamu Al, makanya aku gak terima. Kamu kan milik kami berdua!” balas Alvan, mulai lagi kalimat Alvan yang ambigu.


“Jangan bilang cowok ini yang barangnya kejepit itu ya, Almira!” sentak Arash, kembali terpancing emosi, suaranya ikutnya naik satu oktaf.


Bu Mimi menepuk jidatnya, pasti ini kerjaan Alvan yang tadi teriak-teriak kesakitan jarinya kejepit resleting tas, udah kayak kejepit pintu, bikin orang panik saat kamar Almira gaduh dengan teriakan Alvan, emang anak satu ini agak berbeda.


Dibalik marahnya Arash, diam-diam pria itu mencuri menatap wajah Almira yang tampak berbeda, rambut panjangnya tergerai indah serta tubuhnya mengenakan long dress rumahan, walau pakaiannya tertutup namun terkesan anggun dalam kesederhanaannya.


 Rasa rindu yang tak diakui oleh hatinya sendiri, seakan terobati siang ini.


 bersambung ....


Kakak readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.


__ADS_1


__ADS_2