Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 77


__ADS_3

"Siapa yang mengatakan jika aku hamil?" tanya Mona begitu tiba di ruang rawat yang ditempati oleh Arita dan Baron. Sontak, atensi kedua orang yang ada disana pun, langsung tertuju pada si wanita.


Tak lama setelah itu, disusul oleh Edward yang mendorong kursi roda milik Baron. Melihat hal itupun, membuat Riko langsung sigap mengambil alih si kecil terlebih dahulu.


"Sebentar, Sayang. Kita masuk dulu, ya?" ucap suaminya dengan sangat sabar. Pria itu menuntun tangan wanitanya mendekat ke arah Arita yang berdiri di sebelah brankar.


"Kamu yang ngomong, Ar?" tanya Mona dengan menatap ke arah ibu satu anak tersebut.


Sementara Arita, wanita itu hanya mengulas senyum tipisnya mendengar pertanyaan dari atasannya. Persis seperti dirinya 7 tahun silam, ketika ia belum menyadari bahwa dirinya tengah mengandung janin dalam perutnya.


"Nggak ada yang ngomong begitu, Kak. Mungkin Kak Edward salah dengar," alibi si wanita yang tidak ingin membuat mood Mona berubah-ubah karena ucapannya. Selain tengah sensitif, Mona juga sedikit melankolis untuk saat ini.


"Jangan mengatakan hal itu lagi, Ed. Kau tahu bagaimana perasaanku jika menyangkut keturunan," ucap Mona kepada suaminya, sehingga membuat pria itu menganggukkan kepala sembari mengusap rambutnya.


"Baiklah, maafkan aku," sesal pria 35 tahun itu.


Ternyata memang benar ucapan Arita. Riko dan Edward menyaksikan betapa wanita itu sedikit berlebihan dalam menanggapi sesuatu. Sangat berbeda jauh dengan sosok Mona yang meeka kenal. Namun, mereka tetap berusaha untuk menjaga Mona.


"Hei boy, katakan pada bibi adakah yang sakit?" ucap Mona dengan nada lembutnya sembari mendekat ke arah Baron. Wanita itu memandangi wajah Baron sembari mengusap rambut si kecil.


"Baron sudah sehat, Bibi tenang saja ..."


Senyuman lega langsung terukir diwajah Arita dan juga Mona. Kedua wanita itu merasa sangat senang mendengar penuturan dari anak laki-laki tersebut. Begitupun dengan Riko, yang kini tersenyum bangga pada Baron.


"Good boy," ucap Riko mengacungi jempolnya.

__ADS_1


"Ibu, Baron mau pulang. Pengen tidur dirumah aja," pinta si kecil sembari menatap ke arah ibunya. Namun, dengan cepat, Mona langsung menggelengkan kepala dan menyentuh tangan mungil milik Baron untuk ia genggam.


"Baron dirumah bibi aja, jangan pulang dulu. Mau, ya?" pinta si wanita dengan mengelus lembut punggung tangan si kecil menggunakan ibu jarinya.


"Tapi, Baron kangen sama kamar yang dirumah," sahut putranya sehingga membuat Arita terkekeh. Sementara Mona, wanita itu tampak mengerucutkan bibirnya sekilas sehingga mengundang tawa kecil dari Baron.


"Gantian bibi yang nginep di rumah Baron, mau nggak?" tawar si kecil dengan menyentuh jari telunjuk milik Mona. Kedua matanya yang bulat, memancarkan sebuah aura yang membuat sang notaris tersenyum lembut.


"Makanya Baron cepet sembuh, ya? Nanti kalau udah pulang, gantian bibi yang nginep dirumah Baron deh ..."


Mendengar hal itupun, membuat si kecil lantas menatap ke arah sang ibu. Sesekali merengek, anak laki-laki itu meminta bahkan merengek untuk pulang sesegera mungkin. Mendapati hal itu, membuat Arita tertawa lagi dan lagi.


"Sabar, Sayang. Nanti kalau susternya kasih kabar lagi, baru kita pulang, ya?" ucap si wanita seraya memutari brankar menuju sisi sebelah kiri.


"Masih lama ya, Bu?" tanya Baron.


Sesekali, Mona dan Edward mengajak anak laki-laki itu untuk berbincang. Membicarakan banyak hal, sehingga Baron tidak terasa telah menghabiskan jatah sarapannya pagi ini.


"Selamat pagi, pasien atas nama Baron Mahameru sudah bisa pulang untuk hari ini. Mengenai biaya administrasi, mohon diurus ke bagian resepsionis," papar salah satu perawat yang membuka pintu ruangan tersebut.


Mendengar hal tersebut, lantas membuat Mona tersenyum cerah. Begitupun Baron, yang kini menatap ke arah ibunya dengan wajah yang sumringah.


"Kamu tunggu Baron aja, Ar. Biar aku sama Edward yang urus," tahan si wanita begitu melihat Arita hendak beranjak dari duduknya. Meski mendapat penolakan dadi ibu satu anak itu, Mona tetap kekeuh untuk mengurusnya.


"Sudahlah, Ar. Baron sudah kami anggap seperti anak sendiri," ucap Edward meyakinkan wanita itu supaya menerima bantuannya dan Mona untuk kali ini. Tatapan tulusnya pada Baron, membuat Arita terdiam.

__ADS_1


"Aku nggak mau merepotkan lagi," sahut Arita dengan wajah seriusnya.


"Nggak ada yang repot, Arita. Kita semua keluarga," ucap Mona dengan menyentuh lembut pundak si wanita. Usai meyakinkan staff sekaligus calon adik iparnya, Mona tersenyum bahagia.


Setelah kepergian sepasang suami istri itu, kini tersisa Arita dan Riko yang menunggu si kecil.


"Om Riko tinggalnya dimana?" tanya Baron dengan tiba-tiba, sehingga membuat pria itu langsung menatap ke arah si kecil. Sembari mengenakan jas hitamnya kembali, Riko beranjak dari sofa mendekat ke arah brankar.


"Di dekat Om Gibran," sahutnya ringan.


"Oh, tetangganya?" tanya si kecil dengan polos.


Sontak, Arita dan Riko saling berpandangan karena ucapan dari anak laki-laki itu. Kemudian, keduanya tertawa lantaran wajah polos Baron seolah masih menuntut jawaban dari si pria.


"Dia tidak salah, tapi tidak benar juga," tutur si pria sehingga membuat Arita tertawa lepas. Sementara Baron, anak laki-laki itu menggaruk pelipisnya lantaran bingung.


"Kami sepupuan, boy. Dan rumahnya masih satu daerah," sahut Riko berusaha untuk menjelaskannya pada si kecil.


"Ya udah, itu namanya tetangga. Om Riko gimana, sih?" heran bocah 6 tahun itu sembari menatap sadis ke arahnya. Lagi dan lagi, Riko dibuat tertawa lepas oleh tingkah laku calon keponakannya itu.


"Iya iya iya, Baron paling benar. Iya kan, Ar?" tanya si pria berusaha meminta validasi dari wanita di sebelahnya. Begitu mendapati anggukkan kepala dari Arita, Baron kembali menatap sinis ke arah Riko.


"Jangan menjadi Tom and Jerry, okey?" sela Arita dengan wajah was-was.


"Tenang, Ar. Besok jika kalian sudah pindah ke Jakarta, dia akan lebih banyak menghabiskan waktu denganku," ucap Riko mematahkan harapan si wanita. Dengan hal itu, Arita menatap kaget ke arah Riko.

__ADS_1


"Apakah kau kira ... setelah kalian menikah nanti, kau tidak akan ikut dengan suamimu?"


__ADS_2