Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Akhirilah semuanya sekarang!


__ADS_3

Almira masih berusaha mencoba menenangi degup jantungnya setelah mendengar pengakuan Ustadz Ridwan, apalagi pria tampan itu menatap hangat Almira.


“Maaf jika pengakuan ini tiba-tiba saya ucapkan denganmu, saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja saya sudah tak ingin menyimpannya sendiri, dan selama ini saya juga selalu berdoa untuk bisa berjodoh denganmu, namun ternyata Allah berkehendak lain, dan saya harus menerimanya dengan lapang dada. Saat ini saya hanya bisa mendoakan kamu sama calon suami semoga dimudahkan prosesnya hingga hari pernikahan,” ucap Ustadz Ridwan, wajahnya berpaling dari tatapan Almira, kemudian pria itu menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya ke udara, seolah ada perasaan lega dihatinya.


Almira tersenyum getir, lalu mengalihkan pandangannya ke depan. “Pak Ustadz terima kasih atas pengakuan isi hatinya, sungguh ini hal yang tidak pernah aku sangka. Sejujurnya aku sangat senang mendengarnya ternyata apa yang selama ini aku rasakan sendiri, ternyata tidak hanya se pihak. Walau—,” Almira tidak melanjutkan kembali ucapannya, rasanya lidah dia benar-benar keluh, padahal hatinya ingin berkata lebih pada sosok pria yang dia kagumi selama ini. Namun, di satu sisi dia teringat dengan kedua orang tuanya, dia tidak boleh bertindak gegabah.


Ustadz Ridwan masih menunggu kelanjutannya, dan berharap ada kata yang bisa membuat dia melangkah ke depan, apalagi dia sebenarnya tahu jika lamaran Arash telah dibatalkan oleh Almira, berarti sedikit ada harapan untuk dia meminang Almira.


“Saya kadang berharap kita bisa berjodoh Almira, bolehkah saya berharap seperti itu?” tanya Ustadz Ridwan, suaranya masih terdengar serius.


Almira hanya bisa menundukkan kepalanya, lalu mengusap lengannya yang sudah mulai terasa dingin akibat angin sejuk dimalam itu.


“Aku pamit ke pondok Pak Ustadz, udara nya mulai dingin takut masuk angin,” kata Almira, mengalihkan pertanyaan pria itu.


“Saya antar dan maaf ya jika saya telah mengganggu mu. Dan tolong jangan pikirkan ucapan saya barusan,” jawab Ustadz Ridwan begitu tenangnya.


Almira pun memutar balik badannya, dan dia menatap Arash yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dia artikan, dan ada sosok wanita yang sempat dia lihat itu di samping Arash berdiri.


Ustadz Ridwan juga ikutan melihatnya. “Oh sepertinya sudah ada yang menjemput, kalau begitu saya duluan Almira,” ucap Ustadz Ridwan.


Almira langsung menoleh ke arah Ustadz Ridwan. “Sepertinya ada temannya Pak Ustadz, dan jelas bukan untuk menjemput saya,” jawab Almira begitu tenang, kemudian Almira meninggalkan Arash dan wanita yang tidak dia kenal, kemudian Ustadz Ridwan langsung mengikuti gadis itu tanpa menyapa Arash.


Ana yang masih berdiri di samping Arash terlihat heran, kemudian menatap Arash yang sedari tadi terdiam saja. “Kak Arash, kenal dengan wanita barusan?” tanya Ana yang baru kenal Arash dalam waktu satu jam, tapi sikapnya seperti sudah kenal lama.


“Saya mau kembali ke kamar, maaf tidak bisa menemani kamu makan jagung bakar,” kata Arash, dia tidak menjawab pertanyaan Ana.


“Oh iya Kak Arash, tidak pa-pa kok. Oh iya nanti aku bolehkan kalau aku telepon Kak Arash?” tanya Ana begitu imutnya.


“Iya boleh, saya pamit dulu,” ucap Arash, pria itu pun bergegas meninggalkan Ana.

__ADS_1


Ayo loh Bang Wowo udah dimarahin sama emak-emak loh, bisa-bisanya terpesona sama wanita lain, katanya mau jagain Almira, katanya cinta sama Almira tapi ternyata masih bisa tergoda dengan wanita lain. Jangan nyesel kalau beneran Almira menerima Ustadz Ridwan dan akhirnya menjadi suami Almira.


Kedua netra Ana masih terlihat terkagum-kagum melihat Arash walau pria itu sudah menjauh darinya. “Masya Allah, alhamdulillah akhirnya aku menemukan jodohku, semoga Kak Arash mau melakukan taaruf denganku, semoga dia menjadi suamiku aku harus kasih kabar ke papa secepatnya,” gumam Ana seorang diri, dan senyum-senyum sendiri.


Teman Ana yang tadi ikutan berkenalan dengan Arash kembali mendekati Ana. “Cie ... Cie berhasil juga deketin cowok itu,” kata Prima.


“Alhamdulillah Prima, setelah aku memberanikan diri buat ajak kenalan, ternyata gak sia-sia juga. Apalagi aku sudah dapat nomor ponselnya,” jawab Ana, wajahnya tampak berseri-seri.


“Tapi benaran Kak Arash belum nikah?” tanya Prima.


Ana menggelengkan kepalanya. “Belum nikah kok pas tadi aku ngobrol sama Kak Arash,” jawab Ana sangat yakin. Ya emang belum nikah, tapi sudah ngelamar anak orang! Ck rasanya pengen kasih tahu ke Ana deh. Kok Mommy Ghina jadi kesal sendiri ya.


“Soalnya tadi aku sempat lihat tangannya pakai cincin, kayak cincin kawin begitu,” ujar Prima, namun masih ragu-ragu.


“Aah ... Mungkin kamu salah lihat aja, udah yuk kita balik ke pondok, nanti tengah malam harus kumpul lagi buat sholat malam,” ajak Ana, sembari menggamit lengan temannya.


...----------------...


“Kak Alvin,” sapa Almira ketika melihat saudara kembarnya.


Alvin menghembuskan napas panjangnya melihat Almira diantar oleh Ustadz Ridwan.


“Aku ingin bicara denganmu,” pinta Alvin, sembari menepuk kursi kosong. Siti mendengar hal itu, memisahkan diri dari kedua saudara tersebut, dan memilih untuk masuk ke pondokan.


Almira pun duduk di kursi yang di tepuk oleh Alvin. “Ada apa Kak?” tanya gadis itu.


“Sebenarnya ada apa dengan kamu sama Kak Arash? Kenapa jadi tiba-tiba aneh begini, padahal tadi pagi sampai tiba di sini kalian berdua terlihat baik-baik saja. Tapi kali ini aku melihat Kak Arash berbeda denganmu?” cecar Alvin dengan se rentetan pertanyaan.


“Kenapa Kak Alvin tanya denganku? Kenapa tidak tanya dengan Kak Arash secara langsung, lagi pula kalau Kak Arash berubah padaku, aku bisa apa! Kak Alvin juga lihat sendiri'kan, kalau dia sudah jalan dengan wanita lain, lantas aku harus bagaimana? Aku harus marah'kah, menegurnya, melarang nya agar tidak dekat dengan wanita lain. Itu bukan hakku, Kak Alvin.”

__ADS_1


“Tadi siang aku hanya menegurnya untuk tidak emosi selama di sini jika aku menyapa atau berbicara dengan Ustadz Ridwan, itu saja. Dan bukan berarti aku melarang dia untuk menyapa ku, mendekati ku, tapi Kak Alvin lihat sendiri’kan jika Kak Arash justru tidak menyapaku, menjaga jarak ku, dan malah dia leluasa bercengkerama dengan siapapun, aku biarkan tak masalah.” Sejenak Almira memijat keningnya sendiri yang mulai terasa pusing, sedangkan Alvin masih menyimak tanpa berusaha menyela.


“Inilah kenapa aku hanya memberikan waktu satu bulan untuk Kak Arash berubah jika benar-benar mencintaiku, tapi ternyata dugaan ku benar jika Kak Arash hanya terobsesi denganku. Jika dia benar-benar mencintaiku, pasti dia akan menjaga hatiku, seperti sekarang dia dengan mudahnya terpesona dengan wanita lain, padahal kita satu tempat. Jadi sekarang Kak Alvin jangan tanya lagi kenapa dia berubah, itu bukan urusanku.” Almira mengakhiri pembicaraannya dengan Alvin, dan memilih meninggalkan Alvin sendiri.


Arash meraup wajahnya dengan kasar, dan menyandarkan dirinya ke tembok pondokan, setelah mendengar obrolan Alvin dan Almira, batinnya merutuki dirinya sendiri, dan ada rasa penyesalan di dalam dirinya namun semua sudah terjadi. Pria itu mengangkat tangan kirinya ke udara nya dan menatap cincin yang masih dia kenakan dijari manisnya.


Mungkinkah Almira bukan jodohku, haruskah aku melepasnya untuk orang lain.


Hati Arash bimbang dan galau, apalagi dia sempat mendengar jika Ustadz Ridwan ternyata menyukai calon istrinya, pria bermata biru itu pun tersenyum getir sendiri.


...----------------...


Arash sudah kembali ke kamar dan sudah merebahkan dirinya di atas ranjang kecil. Tak lama kemudian masuklah Alvin dengan wajah yang terlihat lelah.


Saudara kembar Almira hanya bisa melirik sesaat ke arah ranjang Arash lalu dia masuk ke kamar mandi, Arash yang melihat Alvin tidak disapanya, begitu juga dengan Alvin tidak menyapanya.


Setelah membersihkan dirinya, Alvin merebahkan dirinya di ranjang sebelah Arash, kedua netranya pun menatap langit-langit kamar.


“Jika hanya terobsesi dengan saudaraku, sebaiknya tidak perlu menunggu waktu sebulan untuk Almira memutuskan diterima atau tidaknya. Akhirilah semuanya sekarang! sebelum ada yang lebih tersakiti. Saudaraku memang masih bocah SMU sama sepertiku, butuh seorang yang mampu membimbingnya, bukan hanya sekedar kata cinta. Jika memang benar-benar mencintai seharusnya apa yang dia larang bukan untuk dipatuhi tapi untuk dilanggar, tapi rupanya tanpa dilanggar Kakak sudah mulai berpaling darinya, ternyata tidak hanya di saat selesai acara lamaran, di depan matanya sekarang pun Kak Arash mampu melakukannya secara terang-terangan!” ucap Alvin pelan tanpa menatap lawan bicaranya, untung saja dikamar hanya ada mereka berdua.


Arash mengepalkan kedua tangannya begitu erat.


“Tolong bilang ke papa dan mama, jika Kak Arash mundur jadi calon suami Almira. Dan jangan pernah menampakan diri lagi dihadapan Almira untuk selama-lamanya!” kata Alvin kembali dengan tegasnya.


Arash bergeming, tak ada jawaban dari mulutnya, yang ada kedua netranya mulai memerah.


 bersambung ...


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2