Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 73


__ADS_3

"Arita? Maafkan aku," ucap Gibran sehingga membuat Arita mendekatkan ponsel milik Riko ke telinganya.


"Untuk apa?" tanya wanita itu dengan alis yang hampir menyatu. Pasalnya, Arita tidak merasa jika pria itu membuat kesalahan apapun. Lantas, untuk apa pria itu meminta maaf kepadanya.


Sementara itu, Gibran yang mendengar nada rendah dari Arita pun merasa tidak nyaman. Ia mengakui jika dirinya pun salah, karena tidak cekatan memberikan bantuan pada Arita. Sehingga, wanita itu langsung meminta bantuan pada kedua orang tuanya.


"Maafkan aku karena lalai," akunya dengan nada penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, lagi pula ini bukan tanggung jawabmu. Pak Andre dan Bu Patricia sudah membantuku," sahut Arita dengan menyampaikan faktanya. Bahkan, Arita pun tidak pernah berpikir jika Gibran melakukan kesalahan.


"Ada Riko juga yang datang membantu," imbuhnya dengan nada bangganya sehingga membuat Gibran memejamkan matanya untuk sejenak di seberang sana.


Andai saja dirinya masih berada di sana, pasti dialah yang akan membantu Arita untuk menyelamatkan Baron. Namun, ia tak bisa melakukannya karena ia harus ke luar negeri. Dan hal itulah yang membuat Gibran merasa sangat bersalah.


"Fokus saja pada pekerjaanmu, aku mengerti," ucap Arita tanpa berpikir aneh-aneh. Karena ia memang memahami posisi Gibran, yang diharuskan untuk mengurus pekerjaannya yang sangat penting.


"Maafkan aku," ucapnya lagi.


"Sudah ... sudah, jangan terlalu dipikirkan. Aku tahu kau sibuk, lanjutkan saja pekerjaanmu," ucap Arita yang tidak ingin menganggu aktifitas Gibran.


"Bagaimana keadaanmu dan Baron? Aku harap, semoga kalian kuat disana," tanya Gibran yang mengalihkan pembicaraan si wanita. Disela-sela kegiatannya, Gibran berusaha untuk meluangkan waktu agar dirinya mampu berbicara dengan Arita.


"Tenanglah Gib, semua baik-baik saja ..." yakinnya.


"Syukurlah kalau begitu, aku berutang budi pada Riko," ucap Gibran sehingga membuat Arita menganggukkan kepalanya setuju. Karena mau bagaimana pun, mereka diselamatkan oleh Riko dan anak buahnya.


"Bagaimana keadaanmu? Jaga kesehatan baik-baik, ya?" tanya Arita berusaha untuk memberikan feedback baik kepada pria itu.


Mendengar hal itulah, yang berhasil membuat Gibran mengembangkan senyumnya. Meski pertanyaan itu terdengar sangat singkat, namun hal tersebut sangat berarti bagi si pria.

__ADS_1


"Selama kalian baik-baik saja, begitupun hal itu akan terjadi padaku." Arita tersenyum simpul mendengarnya. Tak lama setelah itu, salah satu anak buah dari Riko kembali memasuki ruangannya.


"Permisi, Nyonya. Saya diminta untuk menyampaikan bahwasannya putra Anda telah siuman," ucap pria bertubuh besar itu tanpa ba-bi-bu.


Sontak, Arita yang mendengarnya pun mengulas senyum bahagia. Mata yang semula redup, kini kembali bersinar dengan aura antusias yang sangat kentara. Begitupun dengan Gibran yang mendengarnya, kini mengucap syukur.


"Alhamdulillah, terima kasih atas informasinya. Boleh bantu saya untuk turun?" pinta Arita sehingga membuat Gibran mendelik di seberang sana.


Tak bisa membantah, akhirnya pria itu menganggukkan kepalanya menurut. Atas izin dari Arita, pria itu membantu si wanita untuk menuruni ranjang. Dengan sesekali meringis ngilu, akhirnya Arita berhasil menginjak dinginnya lantai rumah sakit.


"Gib, mau dimatikan teleponnya?" tanya Arita.


"Nggak usah, biarin nyambung aja nggak apa-apa," larang pria itu dengan nada yang terdengar sangat posesif di telinga Arita. Tanpa membantah, akhirnya wanita itu mengiyakan saja perintah dari calon suaminya.


"Dimana Riko?" tanya Arita pada pria yang berjalan mengawasinya dari samping. Meski perlahan, pria itu tetap sabar mengikuti setiap langkah demi langkah Arita menuju ruang IGD.


"Tuan Riko ada di ruang ICU," sahutnya sehingga membuat Arita menganggukkan kepalanya paham.


"Baron? Ini ibu sayang," ucap Arita begitu daun pintu telah dibukakan oleh anak buah Riko.


Begitu mendapati kehadiran dan suara lembut dari ibunya, membuat Baron langsung berbinar meski wajahnya masih sangat pucat. Menyaksikan hal semanis ini, membuat Riko menahan gemas.


"Dimana dia?" tanya Gibran mencari si kecil.


Tak lama setelah itu, Gibran mengalihkan panggilannya sehingga mereka berdua tersambung dalam video call. Arita membawa tubuhnya mendekati posisi sang putra, sehingga membuatnya berdiri di sebelah Riko.


Melihat ponselnya masih digunakan oleh Arita dan Gibran untuk berkomunikasi, akhirnya membuat Riko membiarkan saja.


"Jangan sentuh tangannya dulu," larang Riko secara spontan. Ketika Arita menolehkan kepala ke arahnya, membuat Riko berdecak singkat. "Dokter yang melarangnya, karena tangan putramu akan sakit jika infusnya tersenggol."

__ADS_1


"Ah baiklah, terima kasih," sahut Arita paham.


"Apa yang Baron rasain, Nak? Kepalanya pusing atau enggak?" tanya Arita sembari mengelus lembut kepala putranya. Begitu mendapati anggukkan kepala dari putranya, membuat Arita berusaha mengulas senyumnya.


"Sabar ya, Sayang? Nanti pusingnya hilang kalau cairannya udah habis, oke?" ucapnya berusaha untuk menenangkan sang buah hati.


"Tenang aja, Bu. Baron kan anak kuat," ucap si kecil sembari menyengir sehingga membuat Riko menahan senyumnya supaya tidak merekah. Entah mengapa, melihat Baron seakan-akan mengingatkannya pada sang sepupu—Gibran.


Tak munafik, Arita dan Baron sangat pantas mendapatkan sosok pria sebaik Gibran. Ditambah lagi, nasib percintaan sepupunya yang tak pernah mujur sejak dulu. Sehingga membuatnya berpikir, bahwasannya Arita lah pendamping Gibran yang sesungguhnya.


"Semoga tidak ada yang menganggu kalian," ucap Riko dalam hatinya dengan tulus.


"Hei boy, bagaimana keadaanmu?" Begitu mendengar suara dari seseorang yang sangat dikenalinya, membuat Baron langsung mencari sumber suara tersebut. Arita pun terkekeh singkat dibuatnya.


"Om Gibran!" seru si kecil berusaha untuk menggapai ponsel yang dibawa oleh ibunya. Namun, Arita langsung menjauhkannya dari jangkauan si kecil, lantaran tak ingin tangan putranya terlalu banyak menciptakan gerakan.


"Keep calm, baby boy. Hati-hati," peringat Gibran dengan kekehan ringannya.


"Om Gibran kapan pulangnya?" tanya si kecil sehingga membuat Arita langsung mendelik ke arahnya. Wanita itu takut, jika Gibran mengiranya yang mengajarkan hal tersebut.


"Mungkin besok pagi, boy. Mau nitip sesuatu?" tawar si pria sehingga membuat Baron berpikir untuk beberapa saat. Sementara Gibran, pria itu menunggu jawaban dari si kecil dengan tak sabaran.


"Enggak deh, Baron udah punya banyak mainan." Gibran langsung mendesah kecewa ketika mendengar respon dari si kecil. Namun, tak kehabisan ide, Gibran kembali menawarkan banyak hal pada si kecil.


"Enggak om, Baron nggak mau apa-apa," tolak si kecil. Sementara Riko yang memperhatikan komunikasi sepupunya dan juga Baron, hanya melipat kedua tangannya didepan dada.


"Sstt, Baron ..." panggil Riko secara berbisik.


"Bilang aja, Baron titip tante cantik buat Om Riko," titahnya dengan nada yang hanya didengar oleh Baron dan juga Arita. Pria itu berharap, semoga Baron bisa diajak kerja sama dalam hal ini.

__ADS_1


Sontak, si wanita langsung mendelik tak percaya. Sungguh, Arita menyangka jika sifat dingin pria itu hanyalah covernya saja. Sementara Baron, anak laki-laki itu pun menganggukkan kepalanya percaya sembari mengacungkan jempolnya dengan berbinar.


"Om Gibran, katanya Om Riko disuruh bawain tante cantik ..."


__ADS_2