Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Acara tadabbur alam - 3


__ADS_3

Pria bermata biru itu tetap melangkahkan kedua kakinya menuju pondokan nya, dan menghiraukan panggilan Alvin yang berulang kali menyebut namanya, yang ada dipikirannya saat ini hanyalah ingin sendiri.


Selama melangkahkan kakinya, pria itu juga mengacuhkan tatapan para wanita berhijab yang terlihat sedang mengaguminya, dan seakan tatapan itu berharap mereka bisa berkenalan dengan pria bermata biru itu. Tak munafik terkadang diacara pengajian itu ada sesi mencari jodoh atau semacam taaruf bagi yang ingin segera menikah, dan hal itu sah-sah saja, jika ada yang ingin berkenalan.


Kak Arash kenapa ya, kok dipanggil malah gak menyahut, apa ada kata-kataku yang menyinggung perasaan Kak Arash ya, batin Alvin yang telah melepaskan kepergian Arash begitu saja, dan tak berusaha untuk mengejarnya.


Setibanya di pondokan, Arash masuk ke dalam kamar yang ditempatinya, lalu menjatuhkan bokongnya di atas ranjang kecil itu. Suara napas beratnya terdengar, kedua tangannya pun menangkup wajahnya untuk beberapa saat.


Ya Allah ampuninlah segala dosa-dosaku selama ini, sungguh selama ini ternyata aku benar-benar telah lalai. Dan selama ini ternyata Allah telah memberikan kesempatan untuk memperbaikinya.


Penggalan kejadian saat dia dikeroyok ketika mabuk mulai hadir kembali diingatannya, jika kejadian itu tidak ditolong Almira, mungkin dia sudah tidak ada di dunia lagi, lalu bekal apa yang telah dibawa untuk di akhirat nanti.


Ditambah lagi pengeroyokan untuk kedua kalinya, yang amat jelas terdengar di telinganya jika mereka memang ingin menghilangkan nyawanya. Dan lagi-lagi Almira kembali menolong dirinya, sedangkan saat itu dia begitu pongahnya jika tidak semudah itu dia mati.


Kedua tangannya sudah ditariknya dan sekarang sedang bertopang di tepi ranjangnya, kedua netranya pun menatap hampa ke arah luar jendela yang belum ditutup tirainya.


Seharusnya aku malu jika terlalu menuntut Almira untuk mau menerima aku menjadi calon suaminya, yang masih banyak kurangnya. Seharusnya aku sadar diri, jika dia bisa dapat pasangan yang lebih baik dariku.


Arash menurunkan pandangannya dari jendela, kemudian mengambil buku saku Tuntunan Sholat dari saku baju koko, dan mulai kembali melanjutkan hapalannya.


Sementara itu Alvin dan Siti mencari keberadaan Almira yang katanya masih berada di aula, tapi kebetulan sekali Almira sudah keluar dari rumah utama bersama Ustadz Ridwan.


Alvin hanya bisa berdehem, melihat kebersamaan saudara kembarnya dengan pria ganteng itu.


“Almira mau ikutan jalan-jalan sore gak? mengelilingi villa ini sekalian menghirup udara segar. Jarang-jarang kita merasakan udara sejuk,” ajak Ustadz Ridwan dengan ramahnya.

__ADS_1


Almira mengulum senyum tipisnya pada pria yang dia kagumi. “Boleh Pak Ustadz, biar sekalian tahu tempat ini. Bagaimana Kak Alvin, Siti mau ikutan juga gak?” kini Almira yang mengajak saudara kembarnya dan sahabatnya.


“Kalau Pak Ustadz gak keberatan, kami berdua ikutan bergabung,” tanya Siti.


“Oh boleh, justru jalan ramai-ramai jadi tambah seru,” jawab Ustadz Ridwan, tidak mempermasalahkannya. Jadilah mereka berempat jalan-jalan sore.


Sepanjang jalan-jalan sore, Ustadz Ridwan banyak menceritakan tempat yang dia kelola ini serta keberadaan Pesantren Ar Rahman yang tidak jauh dari villa tersebut. Dan terkadang kedua orang tersebut saling membalas senyuman hangat.


Arash yang masih berada di dalam kamarnya, ketika menatap jendela kamarnya kembali, tidak sengaja kedua netranya melihat Almira dan Ustadz Ridwan lewat dengan wajah yang berseri-seri. Arash hanya bisa tersenyum getir, dan dia naik napasnya dalam-dalam. Perasaan seseorang memang tidak bisa dipaksakan, jika hatinya memang tidak ada untukmu maka semua usahanya akan menjadi sia-sia.


Dihati Arash memang sangat cemburu, dan sakit rasanya melihat Almira bisa tersenyum lepas dengan Ustadz Ridwan, sedangkan dengannya sangatlah jarang jika ada pun pasti terlihat dipaksakan oleh gadis itu. Dari awal memang Almira tidak menyukainya, tidak jatuh cinta dengannya, namun dia memaksakan perasaannya untuk diterima oleh Almira. Inikah namanya cinta bertepuk sebelah tangan!


Arash kembali menundukkan wajahnya dengan membawa senyum getirnya, dan tidak kembali menatap jendela. Pahit namun harus dia telan sendiri.


Senja mulai tiba, matahari mulai tenggelam. Semua orang yang berada diluar terlihat bergegas masuk ke pondokan untuk bersiap-siap berkumpul di masjid untuk menjalankan sholat magrib.


“Kak Arash,” sapa Alvin yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Arash mendongakkan wajahnya dan menatap pria yang memanggil dirinya. Alvin duduk ditepi ranjang Arash. “Kak Arash sedang marah denganku ya?” tanya Alvin.


Pria bermata biru itu menutup buku sakunya lalu kembali memasuki bukunya ke dalam saku baju kokonya. “Enggak marah,” jawab singkat Arash dengan datarnya.


“Syukurlah, aku pikir Kak Arash marah denganku, soalnya pas tadi aku panggil Kak Arash cuek aja,” jawab Alvin apa adanya.


“Oh mungkin aku tidak dengar. Sepertinya sebentar lagi mau adzan magrib sebaiknya kita ke masjid sekarang,” ajak Arash, pria itu bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Ya Kak,” jawab Alvin, menyusul Arash yang sudah bergerak. Entah kenapa kali ini Alvin merasakan ada yang berbeda dengan Arash, wajahnya terlihat datar dan menjawab pertanyaannya juga terdengar datar.


Aku kok berasa Kak Arash agak berbeda ya, biasanya tidak sedatar ini, batin Alvin.


Semua peserta mulai memasuki masjid, dan tanpa janjian Arash dan Almira bertemu di pelataran masjid, beberapa detik mereka saling bersitatap namun, tidak saling menyapa. Arash pun memalingkan wajahnya dari tatapan gadis itu, sedang gadis itu yang merasa aneh ikutan memalingkan wajahnya dari Arash dan mereka pun berpisah untuk ke tempat wudhu sesuai jenis kelaminnya.


Siti dan Alvin yang ada di antara mereka berdua hanya mengedikkan bahunya, merasa heran dengan pasangan tersebut, ketika mereka berdua juga saling bersitatap.


“Al ... Kamu lagi tidak bertengkar kan sama Kak Arash?” tanya Siti yang mulai kepo.


“Mmm, bukan bertengkar sih, mungkin lebih menegur aja tadi biar Kak Arash tidak emosian aja selama ada di sini,” jawab Almira, dia berpikir ke arah ke sana, disaat terakhir Arash menegurnya karena cemburu dan tidak suka dengan Ustadz Ridwan.


“Oh seperti itu, aku pikir lagi bertengkar, soalnya biasanya kan Kak Arash gak betah kalau gak dekat atau menyapa kamu, tapi tumben tadi ketemu di luar masjid tidak menyapa sama sekali,” ucap Siti, sembari memakai mukenanya begitu juga Almira.


Almira juga menyadarinya, tapi lagi-lagi dia tidak mempermasalahkannya atau pun memikirkannya.


“Sudah jangan ngobrol dulu, sudah qomat tuh,” sahut Almira. Sholat magrib berjamaah mulai di laksanakan.


Usai sholat berjamaah sudah selesai, beberapa orang sudah meninggalkan masjid, untuk menuju aula untuk acara makan malam bersama. Namun, tidak dengan Arash, pria itu masih duduk bersila dan menundukkan kepalanya dengan mengatupkan kedua tangannya dekat bibirnya.


Alvin masih setia menunggu calon ipar nya, dan tidak peduli jika cacing yang ada diperut gajahnya mulai berdisko ria.


 bersambung ...


 

__ADS_1


 


__ADS_2