Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 10


__ADS_3

"Coba aja, ada bapak disini ... pasti Baron jauh lebih bahagia."


Kalimat tersebut bukan meluncur dari bibir mungil si bocah. Melainkan dari bibir sang ibu, yang entah mengapa berujar demikian. Dalam diamnya, Arita kembali merindukan sang suami. Dimana kehangatan selalu menyelimutinya dan sang putra.


"Udah ya, Bu? Jangan ngomong gitu lagi." Bak orang dewasa, putra kecilnya itu mengucapkan hal tersebut sembari mengusap lembut punggungnya.


"Baron sudah bahagia, walaupun nggak ada bapak di sini. Baron bersyukur, Tuhan masih berikan Ibu yang selalu ada buat Baron." Tambahnya yang membuat Arita tersenyum getir.


Putra kecilnya tumbuh dengan pemikiran yang terdengar dewasa sebelum waktunya. Hal tersebut memiliki dampak positif dan negatif bagi Arita. Mau tak mau, ia harus ekstra sabar dalam mendampingi pertumbuhan putra tunggalnya tersebut.


"Baron cuma minta sama Ibu, jangan pernah tinggalin Baron, ya? Kalau Ibu pergi, nanti Baron udah nggak punya siapa-siapa." Dengan begitu polosnya, bocah laki-laki itu berujar demikian.


Untuk beberapa saat, Arita benar-benar dibuat terpaku oleh ucapan sang putra. Saat meneliti kembali wajah mungil di hadapannya, tersirat permohonan dari anak itu padanya. Netra bulat itu menatap penuh harap, diselimuti air mata yang mulai menggenang.

__ADS_1


"Ibu nggak punya siapa-siapa lagi, selain Baron. Kamu adalah peninggalan bapak, yang paling berharga untuk Ibu sampai kapanpun itu." Arita kembali meyakinkan sang putra, dengan menggenggam jemari mungil si bocah.


Saat kedua manik mata sang ibu terus menatapnya, membuat Baron mengalihkan pandangannya. Bocah laki-laki itu mengusap linangan air mata yang membasahi wajah sang ibu.


"Udah ah, kita nggak boleh sedih gini, Bu. Nanti bapak nggak suka liatnya," papar si bocah yang membuat Arita tersenyum singkat.


Sebelum melepaskan rengkuhannya dari tubuh sang putra, wanita itu mencium kening si bocah dengan waktu yang cukup lama. Begitu juga dengan Baron, bocah laki-laki itu dengan sabar mengelus pundak sang ibu disertai senyum manisnya.


"Memangnya kamu nggak lapar, hm?" sahut sang ibu sembari mengusap rambutnya menggunakan jari-jemarinya.


Tanpa berpikir lama, Baron menggelengkan kepala penuh keyakinan. Memang sebelum berangkat ke makam sore tadi, bocah itu sudah makan terlebih dahulu. "Mau gini aja. Tidur sambil dipeluk Ibu, boleh, kan?"


Tak ingin membuat si bocah semakin banyak merayu, akhirnya wanita tersebut menganggukkan kepala. Tanpa membuka suaranya, wanita itu naik ke atas ranjang tidur sang putra meski dirinya belum membersihkan diri.

__ADS_1


Tapi setidaknya, ia sudah melepaskan baju kotor tadi, dan menyisakan dress rumahan yang ia kenakan sebagai lapisan di bagian dalam.


"Yey! Terima kasih, Bu!" pekik si bocah yang membuat Arita terkekeh kecil. Setelahnya, wanita itu merentangkan kedua tangannya dengan lebar. Tanpa menunggu lama, Baron langsung memeluk sang ibu dengan keadaan berbaring.


Setelah memastikan putranya dalam keadaan nyaman, wanita itu mulai mengelus lembut puncak kepala si bocah. Senandung ringan yang keluar dari bibir sang ibu, mengantarkan Baron untuk tertidur pulas.


"Tumben cepet banget tidurnya ..." gumamnya sembari menatap heran kearah sang putra.


Melihat jam yang masih menunjukkan pukul tujuh lewat, membuat Arita menghela napasnya. Raut kelelahan sang putra, cukup membuatnya merasa iba. Setelah mengecup wajah mungil tersebut, Arita segera menyelimuti tubuh Baron.


Usai beranjak dari duduknya, wanita itu berjalan keluar dengan sedikit terburu-buru. Kakinya melangkah mendekati meja, untuk mengambil ponsel miliknya yang tergeletak usai digunakan tadi.


"Ini keputusan yang tepat untukku dan Baron ..."

__ADS_1


__ADS_2