Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 70


__ADS_3

"Ikat tubuhnya sekuat mungkin!" teriak Banu saat itu juga.


Sontak, Arita terkejut bukan main ketika mendapati dua orang pria bertubuh kekar langsung mencekal tangannya. Bodoh. Wanita itu sangat ceroboh, ia tidak memikirkan kemungkinan bahwa anak buah Banu telah stand by dihalaman gedung itu.


"Lepas!" sentak Arita yang tidak digubris.


Kakinya yang dibalut oleh sneakers, sesekali terseok-seok lantaran tubuhnya dibawa cepat menaiki tangga menuju lantai atas. Meski wanita itu telah berusaha untuk memberontak, usahanya tetap nihil. Sesuai dugaan, Arita diseret paksa hingga berlutut di hadapan Banu.


"Aarghh!" teriak Arita kesakitan begitu lututnya menyentuh kasarnya lantai gedung terbengkalai itu.


Sementara Banu, pria itu mengulas senyum bangga tatkala Arita bersimpuh tepat di depan matanya sendiri. Sementara Baron, anak itu diikat pada sebuah kursi dengan bibir yang ditutupi oleh sebuah lakban.


"Kau manusia iblis! Lepaskan putraku!" teriak Arita dengan tatapan nyalangnya ke arah Banu. Darahnya berdesir hebat, melihat putra satu-satunya tak sadarkan diri karena perbuatan kejam itu.


Sementara Arita, kedua tangannya dicekal kuat oleh anak buah pria itu. Bahkan, sebuah tali langsung mengikat pergelangannya di belakang tubuh. Memberontak sekalipun, tak akan membuahkan hasil yang dapat membantunya.


"Lepaskan putraku!" teriak Arita lagi.


"Kau sangat naif, Arita ..." ucap pria dengan penampilannya yang terlihat sangat berantakan. Kedua matanya menatap tubuh Arita dari atas hingga bawah, dengan sesekali menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


Sungguh, Arita benar-benar mengutuk pria yang tak lain adalah iparnya sendiri. Perasaannya tak karuan memikirkan nasibnya, terutama nasib putranya. Masih dengan suasana yang tegang, Arita menghadapi semua ini sendirian.


"Katakan saja ... jika kau membutuhkan pria, untuk memberimu uang yang banyak. Secara, kau adalah seorang janda dengan satu orang anak." Danu tertawa kejam sembari mengitari tubuh Arita yang terduduk di atas lantai.


Emosinya semakin memuncak, ketika mendengar perkataan Banu yang sangat merendahkannya. Tangan wanita itu terkepal kuat, dengan mata yang mulai berair. Namun, ia harus menahannya mati-matian demi sang putra.


"Tenang saja, aku akan menggantikan peran kembaranku. Sebagai bonusnya, kau akan mendapatkan uang yang banyak untuk membesarkan anak itu," ucapnya tanpa perasaan sembari menatap benci ke arah putranya—Baron.


"Cih ... bahkan aku jijik melihat kelakuanmu!" decih Arita dengan sinis, sesuai dengan perasaan hatinya.


Sungguh, andai saja dirinya kuat, ia akan menghabisi Banu ditempat itu juga. Namun, otaknya terus memerintah dan menunggu hingga adanya pergerakan dari Riko dan anak buahnya.


Arita langsung memalingkan wajahnya, ketika mendapati usapan lembut di pipinya dari pria itu. Dengan jarak yang sangat dekat, Banu menatap wajah Arita dengan tatapan yang diselimuti oleh gairah.


"Jangan sentuh aku!" sentak Arita dengan rahang yang mengetat.


"Kau terlihat lebih menggoda dalam keadaan seperti ini," ucap Banu mencoba untuk menyentuh kembali wajah si wanita. Begitu mendapati penolakan lagi dan lagi dari si wanita, sontak membuat Banu mulai emosi.


Dengan beranjak dari duduknya, pria itu mengepalkan tangannya erat sembari mendekati posisi Baron. Sontak, Arita kalang kabut dibuatnya.

__ADS_1


"Apakah aku harus menyingkirkan anak ini terlebih dahulu? Kemudian, aku akan menjadikanmu seorang istri lagi," ucap Banu dengan menekan kata terakhirnya.


Matanya mulai berembun, dengan hati yang hancur berkeping-keping. Tanpa sadar, wanita itu menggigit bibir bawahnya dengan kuat, berusaha untuk menghilangkan perasaan takutnya. Sungguh, Arita merasakan takut yang luar biasa melihat sifat Banu yang sesungguhnya.


"Arita, pastikan pria itu dan anak buahnya berada disekitarmu," Hatinya mulai merasa lega, ketika mendengar suara Riko dari earphone mungil yang terpasang di telinganya.


Mengingat sebuah benda yang Riko pasangkan padanya, membuat wanita itu merasakan sebuah keajaiban dan harapan. Dengan mata yang menelisik, Arita bisa pastikan jika anak buah Banu telah mengelilinginya.


"Kau tidak mendengarku, hm?" Arita kembali terkejut ketika mendapati wajah Banu yang berada sangat dekat dengannya. Sedikit memundurkan posisinya, Arita berusaha menjauh dari pria itu.


Namun, Banu menahan tubuhnya menggunakan lengan kekar itu. Tatapan menyeramkan dari mata hitam si pria, berhasil menggetarkan kebenaiannya. Sungguh, baru kali ini Arita melihat sisi gelap kembaran suaminya.


"Akhirnya rencanaku berhasil. Hanya dengan menculik anak itu, aku berhasil memancingmu untuk datang padaku. Dan hal ini, tidak akan aku lewatkan begitu saja," bisik Danu dengan senyum miring di wajahnya.


"Kita akan bersenang-senang malam ini," lanjutnya lagi.


"In your dream, kepar*t!" teriak seseorang yang diikuti oleh banyaknya suara tembakan dari arah tangga. Sontak, semuanya terkejut akan hal itu. Tak lama setelahnya, sirine polisi yang terdengar riuh dari bawah sana.


"Arita, pegang pundakku sekuat mungkin! Baron sudah diamankan!"

__ADS_1


__ADS_2