
"Hai anak Ibu," ucap Arita dengan binar bahagia yang terlihat nyata di kedua matanya. Menatap tubuh mungil sang putra yang berlari ke arahnya, membuat wanita itu menunduk dengan kedua tangan yang terbuka lebar.
"Baron kira, Ibu belum jemput ..." tutur si bocah dengan seragam merah putih itu dengan nada yang terdengar sangat lesu. Sontak, Arita pun tertawa geli mendengar penuturan polos putra kecilnya itu.
Dengan gemas, Arita mengecup pelipis Baron yang ternyata dibasahi oleh keringat. Melihat cuaca siang ini yang sangat panas, membuat si wanita mengusap peluh sang putra menggunakan tissue yang tersedia di dalam tasnya.
"Badannya Baron bau asem, ih. Untung tadi Ibu cuma nyium dikit," goda si wanita dengan mengapit hidungnya dengan ibu jari dan telunjuknya.
Sontak, Baron langsung mendelik tak terima begitu mendengar ucapan sang ibu. Bocah dengan rambut halusnya itu menatap sebal ke arah Arita, yang kini mulai berdiri dari posisi jongkoknya.
"Ya udah, nggak usah cium-cium Baron lagi. Baron kan, bau asem." Bak orang dewasa, bocah laki-laki itu berjalan lebih dulu dan meninggalkan sang ibu yang masih berdiri di dekat ayunan.
Tawa yang semula Arita tahan, kini tak terbendung lagi. Wanita itu lantas beranjak mengikuti langkah kecil sang buah hati. Melihat sekilas bibir si bocah yang mengerucut sebal, membuat wanita itu tertawa kecil.
"Eh eh, anaknya Ibu kok ngambek gitu sih? Sini-sini, biar Ibu liat ..." Dalam sekali angkat, tubuh mungil Baron sudah berada di gendongan Arita. Wanita itu menggesekkan hidung keduanya, sehingga membuat Baron tertawa geli.
__ADS_1
"Ibu, ayo kita pulang. Panas banget, pengen minum jus mangga buatan Ibu." Mendengar hal itupun, membuat Arita terkekeh singkat. "Oh iya, Ibu jemput Baron jalan lagi, ya?"
Melihat sang ibu yang menggelengkan kepalanya, membuat Baron menggaruk pelipisnya tayang tidak gatal. Bocah itu lantas mengedarkan pandangannya, untuk mendapatkan jawaban.
"Kenapa emangnya?" tanya Arita dengan singkat.
"Ya enggak kenapa-napa, Bu. Baron kepikiran, kasihan Ibu kalau jalan pas cuacanya panas begini. Baron nggak mau nyusahin Ibu," tutur si bocah yang membuat Arita merasa tersentuh.
Langkah kaki si wanita, mendekat ke arah tempat parkiran. Baron masih terdiam, begitu melihat sang ibu yang membawanya ke tempat tersebut.
Sebuah sepeda dengan model vintage, didominasi oleh warna putih dan cokelat itu, terparkir rapi di dekat kendaraan lainnya. Dengan keranjang besi yang berada di bagian depan, membuat tampilannya nampak manis di mata Arita.
"Hah? Ini punya siapa, Bu?" tanya si bocah dengan bingung. Baron memandangi sepeda dengan boncengan di bagian belakangnya itu, sesekali terkikik geli.
"Tante Retno kirim sepeda ini dari kota," sahut Arita yang membuat bocah itu menganggukkan kepalanya paham. Setidaknya, sang ibu tidak terlalu kerepotan kesana-kemari dengan berjalan kaki.
__ADS_1
"Not bad," ucap Baron yang membuat Arita terbahak dibuatnya. Wanita itu mendaratkan beberapa kecupan, di pipi serta kening sang buah hati. Setelah mendudukkan tubuh putranya di bagian belakang, wanita itu lantas mulai menaikinya.
"Beli motor sama mobilnya besok, ya? Kalau Ibu sudah kerja lagi," tutur Arita yang membuat si bocah tertawa. Dengan kedua tangan yang melingkar di perut rata sang ibu, Baron sesekali bersenandung seiring berjalannya waktu.
Mereka memang mempunyai mobil, serta sebuah motor Vespa matic pada awalnya. Namun karena kebutuhan, keduanya harus terjual untuk biaya rumah sakit saat Baron terkena penyakit yang lumayan parah.
Tapi, Arita sama sekali tak mempermasalahkan hal tersebut. Setidaknya, ia masih bisa bersama dengan putranya saja sudah lebih dari cukup.
"Oh iya, mulai besok Ibu sudah mulai kerja. Nanti pulangnya biar Ibu jemput seperti ini, mau?" tawar si wanita dengan mengelus tangan kecil yang melingkar sempurna di perut ratanya.
"Really? Ibu sudah mulai kerja lagi?" Arita lantas menganggukkan kepala sebagai respon. Sedangkan Baron, bocah laki-laki itu terdiam untuk beberapa saat seolah memikirkan sesuatu yang serius.
"Ibu nggak usah jemput, Baron kan sudah besar." Ucapan bocah itu, lantas menusuk tepat di ulu hatinya. Wanita itu tiba-tiba merasakan sesak yang memenuhi rongga dadanya. Sekuat tenaga, ia berusaha menahan air matanya supaya tak tumpah.
"Nggak papa, Sayang. Nanti, Ibu antar jemput seperti biasanya."
__ADS_1