Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 60


__ADS_3

"Beberapa hari lagi, aku harus ke luar negeri. Nggak apa-apa, Ar?" tanya Gibran dengan menatap ke arah samping. Sementara Arita, wanita itu langsung menolehkan kepala ketika bahunya ditepuk pelan oleh pria disebelahnya.


"Kenapa?" ulang Arita lantaran tidak mendengar jelas ucapan dari pria itu. Ramainya suasana di tempat ini, membuat Arita harus mendekatkan telinganya pada Gibran.


"Aku harus ke luar negeri beberapa hari kedepan," tuturnya dengan suara yang sedikit lebih keras dari semula. Netranya terus memperhatikan wajah cantik yang semakin mempesona oleh polesan make up tipis diwajah wanita itu.


"Yaudah nggak apa-apa," sahutnya mengerti.


Kemudian, atensi wanita tersebut teralihkan pada Mona dan Edward yang baru saja datang dari arah pintu masuk. Pasangan yang nampak serasi mengenakan batik dengan basic warna putih itu, berjalan menuju ke arah mereka.


"Belum mulai acaranya?" tanya si wanita sembari mendudukkan tubuhnya di hadapan Arita. Keempatnya duduk melingkar disebuah meja bundar, lengkap dengan empat buat kursi yang tersedia disana.


"Mungkin sebentar lagi mereka keluar," sahut Arita dengan menunjuk ke arah altar yang berdiri menawan di hadapan mereka semua. Beberapa tamu undangan saling berbincang dengan partner satu mejanya.


Pagi ini, mereka semua menghadiri undangan pernikahan dari Tiffani, sebagaimana yang telah diberikan beberapa hari lalu. Tepatnya disebuah gedung yang terletak di tengah kota, sehingga membuat Arita berangkat bersamaan dengan Gibran.


"Tadi mama ngasih kabar, Baron excited banget diajak keluar sama papa," ucap Mona dengan membuka ponselnya. Kemudian, wanita itu menunjukkan room chat-nya dengan Patricia, sehingga menampakkan sebuah foto yang dikirimkan oleh mamanya.


"Loh ... tadi pagi Pak Andre bilang ke saya, katanya main dirumah aja. Kok sekarang diluar?" tanya Arita keheranan.


Pasalnya ketika Gibran menjemputnya tadi pagi, mereka membawa Baron atas permintaan Andre. Dan sebelum mereka berangkat, Arita dan Gibran mengantarkan Baron ke rumah Mona dan Edward untuk menemui Andre.


"Papa ngajak Baron ke KidsLand. Mau ajak jalan-jalan sambil belajar katanya," jawab Mona dengan kekehan gelinya.


Sontak, Arita pun menggelengkan kepala tidak habis pikir oleh kedua orang tua Gibran, yang sudah menerima Baron yang notabenenya adalah putranya. Namun, ada satu sisi yang membuat Arita merasa lega, ia bisa melihat ketulusan Andre kepada putra kecilnya itu.


"Setidaknya dia aman selama kita disini," ucap Edward yang dianggukki oleh Mona dan Gibran.


"Lihatlah, justru papa yang lebih excited daripada Baron," ucap wanita itu lagi, sembari menunjukkan sebuah pesan yang baru saja masuk dari sang mama. Dalam sebuah video yang dikirimkan oleh Patricia, mereka bisa menyaksikan betapa antusiasnya Baron di gendongan Andre.


"Wah, ternyata papa belum setua itu, ya?" celetuk Gibran begitu melihat papanya yang menggendong tubuh Baron dengan sangat santai.


"Laporin ke papa, ah," gumam Edward yang membuat Gibran melemparkan sebuah tisu ke arahnya. Sontak, Mona terkekeh geli melihat adiknya yang terlihat kaget oleh ucapan suaminya itu.


"Maklum lah, papa belum pernah ngerasain momong anak kecil setelah kita hidup masing-masing." Arita menganggukkan kepalanya paham, dan sangat mengerti bagaimana perasaan atasannya. "Setidaknya dengan adanya Baron, membuat mereka bisa merasakannya."

__ADS_1


Mendengar hal itu, membuat Edward mengelus pundak istrinya dengan lembut. Mona mengulas senyum tipisnya ketika mendapatkan sebuah kecupan hangat dipelipisnya dari pria yang berada di sebelahnya itu.


"Oh iya, saya punya info promil dari teman-teman dikantor dulu Bu Mona mau coba lagi?" tawar Arita seolah mengerti bagaimana perasaan wanita itu. Gibran menolehkan kepalanya ke arah samping, usai mendengar tawaran dari Arita.


"Program hamil?" tanya Gibran yang dianggukki Arita.


"Boleh, nanti kamu share ke aku ya ..." ucap Mona dengan wajah ragunya ke arah Arita—calon adik iparnya. Sementara Edward, pria itu nampak sedikit lega begitu mendengar jawaban dari sang istri. Setidaknya, Mona berniat untuk kembali mencoba setelah berputus asa sejak beberapa tahun lalu.


"Nggak ada salahnya dicoba dulu, Kak. Semoga kali ini berhasil," usul sang adik sehingga membuat Mona menganggukkan kepala dengan tersenyum tipis. Besar harapan mereka, semoga Mona dan Edward kembali diberikan momongan.


Tak berselang lama, suara dari pembawa acara mulai menginterupsi semua tamu undangan yang hadir. Berbagai rangkaian acara dilewati dengan sakral, sehingga membuat Arita tak henti hentinya mengulas senyum bahagia untuk partner kerjanya tersebut.


"Mau maju sekarang atau nanti?" tanya Gibran setelah menunggu beberapa saat.


Panjang antrean untuk menyalami kedua mempelai, membuat pria itu berpikir dua kali untuk berdiri saat itu juga. Sementara sang kakak dan kakak iparnya, telah beranjak lebih dulu karena ada keperluan setelah acara ini selesai.


"Sebentar lagi," sahut Arita sembari membuka ponselnya. Pandangan wanita itu mengarah pada Gibran, yang tampil berbeda dengan kemeja batik berwarna hitam, sehingga membuatnya terlihat lebih berwibawa.


"Memang betah, berdiri selama itu?" tanya Arita.


"Ya enggak, lah. Mending nunggu senggang aja sekalian," sahut Gibran dengan sedikit ngegas, sehingga membuat Arita terkekeh sejenak. Pandangannya menatap ke arah altar yang berukuran lumayan besar, kini padat oleh antrean tamu undangan yang bergantian untuk menyalami Tiffani dan suaminya.


Seutas senyum tipis mulai terukir dibibir si pria, tatkala Arita menanyakan hal tersebut. Entah mengapa, sejak kedatangan keluarganya ke rumah Arita kemarin sore, wanita itu menjadi lebih terbuka daripada sebelum-sebelumnya.


"Mungkin seminggu lebih," jawabnya sehingga membuat Arita mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Bisnis? Or traveling?" tanya Arita lagi, yang membuat senyum diwajah Gibran semakin melebar. Tatapannya semakin lekat mengawasi wajah Arita, sehingga membuat wanita itu lantas memalingkan wajah ke arah lain.


"Why are you so curious, hm?" bisik pria tersebut yang membuat Arita semakin mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entah mengapa, wanita itu merasakan aliran darah ditubuhnya berdesir lebih cepat daripada biasanya.


"Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku," sahut Arita sembari berdiri dari duduknya. Setelah mengambil clutch berwarna hitamnya, wanita itu meninggalkan Gibran begitu saja.


Sontak, pria itu langsung tertawa geli melihatnya. Tanpa menunggu dirinya, Arita langsung berjalan ke arah ujung gedung dibagian depan, berniat mengantre untuk bertemu dengan Tiffani.


"Dih, sensi ..." sindir Gibran setelah menyusul Arita dan berdiri tepat disebelah wanita itu. Sementara Arita, ia berusaha mengalihkan pandangan agar tidak saling bertatapan dengan Gibran.

__ADS_1


"Eh maaf, Anda siapa ya?" ucap Arita ketika Gibran menarik tangannya sehingga melingkar manis di lengan kekar milik pria itu. Begitu Arita menarik tangannya, Gibran kembali melakukannya dan kali ini, tangan wanita itu sengaja ia himpit.


"Oh, saya calon suami Anda. Lupa, ya?" sahut Gibran dengan begitu percaya dirinya. Mendapati hal itu, Arita langsung merotasikan bola matanya dengan malas.


"Ternyata ibunya Baron tidak sesabar yang aku lihat," celetuk Gibran yang membuatnya dihadiahi sebuah cubitan dari wanita yang berdiri di sebelahnya. Tidak main-main, cubitan wanita itu meninggalkan rasa panas di lengannya.


"Eh, kok ngamuk? Sabar dulu, Ar. Nanti juga kita nyusul Tiffani," ucap pria itu yang semakin menjadi. Setelah menginjak kaki Gibran yang mengenakan sneakers putihnya, Arita langsung bergegas maju.


Lagi dan lagi, Gibran tertawa karena perbuatan wanita itu. Mereka berdua berada di antrean paling akhir, sehingga membuat Gibran merasa bebas untuk mengekspresikan emosi jiwanya. Dan untuk kali ini, Gibran benar-benad merasa bahagia akan hal yang sederhana.


"Wah-wah, sepertinya wanita ini calon istri tukang KDRT." Gibran menyusul wanita yang nampak anggun dengan dress semi formal dengan warna putih tulang dan kombinasi hitam itu. Melihat heels yang dikenakan oleh Arita, membuat Gibran merasa sedikit khawatir.


"Tumitnya nggak pegel, pakai heels begitu?" tanya Gibran dengan menyentuh pinggang Arita dibagian belakang. Melihat si wanita yang menggelengkan kepala, membuat Gibran menganggukkan kepala.


"Aku titip sebentar, boleh?" tanya Arita dengan menyerahkan clutch miliknya kepada Gibran. Setelah pria itu bersedia, Arita merapikan rambutnya yang ia rasa sedikit berantakan.


"Nggak usah, biar aku yang bawa," tolak si pria begitu Arita hendak meminta clutch miliknya. Meski sudah ia minta hingga berulang kali, Gibran tetap tidak memberikan padanya. "Nggak bakalan aku bawa kabur juga, Ar."


Disepanjang menunggu antrean, Arita berusaha menahan tawanya ketika melihat Gibran yang semula nampak maskulin, kini menjadi sedikit lebih feminim, karena membawakan tas berukuran kecil miliknya dengan cara ditenteng.


"Macho-nya ilang, deh ..." celetuk Arita yang tidak mampu menahan tawanya lagi.


"Bodo amat," tukas si pria dengan menggandeng tangan kanan milik Arita. Tiba saatnya bagi mereka untuk menyalami Tiffani dan sang suami, Arita langsung memeluk tubuh rekannya itu.


"Selamat ya, Tif. Semoga pernikahan kalian langgeng seterusnya," ucap Arita yang disambut senyum hangat dari kedua mempelai tersebut. Setelah sedikit berbincang, Arita dan Gibran menyempatkan untuk mengambil momen di kamera.


Setelah diarahkan oleh FG diacara tersebut, mereka segera pamit menuruni altar. Kemudian keduanya diarahkan oleh tim WO, untuk menuju ke arah meja prasmanan yang telah disediakan. Dengan beriringan, keduanya membelah banyaknya tamu undangan.


"Mau makan?" tanya Gibran tanpa melepaskan genggamannya.


"Enggak, kamu aja gih ..." ucap Arita sembari memilih tempat duduk yang telah kosong sebagian. Sementara itu, Gibran menganggukkan kepala dan menyerahkan clutch milik Arita kepada si pemilik.


Setelah mendapatkan posisi yang menurutnya pas, Arita langsung mendudukkan tubuh tanpa berpikir panjang. Namun, tanpa sengaja seseorang menumpahkan minumannya di dekat Arita, sehingga membuat sebagian dressnya basah oleh minuman tersebut.


"Astaga, maafkan aku," ucap seorang pria dengan wajah kagetnya. Dengan cepat, pria itu langsung mengambil tisu dan memberikannya pada Arita. Ketika hendak membantu untuk mengeringkannya, sebuah suara langsung menghentikan pergerakan pria itu.

__ADS_1


"Apakah kau seceroboh itu?" tanya Gibran dengan begitu datarnya. Sontak, pria yang ia perkirakan seumuran dengannya pun, langsung meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat.


"Pergilah, jangan sentuh calon istriku!"


__ADS_2