Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 29


__ADS_3

"Kau belum mengenakan safety belt, Nona ..." bisik pria itu di dekat telinganya. Untuk sejenak, Arita menahan napasnya saat wajah pria itu mencondong ke arahnya. Tangan Gibran memasangkan safety belt itu, kemudian menepuk singkat puncak kepalanya.


Tubuh Arita seketika menegang, begitu mendapatkan tepukan singkat di kepalanya. Matanya menatap kosong ke arah depan, tanpa berkedip sedikitpun. Lengkap dengan jantungnya yang semakin berdegup kencang.


"Jangan menahan napas seperti itu, Nona. Aku tidak akan bertanggung jawab, jika sesuatu terjadi padamu," ucap si pria yang membuat wanita tersebut mengedipkan mata. Kemudian, Arita berusaha menetralkan degupan jantungnya.


"Astaga ..." lirih si wanita begitu wajah tampan sang putra melintas di benaknya. Arita langsung membuang muka, dengan menatap ke arah luar.


Pria dengan kaca mata hitam yang bertengger manis di hidungnya itu, menatap singkat ke arah samping. Setelah itu, sebuah senyum singkat terbit di bibirnya. Berada di dekat Arita adalah sebuah keberuntungan baginya.


"Apakah akhir pekan ini, kau ada acara?" tanya Gibran dengan memutar balik setir mobilnya ke arah jalan raya. Wanita itu tak langsung menjawab. Hening beberapa saat, hingga suara dengan nada lembut itu kembali terdengar di telinga Gibran.


"Aku sangat sibuk di akhir pekan ini," Tak ada alasan yang diberikan wanita itu, hingga membuat Gibran cukup menganggukkan kepala. Tanpa sadar, pria itu mencengkram erat setir mobil dengan bibir yang terlipat ke dalam.

__ADS_1


Pajero Sport itu terus membelah jalanan, dengan kecepatan rata-rata. Sesekali, Gibran bersenandung kecil mengikuti alunan musik yang ia putar. Sedangkan Arita, wanita itu terus menatap ke arah jendela yang berada di sampingnya.


"Kau ingin makan di luar?" tanya Gibran yang membuat Arita menolehkan kepalanya sejenak. Setelahnya, wanita itu kembali menggelengkan kepala.


"Ah tenang saja, aku yang akan mentraktirmu. Anggap saja, sebagai permintaan maaf." Tak ingin menyerah begitu saja, pria berparas tampan itu terus mencoba untuk mencari beberapa topik. Pria itu berharap, semoga dirinya dapat mengenal sosok Arita lebih jauh lagi.


"Sudah kukatakan, Tuan. Kau tak memiliki salah, sehingga kau harus meminta maaf padaku. Santai saja," sahut si wanita sembari melirik ke arah Gibran. Arita benar-benar merasa heran pada pria itu, lantaran terus saja mengingatkan masalah dua hari lalu.


"Apakah aku salah bicara?" tanya Arita yang merasa aneh. Sedangkan pria di sebelahnya itu, langsung menggelengkan kepala dengan tawa sumbang. Mobil miliknya sudah mulai memasuki kawasan desa, sehingga membuat Gibran sedikit tak rela.


"Jangan terlalu dipikirkan. Aku baik-baik saja," ucap si pria sembari menoleh ke arah samping.


Gibran mendapati sang wanita, yang menatap lekat ke arah sekolah dasar yang mereka lewati. Kemudian, begitu Arita kembali menghadap ke arah depan, pria itu langsung mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Kau terlalu percaya diri, Tuan," kekehnya yang membuat si pria pun, turut tertawa.


"Bukankah percaya diri itu, baik?" Gibran bertanya demikian, sembari menaikkan sebelah alisnya. Untuk sejenak, ia bisa menatap senyum lebar dari wajah cantik itu. Dan entah mengapa, jantungnya berdegup cepat ketika melihat wajah Arita yang semakin cantik berkali-kali lipat.


"Memang, percaya diri itu baik. Tapi sepertinya, terlalu percaya diri itu, juga tidak baik."


Sontak, mobil pun kembali dipenuhi oleh suara keduanya. Disela-sela tawanya, Gibran menatap lekat wajah Arita dalam diam. Ia berharap, semoga kesempatan selalu bisa mempertemukannya dengan sosok lembut di sebelahnya ini.


"Ah, maafkan aku. Sepertinya terlalu banyak bicara," ucap Arita setelah tawanya mereda. Wanita itu memalingkan wajahnya lantaran merasa sedikit canggung setelah berucap demikian.


Sedangkan Gibran, pria itu langsung menggelengkan kepalanya. Entah mengapa, ia sangat senang ketika suara dengan nada lembut itu mengalun di telinganya. Karena sebelumnya, ia sangat sulit hanya untuk mendengar suara si wanita.


"Tidak apa-apa, Nona. Justru suaramu sudah menjadi candu untukku,"

__ADS_1


__ADS_2