
"Apakah kau sudah bangun, hm?" ucap seseorang dengan nada lembut tepat di telinganya.
Ketika menyadari ia mengenali suara lembut itu, lantas membuat Arita mulai mengerjapkan matanya. Untuk beberapa saat, wanita itu hanya berkedip sembari menatap ke arah langit-langit rumah sakit. Lagi dan lagi, aroma obat langsung menyeruak kuat di indra penciumannya.
"Arita ..." panggil suara itu lagi sehingga membuat Arita lansgung menolehkan kepalanya ke arah samping.
Betapa terkejutnya wanita itu, ketika menjumpai seseorang yang telah lama tidak bertemu dengannya. Rasa haru dan tak percaya, begitu menyesakkan dadanya. Ketika hendak bicara, bibirnya seolah terkunci rapat.
"Lihatlah, putraku sangat bahagia. Kau juga harus bahagia sepertinya," ucap pria berparas tampan itu sembari menggendong tubuh Baron di pelukannya.
Menaksikan hal itu, membuat Arita menahan tangisannya. Dengan bibir yang masih terkunci rapat, wanita itu melipat bibirnya kedalam berusaha untuk menahan isakan yang hendak lolos.
Dadanya kini terasa begitu sesak, melihat sosok itu membelai lembut kepala sang putra. Mengecup keningnya lembut, kemudian membawa Baron dalam pelukannya lagi.
Sungguh, Arita ingin berada di posisi putranya walau sejenak. Kehangatan yang begitu tulus, didapatkan oleh putra kecilnya dari Bayu.
"Aku bahagia melihatmu sekarang," ucap si pria dengan menatapnya lembut. Seutas senyum yang Arita rindukan, kini tergambar jelas di hadapannya tanpa penghalang apapun.
Tak terasa, wanita itu mulai merasakan sebuah cairan bening terasa hangat mengalir di sudut matanya. Dalam keadaan berbaring, Arita menyaksikan kedekatan sang putra dan juga suaminya.
"Aku yakin kau akan bahagia dengan jalan ini. Tidak apa-apa, aku sudah menerima semuanya," ucap pria itu tanpa memandang ke arahnya. Sejak tadi, suaminya itu masih saja memandangi wajah lelap Baron yang berada di gendongannya.
"Siapa namanya? Gibran?" tanya pria itu seolah bermonolog dengan dirinya sendiri.
Ketika suaminya menyebut nama gIbran, sontak tangisan wanita itu tidak dapat terbendung. Rasa sesak yang semula memenuhi rongga dadanya, kini membuat hatinya benar-benar merasa sangat bergetar.
"Dia pria yang baik. Dan aku percaya, dia bisa menjagamu dan putra kita," Arita menatap ke arah Bayu dengan tatapan tak percaya.
Ketika netra keduanya saling berpandangan, Arita bisa merasakan ketulusan dari pria itu. Melalui tatapannya, Bayu berusaha untuk meyakinkan satu-satunya wanita yang sangat ia cintai, bahwasannya Arita telah memilih jalan yang tepat.
Arita melihat jika suaminya semakin mendekat ke arah brankar. Dengan menurunkan Baron tepat di sebelah Arita, pria itu kembali membungkukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Bapak sayang sama Baron," bisik pria bersuara berat itu sembari mengecup kedua pipi Baron. Kemudian, pria itu mengecup lama kening sang putra dengan mata yang terpejam.
Pandangannya tertuju pada Arita. Seutas senyum yang menghiasi wajahnya, mampu membuat tangisan Arita semakin pecah.
"Berbahagialah, Arita. Karena dengan itu, aku akan merasa bahagia disana," bisiknya tepat didekat telinga Arita.
Wanita itu memejamkan matanya dengan rasa sesak di dada, ketika merasakan sebuah kecupan hangat yang mendarat di keningnya. Detik itu juga, Arita merasakan rasa yang begitu luar biasa.
Tak berlangsung lama, kecupan itu mulai menghilang seiring hawa dingin yang menyapa kulitnya. Keninng wanita itu mengerut, senada dengan perasaan bingung dalam hatinya.
"Mas Bayu?" panggil wanita itu dengan suara yang begitu lirih.
"Arita ... Arita?" panggil seseorang dengan menepuk lembut pipi si wanita. Namun, Arita tak meresponnyas ama sekali sejak tadi. Sementara dirinya, merasa khawatir lantaran Arita menangis dalam keadaan tidurnya.
"Dia masih belum membuka matanya, Ed. Bagaimana ini?" ucap Mona dengan raut wajah panik ke arah sang suami. Sementara Edward yang duduk di sebelah Riko pun, berusaha untuk menenangkan si wanita. Sementara mereka mengetahui, jika Arita tengah terbawa mimpi.
"Kita tunggu Arita bangun," ucap Edward menanangkan.
"Aku takut dia kenapa-napa," takutnya sehingga membuat Edward menggelengkan kepalanya seolah memastikan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Arita ..." panggil Mona sekali lagi.
"Astaghfirullah," ucap Arita sembari menghirup napasnya dalam-dalam usai terbangun dari tidurnya. Sebelum menatap ke sekitarnya, wanita itu mengusap pipinya yang dibasahi oleh jejak air mata.
"Kau baik-baik saja?" tanya Mona sembari membantu Arita untuk mengusap peluh yang membasahi kening dan pelipis si wanita menggunakan selembar tissue.
"Coba tarik napas pelan-pelan," titah wanita itu yang dilakukan oleh Arita. Dengan lembut, Mona mengelus puncak kepala Arita, sehingga membuat wanita itu mengembuskan napasnya dengan perlahan.
"Sudah mendingan?" tanya wanita itu yang disambut anggukkan kepala oleh Arita. Tanpa menunggu lama, Mona mengarahkan sebuah sedotan ke arah bibir Arita sehingga membuat calon adik iparnya mendapatkan minum.
"Dimana Baron?" tanya Arita dengan keadaan yang masih bingung. Menatap ke arah samping, putranya itu tidak ada di sebelahnya. Sontak, Arita menatap ke arah Mona yang berdiri di sebelah brankarnya.
__ADS_1
"Dia sedang dicek oleh dokter ke ruangan lain, tidak usah khawatir, Ar ..." ucap Mona dengan sangat telaten menatap wajah pucat wanita itu. Atas bantuan Mona, ibu satu anak itu mulai mendudukkan tubuhnya sembari mengatur napasnya.
"Kau bermimpi sesuatu?" tanya Mona dengan berhati-hati.
Untuk sejenak, Arita terdiam dengan bibir yang terkatup rapat. Ternyata, ia bertemu dengan suaminya melalui mimpi saat tertidur tadi. Namun, entah mengapa Arita tidak akan pernah melupakan kenangan manis ketika dirinya kembali bertemu dengan almarhum suaminya meski hanya sekedar melalui mimpi.
"Mungkin karena aku terlalu lelah," alibi si wanita yang tidak ingin menceritakan mimpinya untuk saat ini.
Tak ingin memaksa, ketiganya pun berusaha untuk memahami perasaan Arita. Pun mereka tidak sebodoh itu, untuk memahami racauan yang terucap dari bibir Arita ketika wanita itu tertidur.
"Ya sudah jika begitu, apakah kau lapar?" tanya Mona sehingga membuat Arita menggelengkan kepalanya. Semenjak Baron hilang, entah mengapa wanita itu tidak merasakan lapar sama sekali.
"Aku sudah membelikanmu bubur, biar aku yang suapi ya?" tawar si wanita seolah menginginkan hal itu. Tak bisa menolak, akhirnya Arita pun menganggukkan kepalanya berusaha untuk menghargai effort dari atasannya.
"Ed, kemarikan box-nya. Aku akan membantu Arita," pinta si wanita kepada suaminya.
Melihat perubahan sifat Mona yang terlihat excited, membuat Edward mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya, istrinya itu sangat mudah sekali bergonta-ganti ekspresi semenjak pagi tadi.
"Eh tidak apa-apa, biar aku yang menyuapimu," ucap Mona ketika Arita hendak mengambil box berisikan bubur ayam yang telah dibelinya.
"Aku bisa melakukannya sendiri, Kak ..."
Yang mengejutkan, Arita tiba-tiba saja mengubah panggilannya kepada Mona. Mendengar hal itupun, lantas membuat si wanita semakin berbinar senang. Wajah cantik diusia 30 tahunnya itu, semakin terlihat terang dengan auranya.
"Sudah sudah, biar Arita makan sendiri. Lagipula, jangan membuatnya tidak nyaman, Sayang." Mona langsung menatap tajam ke arah suaminya yang baru saja berucap demikian.
Tatapannya terarah pada Arita, yang menatap sungkan ke arahnya. Tanpa basa basi, Mona langsung meletakkan box tersebut di atas brankar, kemudian segera beranjak dari duduknya.
"Ya sudah, aku akan menyusul Baron saja,"
Tanpa membuka suaranya lagi, wanita itu langsung keluar dari ruang rawat Arita dengan wajah yang tertekuk. Sontak, ketiganya pun dibuat keheranan oleh tingkah Mona yang sangat kekanakan.
__ADS_1
Begitu menyadari sesuatu, Arita langsung menatap ke arah Edward dan Riko dengan tatapan penuh tanya.
"Apakah Kak Mona sedang hamil?"