
"Ed, Gib, tolong bantu aku!" teriak Mona dari arah pintu utama yang mengejutkan kedua pria dewasa itu. Tanpa menunggu lama, Gibran dan Edward segera berlari ke arah depan. Keduanya melihat mobil Mona yang sudah terparkir di depan rumah, lengkap dengan pintu yang terbuka.
"Kak, apa yang terjadi pada Arita?" betapa terkejutnya Gibran ketika melihat yang tak dapat disembunyikan.
"Ibu kenapa?!" takut si kecil berusia 7 tahun itu dengan mata yang berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya anak itu melihat ibunya yang tangguh tak sadarkan diri.
"Gib, angkat ke kamar tamu!" tegas Edward yang berniat membantu Gibran untuk membopong tubuh wanita itu. Namun, dengan cepat Gibran menolak bantuan tersebut dan segera berjalan ke arah sisi kiri rumah.
Mona segera mendekat ke arah Baron yang kini mulai terisak pelan. Sedangkan Edward, suami dari sang notaris itu dengan sigap membukakan pintu kamar tamu yang selalu kosong.
"Kamu ngga usah nangis ya, sayang? Ibumu pasti baik-baik saja," ucapnya yang berusaha menenangkan si kecil.
"Bibi, siapa yang membuat ibuku seperti itu?" entah mengapa sudut hatinya terasa sangat ngilu ketika mendengar kepedulian anak itu pada Arita. Sungguh, ia juga sangat menginginkan hal yang serupa.
__ADS_1
"Tidak ada yang jahat, sayang. Bibi akan panggilkan dokter untuk ibu," ucapnya yang membuat Baron menatap wajah ayu itu dengan serius, seolah berusaha memastikan hal tersebut.
"Baron disini dulu, ya? Biar ibu istirahat lebih dulu," pintanya yang dianggukki oleh anak laki-laki bernama Baron Mahameru tersebut. Dengan mendudukkan Baron di sofa ruang tamu, Mona memanggilkan ART untuk menemani anak staffnya itu.
"Dokternya akan tiba 5 menit lagi, tadi aku sudah hubungi semenjak di perjalanan," paparnya yang membuat Gibran menganggukkan kepalanya.
Edward mendekat ke arah sang istri, tatkala melihat wajah panik dari wanita yang telah dinikahinya 8 tahun silam. Sebuah rengkuhan hangat melingkari pinggangnya, kemudian Mona merasakan sebuah kecupan hangat di pelipisnya.
"Kenapa kau terlihat panik seperti ini, hm? Ceritakan semuanya padaku," pinta sang suami yang membuat Mona mau tak mau menceritakan ulang kejadian yang ia ketahui. Mulai dari dirinya yang menemui kilen di cafe, hingga menemukan Arita di toilet.
Yang pria itu ketahui, perempuan yang baru saja dibawa pulang oleh sang istri merupakan staff baru sekaligus ibu dari anak laki-laki itu. Secara tak langsung, Edward mengetahui jika Arita adalah istri dari Bayu Ekawira.
"Apakah kau mengenali ciri-ciri pria itu, Kak?" tuntut Gibran dengan rahang yang mulai mengeras. Dari cerita Mona saja ia sudah tahu betul, jika Arita dan Baron dalam keadaan yang tidak aman.
__ADS_1
"Semenjak keluar dari toilet, Arita lebih banyak diam. Dan yang paling parah, Arita malah pingsan ketika aku menanyakan tentang identitas pria yang mengincarnya."
Obrolan keduanya langsung terhenti, ketika seorang wanita dengan sneli putihnya memasuki kamar tamu. Tentu saja ketiganya mempersilakan sang dokter, untuk mengecek kondisi Arita yang masih tak sadarkan diri.
"Kita bicarakan diluar," putusnya yang dianggukki setuju oleh GIbran dan Edward.
"Honey ... apakah kau tahu, jika Arita adalah istri dari Bayu?" ungkap pria 35 tahun itu dengan raut wajah yang masih terkejut. Begitupun dengan Mona, yang kini menutup bibirnya seolah tak percaya akan fakta yang baru saja mereka dapati.
"Kau sungguhan, Ed? Dari mana kau mengetahuinya?" ucapnya yang lagi dan lagi masih tak mempercayainya.
"Iya aku sungguhan, tanyakan saja pada Gibran." Begitu Mona mendapati anggukkan kepala singkat dari adiknya, wanita itu lantas membekap bibirnya sekuat mungkin. Entah mengapa, perasaannya bercampur aduk untuk saat ini.
"Jadi ... merekalah yang selama ini kita cari?" gumamnya dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis. Mona teringat janjinya 3 tahun lalu, tepat di hadapan jenazah seseorang.
__ADS_1
'Aku akan bertanggung jawab atas keluargamu nantinya,'