
"Ini masih jauh, Mbak?" tanya Arita sembari mengedarkan pandangan ke arah luar. Mobil yang mereka tumpangi, melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan kota yang nampak sangat senggang.
Waktu masih menunjukkan pukul satu dini hari, yang membuat cuaca terasa semakin dingin. Arita semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh si kecil, yang saat ini masih memejamkan mata di pangkuannya.
"Enggak kok, mungkin lima menit lagi kita udah sampai," jawab sang wanita, yang duduk di sebelah kemudi bersama dengan sang suami. Retno meminta bantuan suaminya, untuk membantu Arita yang sangat terdesak saat ini.
"Maaf, aku jadi ngerepotin Mas dan Mbak malam-malam begini ..." Penuturan dari wanita itu, langsung disambut gelengan kepala tak setuju, dari sepasang suami istri yang duduk di depannya.
"Udah, kamu nggak usah mikirin itu. Lagi pula, kita bertiga juga udah lama kenal. Bagi kami, kamu dan Baron bukan orang lain lagi." Pria yang mengenakan kacamata minus itu, ikut menimpali ucapan Arita. Ia hanya memandang dari kaca spion tengah.
Dengan posisi yang sedikit menghadap ke belakang, wanita tersebut mengusap lembut punggung tangan Arita. Senyum yang selalu menguatkannya, kembali terekam oleh netra Arita hingga membuat sudut hatinya menghangat.
"Terima kasih banyak, untuk semua hal yang sudah Mas dan Mbak berikan untuk kami berdua. Tanpa kalian, mungkin semua akan sulit ..."
__ADS_1
"Sama-sama, Ta." Dengan cepat pria itu memotong ucapan Arita. Keduanya memang sangat dekat dengan ibu satu anak tersebut. Karenanya, sepasang suami istri itu bisa bertemu dan melangsungkan pernikahan.
Dengan kata lain, Arita adalah perantara jodoh antara kedua orang tersebut. Maka tak heran, jika keduanya memperlakukannya bak keluarga dekat.
Tak berselang lama setelah itu, keempatnya mulai memasuki daerah yang masih didominasi oleh rumah sederhana. Meskipun begitu, Arita merasa lega karena dirinya dan sang putra sudah berada di luar kota asalnya.
"Rumahnya yang deket mushola, Mas." Peringat Retno sembari menunjukkan arah pada sang suami. Wanita dengan outer rajut itu, memandangi jalanan yang sepi dari balik kaca. "Nah, rumahnya yang cat putih itu."
Mengikuti arahan dari sang istri, pria berusia 30 tahun itu melajukan mobilnya dengan cekatan. Begitu memasuki pekarangan rumah yang menyatu dengan mushola itu, membuat Arita mengulas senyum lega.
Usai mematikan mesin mobil, pria yang mengenakan hoodie berwarna hitam itu pun segera keluar. Ia berniat memberikan arahan pada mobil pick up yang sejak tadi mengikuti mereka dari belakang.
"Kamu buat dia nyaman dulu, jangan sampai kebangun. Mbak mau bantuin Mas Dendi buat pindahin barang barang kalian,"
__ADS_1
Belum sempat Arita menyahuti ucapan tersebut, Retno sudah keluar lebih dulu menyusul sang suami. Kini, hanya tersisa dirinya dan sang putra, di bawah sinar temaram itu. Menyisakan keheningan, yang membuat Arita menghela napas panjang.
"Maafin ibu, Nak ..." Sebuah kecupan hangat, ia berikan dikening Baron. Satu-satunya makhluk kecil, yang membuatnya kuat hingga saat ini. Dipandanginya wajah lelah sang putra, hingga tak terasa sebuah ketukan kecil membuat Arita kembali tersadar.
"Kamu udah bisa masuk, Ta. Gendongnya pelan-pelan aja," ucap Retno yang kini memberikan aba-aba untuk Arita. Setelah menganggukkan kepala, wanita itu kembali mengecup lembut kening si kecil.
Seperti yang dilakukannya tadi, Retno membantu membukakan pintu untuk akses rekan kerjanya. Setelah Arita berhasil membawa Baron keluar, mereka berjalan beriringan menuju teras rumah dengan langkah cepat.
"Mas, tolong lebarin pintunya," titah Retno pada Dendi yang kebetulan berada di dekat pintu masuk. Tanpa menunggu lama, pria tersebut langsung melaksanakan perintah sang istri.
Sesuai arahan, Arita membopong tubuh mungil putranya menuju sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari ruang tengah. Begitu mendapati sebuah ranjang yang sudah dilapisi kain seadanya, Arita segera menurunkan tubuh Baron dengan lembut.
"Untuk sementara, biar gini dulu nggak papa, kan? Mbak takut, kalau Baron tiba-tiba kebangun." Arita menggelengkan kepala santai. Ia rasa, kamar ini tidak terlalu buruk, untuk ditempati putranya.
__ADS_1
"Justru ... Arita berterima kasih banget, karena Mbak sudah membantu. Syukurlah semua berjalan sesuai target kita,"