Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 17


__ADS_3

"Ini putranya, Neng?" tanya seorang wanita ditengah-tengah kegiatannya memilih sayuran. Beberapa ibu-ibu yang berada di sana pun, turut menatap ke arahnya dan juga Baron yang asyik menggambar di atas tanah.


"Iya, Bu. Ini putra tunggal saya, namanya Baron." Arita menjawab dengan senyum kecil yang terukir dibibirnya. Wanita itu langsung memberikan belanjaan yang telah ia pilih pada si penjual, dan langsung membayarnya.


Tanpa diduga, Baron yang semula tengah asyik menggambar di atas tanah menggunakan ranting itu pun, mulai berdiri dari posisi jongkoknya. Netra bulat si bocah menatap ketiga wanita yang berada di dekat sang ibu, dan juga si penjual yang merupakan seorang pria tua.


"Selamat pagi, Tante semuanya. Kenalin, ya ... Yang ini namanya Baron, anaknya Ibu Arita." Tingkah menggemaskan anak berumur enam tahun itu, mengundang tawa mereka semua. Begitu juga dengan Arita, yang tak pernah menduga jika sang putra akan mengucapkan hal selucu itu.


"Ah, kau sangat manis sekali, Nak. Sini, biarkan aku mencubit pipi bulatmu itu." Seorang wanita muda yang tengah mengandung itu pun, langsung mendekat ke Arab Baron yang berdiri di samping Arita.


Begitu membungkukkan sedikit tubuhnya, ibu hamil itu berbinar saat pertama kali melihat wajah Baron. Sebuah usapan lembut mengenai pipi kiri si bocah, membuat Arita turut mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Kenapa kau sangat menggemaskan sekali, Baron?" herannya yang membuat si bocah menggaruk kecil pipinya.


"Tanyakan saja pada ibuku, mengapa aku bisa seperti ini." Jawaban yang diberikan oleh si bocah, lagi dan lagi membuat mereka semua tertawa lepas. Begitu juga dengan Arita, yang mengelus puncak kepala putra tunggalnya itu.


Bergantian dengan tetangganya, kedua wanita yang jaug lebih tua dari Arita pun mulai mendekat. Hanya untuk sekedar berkenalan dengan tetangga barunya itu.


"Kapan-kapan main ke tempat Bude, ya? Rumah paling pojok yang warna putih itu," tunjuk wanita yang kerap disapa dengan sebutan Bude, oleh orang-orang sekitar. Baron hanya menganggukkan kepala seolah mengerti, dengan tatapan yang mengikuti arah tunjuk wanita di depannya itu.


Arita kembali tersenyum haru, begitu melihat respon baik yang diberikan tetangga sekitarnya. Ia tak menyangka, jika kehadirannya dengan Baron di wilayah ini, akan mendapatkan respon positif dari lingkungan sekitar.


Ia mengira, jika dirinya akan dikucilkan karena statusnya seorang janda. Namun siapa sangka, justru tetangganya itu sangat mudah berbaur sehingga membuat Baron langsung terlihat akrab.

__ADS_1


"Mbak Arita kapan-kapan kita jalan sore bareng. Nanti aku ceritain setiap sudut desa sini," ajak si bumil sembari mencolek lengan Arita yang tertutup oleh cardigan. Merespon hal tersebut, si wanita menganggukkan kepala sembari mengusap lembut pundak si ibu hamil di sebelahnya.


"Boleh," sahutnya ringan.


"Terima kasih banyak ya, Bu. Terima kasih sudah menerima kami dengan baik," ucap Arita dengan menatap tulus ketiga wanita di hadapannya. Begitu juga dengan si penjual sayur, yang sejak tadi sudah sangat ramah kepadanya.


"Sama-sama, Ta. Kita justru senang punya tetangga baru," imbuh Arum si wanita yang identik dengan kaca mata bulatnya. Ucapan tersebut disambut anggukkan mantap oleh si bumil, dan wanita yang kerap dipanggil 'bude' oleh tetangga sekitar.


"Bude Rini, Bude Arum, sama Tante Sisil ..." gumam Baron dengan suara kecilnya. Meskipun begitu, ucapan si kecil tetap terdengar oleh keempat wanita yang masih berdiri di dekatnya. Sontak, Arita tersenyum maklum melihat kebiasaan putra kecilnya itu.


"Dia memang begitu, Bude. Selalu hafalin nama orang-orang yang sudah diajak kenalan," papar ibunya yang membuat ketiga wanita tersebut semakin merasa kagum dengan sifat Baron. Si bocah menggemaskan, yang langsung menarik perhatian mereka semua.

__ADS_1


"Ibu ... Abang sayurnya tadi, namanya siapa sih?"


__ADS_2