
"Kau tidak usah panik, tenanglah ..." Riko berusaha untuk meyakinkan Arita supaya rencananya berjalan dengan lancar. Sementara wanita itu, ia masih saja takut akan kemungkinan buruk yang akan diterima oleh Baron.
"Bagaimana aku tidak panik? Dia putraku," kelak Arita.
"Oke, dia memang putramu. Tapi apakah dengan kau panik seperti ini, bisa menyelesaikan masalah?" ucap Riko tanpa mengalihkan pandangannya yang terus menatap ke arah depan. Sontak, si wanita terdiam membisu mendengar penuturan Riko.
"Justru jika kau panik akan menyebabkan hal fatal bagi putramu sendiri," tegasnya sekali lagi. Untuk kali ini, pria itu menatap ke arah samping, dimana Arita mendudukkan tubuhnya dengan wajah yang terlihat sangat cemas.
"Kau sang–"
"Berhenti bicara, atau aku akan melakban bibirmu?" potong si pria tak mengijinkan Arita untuk bicara lebih banyak lagi. Benar saja, keadaan mobil menjadi sunyi senyap usai ucapan tegas dari Riko kepada Arita. Namun setidaknya, hal itu membuat si pria lebih fokus dalam berpikir.
"Temukan titik koordinat orang itu," ucap Riko yang lebih tepatnya seperti sebuah perintah kepada dua orang pria yang mendudukkan tubuhnya di jok paling belakang.
Sementara Arita, wanita itu menatap ke arah wajah si pria dengan tatapan tak percaya. Entah kenapa, bibir pria itu sangat lihai sekali ketika memerintah anak buahnya. Selain terkesan tegas, Riko memiliki watak yang keras menurut Arita.
Namun, Arita hanya bisa diam. Ia tak memiliki keberanian yang cukup, untuk mengatakan hal itu secara langsung kepada Riko. Selama di perjalanan, Arita terus menatap ke arah luar jendela dengan perasaan was-was.
"Dia sudah berada di gedung itu, Tuan. Apakah kita akan ambil plan A?" tanya anak buahnya dengan menunjukkan laptop kepada atasannya.
"Good, ini sangat mudah," ucap Riko dengan jumawa.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, mobil hitam tersebut mulai memasuki kawasan dengan suasana yang sangat sepi. Jalan raya disekitarnya, nampak kosong melompong tak ada satupun kendaraan yang melewati tempat itu.
"Kita akan berhenti disini," ucap Riko sehingga membuat Arita membelalakkan matanya tak percaya. Dengan wajah kagetnya, Arita menolehkan kepalanya ke arah samping, sehingga netranya saling bertubrukan dengan Riko.
"Kau ingin protes, hm?" tanya pria itu.
"Tidak, beri tahu aku caranya," sahut Arita dengan cepat.
"Kita berhenti disini, berusaha menghindari kecurigaan dari pria itu. Kau akan berjalan, tapi ada aku dan dua orang lainnya yang akan mengikutimu. Ketika kau sudah di depan gedung itu, kirimkan pesan pada pria sial*n itu. Kau paham, Nyonya?" papar Riko menjelaskan.
"Aku akan melakukan apapun demi putraku. Dan aku percayakan kepadamu," ucap Arita dengan begitu mantap. Mendengar hal itu, membuat si pria menganggukkan kepalanya merasa bangga.
"Jangan takut, ada kami disini," ucap Riko dengan melepaskan jas hitam yang dikenakannya begitu saja. Sontak, Arita benar-benar terkejut menyaksikan hal itu.
"Cepatlah turun," ucap Riko sembari membuka pintu mobil. Setelah dirinya turun, Arita mengikutinya dengan langkah yang terlihat ragu. Melihat hal itupun, membuat Riko menepuk singkat bahu si wanita.
"Kalian jaga disini, jangan lupa selalu stand by connecting," tegas Riko kepada dua orang pria yang duduk diposisi paling depan. Setelah memastikan semuanya aman, dua pria lainnya mengikuti Arita dan Riko setelah mengambil senjata khususnya.
Dengan langkah yang semakin cepat, keempatnya mulai berjalan menyusuri jalanan sepi itu. Setelah memperhitungkan tindakannya, Riko dan kedua anak buahnya memilih tempat untuk bersembunyi.
"Lakukan perintahku tadi," ucap Riko pada Arita.
__ADS_1
Setelah meyakinkan dirinya, wanita itu menganggukkan kepalanya. Arita mulai berbalik, dan berjalan mendekati sebuah gedung tua yang telah lama kosong tak berpenghuni. Mengenakan hoodie dan celana legging hitam, wanita itu nampak menyatu dengan kegelapan di tempat itu.
"Keluarlah, aku sudah menepati ucapanku," teriak Arita dengan mengepalkan kedua tangannya disisi tubuh.
Dadanya bergemuruh hebat, tatkala netranya melihat sebuah flash handphone dari lantai tiga. Benar saja, ia bisa melihat siluet putranya yang berdiri dengan kedua tangan yang terikat di belakang.
"Lepaskan putraku, sial*n!" sentak Arita yang merasakan darahnya mulai mendidih. Kedua matanya menyorot tajam ke arah si pelaku, yang kini terkekeh santai melihatnya dari atas sana.
"Apa jaminan yang akan kau beri? Aku tidak akan melepaskannya secara cuma-cuma," ucap si pria yang kini memegangi sebuah pisau kecil yang diletakkan tepat di pundak sang putra.
"Kau adalah pria yang tidak tahu malu, Danu! Aku bersumpah, kau tidak akan pernah bahagia dengan cara seperti ini!" amarahnya semakin menjadi, ketika menyaksikan bibir putranya dibekap menggunakan sebuah lakban.
Arita dapat melihat dengan jelas, terutama saat orang-orang suruhan Banu menyalakan senter yang begitu terang ke arah Baron berada.
"Aku tidak peduli, Arita ..." sahut Danu tertawa miris.
Tak terasa, tiba-tiba Arita merasakan air matanya menetes menyaksikan hal tersebut. Putra yang sangat ia sayangi, kini berada dengan pria tak berhati seperti Banu. Ingin rasanya wanita itu memeluk Baron, namun ia tak ingin gegabah.
"Katakan maumu, pria bajing*n! Sebelum kesabaranku mulai habis!" teriak Arita yang tidak ingin menghabiskan waktunya lebih lama lagi.
"Naiklah, aku akan mengatakannya langsung kepadamu," ucap Banu dengan tatapan yang sudah mulai berubah kepada Arita. Namun, Arita justru merasakan sesuatu hal buruk akan terjadi jika dirinya naik ke atas sana.
__ADS_1
"Tidurlah bersamaku walaupun sekali saj–"
"Hentikan ucapan menjijikkan itu!"