Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 66


__ADS_3

"Tadi pagi Gibran udah pamitan, Ar?" tanya Mona begitu Arita memasuki ruang kerjanya untuk mengantarkan berkas yang perlu ia tandatangani.


"Sudah, Bu. Waktu dia sarapan juga sempat video call sama Baron," sahut Arita dengan mendekat ke arah meja kerja. Usai menyerahkan berkasnya kepada Mona, wanita itu berdiri dengan pandangan yang tertuju pada atasannya.


"Syukurlah kalau gitu," ucap Mona.


Setelah membubuhkan tanda tangannya, Mona kembali menyerahkan berkas tersebut kepada Arita. Ketika staffnya hendak keluar dari ruangan, ia kembali memanggil calon adik iparnya itu.


"Aku mau ngomong sesuatu, boleh?" tanya wanita tersebut sehingga membuat Arita menganggukkan kepalanya.


Mengingat bahwasannya ini adalah jam menuju istirahat kantor, membuat ibu satu anak itu mendudukkan tubuhnya di hadapan Mona. "Ada yang ingin dibahas, Bu?" Tatapannya mengarah pada netra sang atasan dengan tenang.


"Mama gimana sama kamu? Baik-baik aja, kan?" tanya Mona dengan melipat kedua tangannya di atas meja. Sesuai janjinya, ia berusaha untuk membantu Arita supaya wanita itu lebih dekat dengan mamanya.


"Bu Patricia baik, Bu. Dan kami sudah lebih dekat daripada sebelumnya," ungkap Arita yang mengundang semburat kebahagiaan diwajah cantik atasannya itu.


"Syukurlah kalau gitu, aku lega dengernya," Mona menghela napasnya lantaran hal itulah yang ia inginkan sejak awal. Dengan begitu, mungkin saja niat baik adiknya akan terlaksana dengan mudah.

__ADS_1


"Saya sempat heran atas pemberian dari Bu Patricia," akunya sehingga mengundang rasa penasaran dalam benak Mona. Dengan kerutan di dahinya, kakak dari Gibran itu menopang dagu menggunakan tangan kanannya.


"Kenapa, Ar?" tanya Mona dengan tidak sabaran.


"Bu Patricia memberikan kalung, yang saya ketahui harganya tidak murah. Maka dari itu, berulang kali saya tanyakan, berusaha untuk make sure apakah itu benar-benar untuk saya ..." ungkap Arita yang tidak ingin menyembunyikan hal apapun dari Mona.


Namun, begitu mendengar penuturan dari Arita, Mona justru tertawa kecil dibuatnya. Sembari menepuk singkat punggung tangan calon adik iparnya, wanita itu mengeluarkan sebuah benda yang tersembunyi di dalam kerah kemeja yang ia kenakan.


"Seperti ini?" tanya Mona menunjuk kalungnya.


Melihat hal itu, sontak saja Arita mengangguk dengan wajah kagetnya. Dan entah mengapa, Mona yang menyaksikan hal itu semakin gemas oleh kenaturalan setiap ekspresi wajah Arita. Hal itulah yang membuatnya kembali terkekeh.


Sementara Arita, wanita itu malah merasa tidak enak hati. Terutama, mereka baru saja mengenal dirinya. Lantas, apa yang membuat mereka sangat baik kepadanya. Sungguh, ia masih belum bisa mempercayai hal tersebut dengan sepenuhnya.


"Saya ngerasa nggak pan—"


"Mau sampai kapan sifatmu itu terus-terusan ngerasa insecure? Kamu itu berharga, Ar. Makanya banyak orang yang mudah sayang ke kamu," ucap Mona yang memotong penuturan Arita. Dengan kedua mata yang menatap tegas ke arah Arita, wanita itu seakan berusaha menyampaikan sudut pandangnya mengenai Arita.

__ADS_1


"Kamu sangat-sangat layak untuk dikasihi dan disayangi. Terutama dari kami, yang memiliki hutang budi padamu dan mendiang suamimu," imbuh Mona dengan menatap lekat kedua netra si wanita.


"Bahkan papa sempat bilang ke aku ... kamu punya sifat yang sederhana tapi tetap menawan. Sudah jarang wanita sepertimu ini dapat dijumpai dengan mudah di era sekarang," ucapnya kembali mengungkap pemikiran pribadinya mengenai Arita.


"Saya tidak sebaik itu, Bu," lirih wanita di hadapannya.


"Kalau kamu nggak baik, nggak mungkin adik dan papaku akan menerimamu dengan segampang itu. Bahkan, suamiku saja bisa menilai bahwa kamu berbeda dari perempuan lain diluaran sana."


"Jangan pernah ngerasa insecure lagi, ya? Kamu sempurna dimata kami," ucapnya dengan tatapan yang terlihat sangat tulus.


Sontak, Arita dibuat tertegun oleh semua penuturan Mona. Wanita itu dengan sangat gamblang, menyampaikan hal-hal yang membuatnya merasa beruntung. Meski sudah tak memiliki keluarga, ia bisa merasakan kehangatan dari keluarga Gibran—calon suaminya.


"Terima kasih banyak untuk semuanya," ucap Arita dengan memegangi tangan sang atasan. "Jikalau waktu itu saya menolak tawaran dari Mbak Retno, mungkin saya tidak akan pernah merasakan semua ini," sambungnya dengan mengulas senyum tipis.


"Sama-sama, Ar. Semesta yang sudah menjadwalkan pertemuan kita," sahut Mona sehingga menciptakan tawa diantara keduanya.


Sementara mereka masih asik berbincang, ketiga staff yang berada di luar pun, sudah tidak heran lagi. Karena usai pernikahan Tiffani, mereka sudah mengerti status Arita yang disebut-sebut akan menjadi istri dari adik sang atasan.

__ADS_1


"Besok aku ada jadwal ke Palembang sama Edward. Ada klien yang sudah buat janji untuk datang ke kantor, minta tolong kamu handle ya, Ar?"


__ADS_2