Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Teguran untuk Arash


__ADS_3

Arash hanya bisa tercenung melihat ruang kesehatan telah sepi, tak ada siapapun termasuk Almira dan keluarganya. Rasa ketakutan akan berakhirnya ikatan tunangan dengan Almira mulai menyelusup direlung hatinya.


“Eeerrrggh ... sialan ini semua gara-gara Sherina!” umpat Arash dalam makiannya. Pria bermata biru itu mengusap wajahnya dengan kasar, rasanya dia ingin kembali berteriak sekencang-kencangnya, namun tak mampu.


Usai dari ruang kesehatan dia menghubungi saudara kembarnya Arsal. “Lo, ada di mana sekarang?” tanya Arash melalui sambungan teleponnya.


“Gue ada di hotel, lantai 3 nomor 311,” jawab Arsal.


“Ya udah gue ke atas sekarang,” sahut Arash, langsung mematikan ponselnya dan bergegas ke lantai 3.


...----------------...


Arsal menatap kecewa dengan saudara kembarnya saat membukakan pintu kamar buat Arash. Pria yang mendapat tatapan tidak enak dari saudaranya hanya bisa mendesah panjang.


“Mommy dan daddy benar-benar kecewa denganmu Arash!” tegur Arsal yang sudah duduk di hadapan Arash.


Pria bermata biru itu menyugar rambutnya dengan kasar, kemudian membuka jas berwarna hitamnya, dan meletakkan di samping dia duduk.


“Sudah untung dapat calon istri cantik, ternyata lo udah punya ngebetan yang lain. Harusnya kalau lo udah punya pacar, jangan menyatakan cinta dan melamar anak orang di depan umum, Rash!” lanjut kata Arsal terbawa emosi.


“Kalau gue gak buru-buru lamar Almira, dia bakal dilamar sama orang lain, gue gak mau itu sampai terjadi!” jawab Arash dengan suaranya meninggi.


Arsal mencondongkan dirinya ke depan agar lebih dekat dengan Arash. “Lo kayaknya hanya ketakutan Almira bersanding dengan pria lain, kalau lo memang benar mencintai Almira, sebelum hari ini ... Lo harusnya udah putusin cewek lo itu! Bukannya kayak begini lo lamar anak teman daddy, tapi lo masih punya hubungan sama cewek lain. Pakai otak lo, Arash!” gemas sekali Arsal menghadapi saudara kembarnya.


“Ini semuanya kejadiannya begitu cepat Arsal, mana sempat gue kepikiran ke sana!” sahut Arash.


“Ingat Arsah, mommy benar-benar marah! Dan lo tahukan masa lalu kedua orang tua kita berdua! Kata pelakor bikin hati mommy kita sakit dan sedih! Loh ingatkan cerita Oma dulu, perjuangan daddy agar memiliki kita berdua hingga berjodoh dengan mommy!” sentak Arsal.


Arash pun terdiam gara-gara ucapan Arsal. Saat Oma Danish masih hidup, mereka berdua sempat diceritakan kisah hidup mommy Alya dan daddy Erick bertemu hingga menikah, mereka berdua adalah anak yang di nanti selama 10 tahun oleh daddy Erick, dan yang bisa mewujudkan adalah mommy Alya. Banyak lika-liku yang dihadapi oleh mommy Alya ketika daddy Erick masih memiliki dua istri, wanita yang berjuang melindungi mereka berdua saat masih di kandungannya dari sikap kejam kedua istri daddy Erick. Dan yang lebih fatal nama mommy Alya dibuat buruk sebagai pelakor di perusahaan Pratama.

__ADS_1


Arash baru menyadari kenapa mommy Alya begitu marahnya namun juga terlihat sedih, rupanya luka lama masa lalu mommynya seakan tergores kembali.


Arsal bangkit dari duduknya. “Kita sama-sama sudah dewasa, harusnya pikiran lo juga sudah lebih dewasa. Beginilah akibatnya lo sibuk dengan dunia lo sendiri. Sibuk dengan geng motor lo, sibuk dengan huru hara lo, dengan kesenangan lo. Tapi lo gak menyadari perasaan orang tua kita. Mereka sayang sama lo, melarang lo begini begitu, itu demi kebaikan lo! Gak selamanya lo hidup begini, apalagi lo udah berani melamar anak orang! Lo harusnya mulai berpikir untuk berubah kedepannya!” tutur Arsal menasehati saudara kembarnya.


“Siap-siap terima keputusan yang akan terjadi besok! Semua ini karena ulah lo sendiri!” lanjut kata Arsal, kemudian pria yang hampir mirip wajahnya dengan Arash masuk ke salah satu pintu kamar, meninggalkan Arash seorang diri.


Arash hanya bergeming, pikirannya mulai kalut.


...----------------...


Esok hari


Almira mulai tampak tenang setelah semalam dia menangis dalam pelukan mama Tania, bukan karena dia cengeng, tapi hati amat terasa sakit dengan ucapan Sherina. Dia tak ada niatan menjadi pelakor, sejak awal dia memang tidak tertarik dengan Arash. Namun, karena dia sayang dengan kedua orang tuanya, dan yakin restu orang tua berarti restu dari Allah, dia menerima walau dengan berat hati di acara tersebut, dia tidak mau membuat malu kedua keluarga tersebut.


Tapi kali ini dia sudah tidak bisa diajak kompromi, selain sakit hati karena perkataan Sherina tapi sakit fisik karena wanita itu hampir saja menghilangkan nyawanya secara tidak langsung.


Rencana saat sarapan pagi di hotel, kedua keluarga akan berkumpul dan memutuskan hal lamaran yang sudah terjadi, mama Tania dan papa Albert sudah bertanya dengan Almira terlebih dahulu, dan mereka berdua akan menuruti keinginan anak gadisnya.


...----------------...


Restoran


Mama Tania, papa Albert, mommy Alya dan daddy Erick sudah tiba di ruang VIP, kemudian tak lama datanglah Arash. Suasana kali ini terlihat tak hangat, kedua keluarga tersebut tak banyak berbicara hanya menyapa ala kadarnya, Arash yang sudah berada di antara mereka, terasa amat canggung dan menegangkan buat dia sendiri. Apalagi semalaman dia tak bisa tertidur sedikit pun, pikirannya sangat kacau.


Beberapa waitress mulai menghidangkan makanan di meja bundar yang mereka tempati, dalam diam mereka menikmati sajian tersebut. Tak lama kemudian Almira pun datang, sejenak Arash dan Almira saling beradu pandang namun hanya sesaat karena Almira langsung membuang mukanya.


Pertemuan kali ini hanya ada kedua orang tua, Arash dan Almira, sedang saudara kandung mereka tidak diperkenankan untuk bergabung. Jadi mereka makan di ruangan yang berbeda.


Almira mendudukkan dirinya di kursi sebelah mama Tania. “Makan dulu, Nak,” pinta Mama Tania, sembari mendekatkan beberapa piring yang berisi makanan ke Almira.

__ADS_1


Tanpa menjawab Almira mengambil piring tersebut, dan segera menikmatinya. Arash yang masih menatap Almira, masih setia melihatnya walau gadis itu tidak menatapnya kembali.


Menikmati makanan dalam diam ...


Beberapa saat kemudian setelah melihat semuanya sudah selesai menikmati makanan menu beratnya, daddy Erick mulai membuka suaranya.


“Pak Albert, Bu Tania, saya mewakilkan seluruh keluarga memohon maaf yang sebesar-besar atas kejadian semalam yang menimpa Almira, ini benar-benar di luar kendali kami sebagai orang tua Arash. Mungkin ini salah satu kelalaian saya sebagai orang tua yang tidak tahu tindak-tanduk Arash di luar pengawasan kami. Sekali lagi kami mohon maaf. Kami benar-benar sangat menyesal,” tutur Daddy Erick merendahkan dirinya atas kesalahan Arash.


“Saya terima permohonan maafnya Pak Erick, memang keadaan semalam di luar dugaan kita semua. Hingga anak saya mengalami syok semalam,” jawab Papa Albert.


“Untung masalah tindakan orang yang mencelakakan Almira, sudah kami laporkan ke pihak berwajib, pihak hotel sudah memberikan semua bukti cctv yang ada di lift pada pihak berwajib. Nanti tinggal Almira yang memberikan kesaksian,” kata Mommy Alya.


Almira hanya menganggukkan kepalanya, tanda memahaminya. Mommy Alya sebelum melanjutkan ucapannya, wanita paruh baya itu menatap Arash sejenak lalu beralih ke Almira.


 bersambung ...


Berakhirkah hubungan tunangan Arash dengan Almira, tunggu kelanjutannya ....


Kakak readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya dan jangan lupa vote di hari Senin buat Arash dan Almira


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2