
Pembagian kamar untuk para peserta sudah dilakukan oleh panitia penyelenggara, dan karena hal itulah wajah Arash tampak kutekuk, maklumlah ini pengalaman pertama baginya. Apalagi dia harus berbagi kamar dengan tiga orang lain, untungnya Alvin sekamar dengannya jadi ada lah orang yang dia kenal. Kemudian yang semakin wajah pria itu tidak bersahabat lagi, pondokan yang dia tempati jaraknya sangat jauh dari pondokan yang ditempati oleh Almira, ya walau sebenarnya masih bisa disambangi jika ingin bertemu.
“Jangan-jangan Ustadz Ridwan ada niat buat memisahkan aku dengan calon istriku,” gumam Arash sendiri, sembari merapikan barangnya ke dalam nakas.
Setiap pondokan ada tiga kamar di dalamnya, dan tiap kamarnya ada empat ranjang ukuran kecil. Arash memilih ranjang dekat jendela biar bisa mengintip keluar, siapa tahu sang pujaan hati lewat. Alvin dengan sengajanya menepuk bahu pria itu itu agar menoleh ke belakang.
“Ada apa?” tanya Arash saat melihat orang yang menepuk bahunya.
“Sudah waktunya kita kumpul di aula, jangan lupa bawa Al Qur'an, dan pakai pecinya, Kak Arash,” ajak Alvin, yang sudah rapi membawa Al Qur'an dan kepalanya sudah memakai peci, semakin tampan.
Arash mulai kelihatan bingung. “Alvin, kita bakal disuruh ngaji satu-satu ya?” tanya Arash, perasaannya mulai ketar ketir.
Alvin menaikkan kedua bahunya. “Kurang tahu deh Kak, bisa jadi seperti itu, atau ya kita ngajinya berbarengan,” jawab Alvin apa adanya.
Oh, wajah ganteng Arash mulai memucat, alamat berabeh kalau beneran disuruh mengaji satu persatu, hancurlah reputasi dia jika sampai diketahui oleh orang banyak, terutama Almira bakal auto diblacklist jadi calon suaminya.
“Jangan khawatir Kak Arash, tidak perlu malu kalau memang belum bisa baca, yang terpenting ada keinginan untuk belajar, malah ada yang sudah tua baru dapat hidayah untuk belajar membaca Al Qur'an. Tapi Kak Arash pernah belajar Iqro kan?” tanya Alvin dengan menunjukkan wajah polosnya.
Arash mendengkus. “Ya pernah belajar Iqro ... Ali tongtong, cuma ya begitu kalau sudah baca Al Qur’an masih harus dieja pelan-pelan.”
Kembaran Almira menepuk bahu Arash kembali. “Syukurlah kalau begitu, aku pikir Kak Arash buta huruf hijaiyah. Dan tenang aja Kak, aku akan ada selalu disamping mu dan selalu siap membantu. Yang terpenting semuanya tersedia. Oke!” Alvin mengedipkan kedua matanya sembari menyengir kuda.
Bibir Arash hanya bisa mencebik sembari menggelengkan kepalanya, gak habis pikiran ini calon iparnya benar-benar urusan pajaknya begitu kuat.
__ADS_1
Alvin merangkul bahu calon iparnya. “Mari kita ke aula Bro, mencari pahala dunia dan akhirat,” ajak Alvin, Arash pun mulai tergidik melihat gaya Alvin.
Kedua pria tampan itu pun ber sama-sama teman sepondok menuju rumah utama karena aula adanya di sana. Sepanjang menuju rumah utama yang lumayanlah jarak agak jauh sekitar 500 meter, kedua netranya Arash memindai ke seluruh arah mencari keberadaan calon istrinya, namun tidak menemui sosok gadis tersebut.
Sesampainya di rumah utama, peserta pria dan wanita dipisah posisi duduk nya, sama seperti saat sholat berjamaah di masjid, jika yang pria di shaf paling depan sedangkan wanita ada di shaf belakangnya. Peserta yang ikut tadabbur alam lumayan banyak sekitar 200 orang peserta, dan Arash bisa melihat nya dengan jelas saat di aula. Pria itu kembali mendesah setelah melihat keadaan yang tidak memungkinkan untuk berjumpa dengan ke kasih hati nya. Sabar Bang Wowo!
Acara pun dimulai dengan membaca sama-sama mulai dari surat pendek lalu lanjut surat Yasin yang dibimbing oleh Ustadz Ridwan, Arash bernapas lega ternyata tidak disuruh baca satu-persatu. Kemudian dilanjutkan kajian yang mengangkat tema kehidupan setelah kematian.
Mendengar kajian tersebut, tanpa sadar pria bermata biru itu meneteskan air matanya. Banyak sekali kata-kata Ustadz Bachtiar yang menyentil kehidupan yang pernah dia lakukan sebelum mengenal Almira.
Perjalanan kematian merupakan perjalanan yang pasti dilalui oleh semua makhluk hidup. Hal ini sesuai dengan Surat Al Ankabut ayat 57 yang berbunyi “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” (QS. Al-Ankabut:57).
Perjalanan itu merupakan perjalanan yang tidak memungkinkan bagi penempuh untuk kembali. Oleh karena itu, kita semua harus bersiap selagi menunggu giliran untuk merasakan perjalanan tersebut. Hal ini dilakukan agar tidak ada penyesalan dan berharap ingin kembali
Wajah Arash selalu tertunduk dalam duduk nya bersila, baru pertama kali nya dia benar-benar mendengar kajian yang bisa mengobrak abrik hatinya sendiri.
Alvin yang duduk disamping memperhatikan calon iparnya, dan mendengar suara ingus yang tertahankan, tangannya pun merogoh tas pinggangnya lalu mengeluarkan tisu kecil, kemudian memberikannya ke Arash. Tanpa menatap pria itu mengambilnya, dan terdengar lah suara srott dari hidung Arash.
Keikutsertaan Arash ke acara pengajian Almira, sedikit demi sedikit membuka kalbu pria itu. Biarlah awal tujuan kedatangan hanya ingin menjaga Almira biar tidak dekat dengan Ustadz Ridwan, tapi seiring berjalan dan mengikuti rentetan acara, rohani pria itu mendapat siraman yang jarang tersentuh atau malah tidak pernah tersentuh. Seyogianya rohani kita butuh makanan bukan hanya tubuh yang butuh diberikan makan nasi beserta teman-temannya.
Selama dua jam mendengar dan tanya jawab dalam kajian tersebut akhirnya selesai, peserta diizinkan kembali untuk kembali ke pondokan, dan akan kembali untuk sholat magrib berjamaah di masjid, lalu dilanjutkan untuk makan malam bersama.
“Kak Arash, kita jalan-jalan sore yuk sama Almira dan Siti, sekalian nikmati udara sejuk di sini,” ajak Alvin, setelah melihat wajah Arash agak muram tak bersemangat.
__ADS_1
“Mmm ...,” gumam Arash pelan.
Tanpa menunggu Arash, Alvin bergegas memakai sendalnya lalu mencari keberadaan Almira di antara kerumunan orang yang sudah keluar dari rumah utama.
“Siti!” teriak Alvin memanggil gadis berhijab itu dari kejauhan, kemudian dia melangkah cepat mendekatiku,” Siti.
Arash masih diam di tempatnya berdiri, tidak ikut mendekati Siti, namun dia melayangkan pandangan kembali ke aula yang ada di rumah utama itu. Pria itu pun mendesah panjang, setelah kedapatan melihat calon istrinya bersama salah satu wanita yang tidak dia kenal sedang bersama Ustadz Ridwan. Dan tanpa sengaja tatapan Arash dan Almira saling beradu pandang dari kejauhan, tidak ada lagi sorot mata tajam atau sorot kecemburuannya, tatapan Arash terkesan hampa.
Setelah sekian menit mengunci tatapan mereka berdua, Arash pun memalingkan wajahnya dari tatapan Almira, kemudian dia jalan keluar dari rumah utama itu tanpa menyapa dan menghampiri Almira.
Kak Arash kok tumben diam aja, biasanya dia tidak suka jika aku dekat dengan Ustadz Ridwan. Aah sudahlah kenapa jadi memikirkannya, batin Almira.
Gadis itu kembali lagi berdiskusi bersama temannya dengan Ustadz Ridwan.
Sedangkan Alvin agak bingung melihat Arash yang berlalu begitu saja, padahal tadi dia sempat memanggilnya kembali.
Bersambung ... Arash kenapa??
__ADS_1