
Hari demi hari berlalu, rencana honeymoon Arash dan Almira sudah terlaksanakan dengan membawa dua rombongan keluarga besar ke Raja Ampat. Sudah dipastikan ada rasa bahagia bercampur sedih yang dirasakan oleh Arash karena dia tidak bebas bermesraan dengan istrinya di luar kamar hotel. Tapi untungnya Almira mau diajak bermesraan sama suaminya selama berada di kamar hotel, kalau tidak semakin bete wajah Arash.
Sebulan lebih sudah berlalu, Arash sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan Daddy Erick sekaligus menyelesaikan skripsi akhirnya, sedangkan Almira yang masih menunggu waktu perdana masuk kuliahnya lebih banyak ikut ke butik Mommy Alya atau sibuk bebenah di rumah mereka. Oh iya sekarang Almira dan Arash sudah tidak tinggal di mansion. Pria itu mengajak istrinya untuk hidup mandiri di rumah yang diberikan oleh Daddy Erick untuk mereka berdua, dan jelas Almira menyambutnya dengan senang hati.
Rumah yang mereka tempati tidak sebesar mansion kedua orang tuanya, tapi cukup mewah buat pengantin baru. Dengan tinggal berdua saja tetap ada asisten rumah tangga yang membantu Almira, dan Almira benar-benar menikmati perannya sebagai istri. Hati Almira pun sedikit demi sedikit sudah merasa sayang dengan suaminya, bagaimana tidak sayang, perhatian Arash buat istrinya tidak main-main.
Seperti pagi ini wanita itu sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan suaminya dan dirinya dibantu Bik Siti, namun terpaksa berhenti ketika suaminya menghampirinya dengan wajah yang terlihat pucat.
“Loh Kak Arash, kok wajahnya pucat begini, perasaan tadi baik-baik saja,” kaget Almira melihat suaminya memeluk dirinya dari belakang.
“Kepalaku pusing sayang, perut ku juga terasa mual,” keluh Arash tidak bersemangat.
Almira membawa suaminya untuk duduk di ruang tengah, lalu menyentuh kening Arash dengan tangannya. “Kak, badannya agak panas nih, aku panggilkan Dokter aja ya,” kata Almira.
Arash hanya bisa mengangguk pelan, tapi dia menarik pinggang istrinya untuk dia peluk kembali, terpaksa Almira harus membiarkan suaminya untuk memeluknya terlebih dahulu, baru dia beranjak mengambil ponselnya yang tertinggal di dapur, tapi ...
“Kak, aku ambil handphone dulu ya di dapur,” pinta Almira, melihat suaminya masih memeluk dirinya.
“Nanti dulu sayang, rasanya nyaman peluk kamu,” jawab Arash begitu lirihnya. Almira hanya bisa mendesah, lalu mengusap lembut rambut suaminya sampai Arash terbuai dengan belaian tangan Almira.
Sementara itu di luar rumah Arash dan Almira sudah terparkir mobil mewah yang ditumpangi oleh Mommy Alya dan Daddy Erick. Mommy Alya terlihat menjinjing paper bag ketika ingin memasuki rumah anaknya bersama Daddy Erick.
“Assalamualaikum,” sapa Mommy Alya dari luar pintu.
“Waalaikumsalam,” jawab serempak Almira dan Arash. Mendengar ada yang datang di pagi hari, wajah Arash berubah jadi masam, karena tidak bisa peluk istrinya, padahal dia sangat menginginkannya saat ini. Almira terpaksa melepaskan pelukan Arash karena harus membukakan pintu, tapi untungnya Bik Tuti sudah duluan ke depan rumah. Namun apa yang terjadi dengan Arash, dia tiba-tiba saja meluncur ke kamar mandi yang ada dilantai satu.
“Huek ... Huek ... Huek.” Arash mengeluarkan semua isi perutnya ke dalam closed.
Almira yang awalnya ingin ke depan rumah untuk mengecek siapa yang datang, akhirnya terburu-buru ke kamar mandi menyusul suaminya yang terdengar sedang muntah-muntah.
__ADS_1
“Ya ampun Kak,” kata Almira, dia segera mengusap tengkuk suaminya yang masih mencondongkan dirinya dekat closed, mengeluarkan isi perutnya.
“Sayang, perut aku mual,” rengek Arash, dia kembali mengeluarkan isi perutnya.
Kebetulan pintu kamar mandi terbuka, mendengar ada suara muntah-muntah, Mommy Alya dan Daddy Erick melongo dari ambang pintu kamar mandi.
“Arash, kamu sakit?” tanya Mommy Alya.
Sontak saja Almira dan Arash mendongakkan wajahnya dan melihat siapa yang datang.
“Eh Mommy, Daddy yang datang. Maaf tadi gak sempat sambut, Kak Arash tiba-tiba muntah-muntah Mom, sebenarnya dari tadi udah ngeluh gak enak badan,” jawab Almira, sembari mengusap punggung suaminya.
“Mommy bikin minuman jahe hangat dulu buat kamu, Nak,” jawab Mommy Alya, bergegas ke dapur, sedangkan Daddy Erick melalui ponselnya menghubungi dokter keluarga untuk segera ke rumah Arash.
Usai menelepon dokter, Daddy Erick membantu Almira memapah Arash yang sudah terlihat lemas dan pucat ke ruang tengah biar bisa berbaring sementara di sofa panjangnya. Di saat Daddy Erick memapah Arash tiba-tiba saja teringat dirinya di masa lalu, pernah merasakan mual yang sangat hebat, tapi kapannya itu Daddy Erick masih meraba-raba.
“Kamu semalam makan apa, ada salah makan gak? Kamu gak biasa muntah-muntah?” tanya Daddy Erick, saat membaringkan putranya.
Alis kedua mata Daddy Erick saling bertautan merasa ada yang aneh di diri Arash, tapi apanya yang aneh itu Daddy Erick masih berusaha mengingat benar-benar. Tak lama Mommy Alya membawa secangkir minuman jahe hangat dari dapur.
“Nak, minum dulu yuk jahe hangatnya biar perut kamu enakkan,” pinta Mommy Alya sembari menyodorkan cangkir yang berisikan jahe. Arash menerimanya dan mulai menyeruputnya pelan-pelan, Almira yang berada di samping Arash begitu telatennya mengurusi suaminya yang habis mengeluarkan isi perutnya.
“Daddy sudah panggilkan dokter, biar langsung dicek kamu sakit apa,” ujar Daddy Erick sembari menatap Arash, dan tiba-tiba saja ingatnya mulai terlihat terang.
Ting!
Terbitlah senyuman di wajah pria paruh baya itu, dan dia bergegas mengirim pesan ke dokter keluarganya.
Sambil menunggu kedatangan dokter, Mommy Alya menghidangkan makanan yang dia bawa dari mansion. Begitulah perhatian orang tua kalau anak sudah tidak tinggal satu rumah, sesibuk apapun disempatkan untuk mampir nengok anaknya, dan pas sekali mereka datang anaknya sedang sakit.
__ADS_1
Hati Mommy Alya begitu terharu melihat Almira yang mengurus Arash sakit, sangat perhatian dan tidak jijik-an ketika Arash mengeluarkan isi perutnya kembali.
Almira bergegas mengambil baju ganti Arash, namun sebelumnya dia menyeka badan suaminya yang kena percikan muntahnya sendiri. Untuk kali ini Arash benar-benar tidak berdaya tubuhnya, sangat lemas.
“Makan dulu ya Kak, biar ada sedikit tenaga,” pinta Almira, sembari mengusap rahang suaminya.
“Sedikit aja makannya sayang, aku takut muntah lagi,” jawab Arash terdengar tidak bertenaga.
Almira mengambil sedikit nasi dan sop buntu yang sudah dibawakan oleh Bik Nur ke ruang tengah untuk suaminya dan bergegas menyuapi Arash.
“Mommy, Daddy sarapan dulu tadi aku udah masak, dan sudah di siapkan sama Bik Tuti di meja makan,” ajak Almira sembari masih menyuapi Arash.
“Iya Nak makasih, nanti Mommy sama Daddy makan,” jawab Mommy Alya.
Daddy Erick beranjak dari duduknya dan menarik lengan istrinya sembari mengedipkan matanya. Melihat mata suaminya mengedipkan matanya Mommy Alya jadi nampak heran.
Daddy Erick merangkul pinggang istrinya dan mengajak pujaan hatinya menjauh dari ruang tengah lalu mencondongkan dirinya ke telinga istrinya.
“Sayang, kayak nya sebentar lagi kita bakal jadi oma dan opa,” bisik Daddy Erick.
Sontak saja Mommy Alya menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke samping untuk menatap wajah suaminya.
“Aaapaa!” terkejut Mommy Alya.
Bersambung ...
__ADS_1