
"Ayo cepat turun," ucap Gibran menggandeng tangan Arita.
"Nggak usah, Gib. Nanti juga kering sendiri," tolak si wanita dengan melepaskan genggaman tangan Gibran pada tangannya. Ditatapnya sebuah toko pakaian wanita yang berada di hadapannya, kembali membuat Arita menggelengkan kepalanya.
"Itu dress kamu basah, Ar. Mau nunggu kering sampai kapan?" heran pria tersebut dengan menunjuk kearah pakaian yang dikenakan oleh Arita. "Sedangkan perjalanan masih satu jam. Kamu betah pakai dress basah gitu?" tanyanya sekali lagi.
Sedangkan Arita, wanita itu merasa tidak begitu membutuhkan pakaian ganti. Karena setibanya dirumah, ia berniat untuk segera mandi dan berganti pakaian. Maka dari itulah, Arita terus-terusan menolak ajakan Gibran sekalipun pria itu yang akan menanggung bill-nya.
"Kamu nggak mau? Ya udah, biar aku yang turun sendiri," ucap Gibran sehingga membuat Arita membelalakan matanya tidak percaya. Melihat adanya penolakan yang akan diajukan oleh wanita itu, membuat Gibran langsung memincing.
"Kamu pilih turun ikut aku, atau nanti gantinya di mobil?" ancam GIbran yang membuat Arita mendelik kaget. Tidak mungkin dirinya akan melakukan hal sebodoh itu. Atas dasar pemaksaan dari si pria, akhirnya Arita ikut keluar dari mobil.
"Astaga, Gib ..." gumam si wanita tatkala tangan Gibran merangkul pinggangnya secara posesif. Ketika menyadari ketidaknyamanan wanita itu, membuat gibran menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Kenapa, nggak suka?" tanya si pria.
Setelah melihat anggukkan dari Arita, akhirnya Gibran menjauhkan lengannya dari pinggang si wanita. Kini, berganti dengan tangannya yang menggenggam jemari Arita dengan lembut. Ketika memasuki toko tersebut, banyak pandangan yang terarah pada mereka.
"Aku tunggu disana, ya?" ucap Gibran yang dianggukki oleh Arita.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Arita langsung menuju ke arah sudut yang berhasil menarik perhatiannya. Sesuai pesan dari pria tadi, Arita langsung mengenakannya diruang ganti. Dan ketika dirinya baru keluar dari bilik tersebut, ia dikejutkan oleh Gibran yang sudah menunggunya diluar.
"Udah?" tanya Gibran menatap wanita itu.
"Udah, kok," sahutnya sembari membawa dress kotornya tadi untuk dibawa ke kasir sembari membayar bajunya. Setelah menerima paperbag untuk dress-nya tadi, Arita lantas meminta bill baju yang baru saja dibeli olehnya.
"Baik, ini bajunya. Bill sudah dibayarkan oleh calon suaminya, Kak ..." ucap pegawai kasir tersebut, sembari menyerahkan paper bag dengan ukuran besar, yang diterima oleh Gibran. Kemudian, pria itu langsung menggandeng tangannya lagi.
__ADS_1
"Terima kasih, Mbak. Permisi," ucap Gibran sembari berjalan menjauh dari meja kasir.
"Siapa yang nyuruh kamu bayarin bajunya?" garang si wanita dengan melepaskan cekalan pria itu ditangannya. Melihat wajah tak ramah dari wanita itu, membuat Gibran terkekeh sembari membawa tubuh Arita mendekat kearahnya.
"Nggak apa-apa, lagipula sekalian beli baju ini," ucap si pria dengan menunjukkan paper bag berukuran besar itu.
"Kamu ngapain beli baju sebanyak itu? Titipan Bu Mona, atau Bu Patricia?" tanya Arita dengan kebingungan. Sejak tadi wanita itu berpikir, bahwasannya Gibran membelikan oleh-oleh untuk sang mama dan kakak perempuannya.
"Enggak, aku beli buat kamu lah. Ngapain beli buat mereka? Kan mereka punya suami," sahut Gibran dengan wajah yang terlihat sangat menyebalkan. Setelah keduanya memasangkan safety belt, Gibran mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Lah, baju sebanyak itu buat apa?" herannya tak habis pikir oleh perbuatan Gibran.
"Dipakai gonta-ganti kan bisa, Ar ..." alibinya dengan menatap ke arah si wanita. Ia bisa melihat wajah kaget dari Arita, sehingga membuat Gibran terkekeh menyaksikannya. Kemudian, pria itu mengelus puncak kepala wanita itu ditengah kekehannya.
"Itu namanya boros, tau nggak? Lagipula nggak begitu penting, ngapain harus dibeli?" ucap Arita dengan wajah seriusnya. Sementara pria itu, justru menirukan ucapan Arita sehingga membuat wanita di sebelahnya merasa kesal.
"Kamu tau, nggak?" tanya Gibran membuka suara.
Gibran tersenyum polos, seakan-akan hal tersebut merupakan hal yang sepele baginya. Namun, Arita justru dibuat jengkel oleh sikap Gibran yang selalu terkesan tiba-tiba. Dan tentunya, tanpa ada komunikasi terlebih dahulu.
"Aku nggak nyangka, kamu se-effort itu," takjub Arita.
"Dikte nomor rekening kamu, hafal nggak?" ucap si wanita dengan membuka layar ponselnya. Sedangkan Gibran, pria itu menatap ke arah wanita di sebelahnya dengan kerutan yang muncul didahinya. "Ini biar aku ganti."
Untuk beberapa saat, Arita terdiam sembari menunggu Gibran membuka suaranya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah wajah si pria yang terlihat seolah-olah tidak mendengar ucapannya. "Kamu denger omonganku, nggak, sih?"
"Nggak usah diganti," tolak Gibran dengan sabarnya.
__ADS_1
"Tetep harus diganti, Gib. Udah buruan, mana nomornya?" paksa si wanita lantaran tidak ingin merepotkan pria itu. Sementara Gibran, ia tetap kekeuh dengan pendapatnya sendiri.
"Sekali aku bilang enggak, artinya tetep enggak. Ngerti, kan?" tegasnya tidak menerima bantahan. Setelah perdebatan keduanya, Arita tidak lagi membuka suaranya. Karena tak ingin diganti, akhirnya wanita itu memikirkan untuk membalas budi pada pria tersebut.
"Ada yang luka, nggak? Tadi ketumpahan kuah, kan?" tanya Gibran begitu teringat akan kejadian yang tidak sengaja menimpa Arita.
"Enggak, semua baik-baik aja," sahut si wanita.
Selama perjalanan, keduanya saling berbincang mengenai hal-hal random. Dalam diamnya, Arita benar-benar tak menyangka jika dirinya akan sedekat itu dengan Gibran. Seorang pria asing, yang mengaku bahwa dia tertarik padanya. Kemudian tanpa menunggu lama, dia langsung membawa orang tuanya untuk melamar dirinya.
"Aku pikir, mamamu tidak akan menerimaku. Terutama dengan statusku yang sudah memiliki anak," ucap Arita sembari menatap wajah Gibran dari samping.
"Meskipun mama tidak setuju, aku tetap akan serius dijalan ini. Pendapatnya tidak penting bagiku," respon si pria yang mengejutkan Arita. Dengan tatapan tidak percayanya, wanita itu lantas meminta penjelasan pada Gibran.
"Menurutmu, apakah wajar pria seusiaku masih disetir oleh ibunya?" tanya Gibran sehingga membuat Arita merasa bingung untuk menjawabnya.
"Selama hal itu demi kebaikan, kurasa tidak apa-apa," sahutnya yang diberikan sebuah gelengan kepala tidak setuju dari pria tampan di sebelahnya. Melihat hal itu, membuat Arita menatap penuh kearah si pria.
"Dia menyetirku dalam hal pasangan dan hubungan," ungkapnya dengan gamblang, sehingga membuat Arita mulai paham. Pantas saja, dari ekspresi Gibran kemarin sore, itu semua karena sifat Patricia yang terlalu ikut campur dalam urusan Gibran.
"Empat kali aku gagal menjalin hubungan, dan itu semua karena mama." Dengan nada yang sedikit melirih, Gibran berhasil membuat Arita memikirkan suatu hal.
"Kamu udah selesai sama masa lalumu, kan?" tanya Arita ketika terlintas dipikirannya mengenai masa lalu dari pria tersebut. Sontak, Gibran mengulas senyum diwajah tampannya, kemudian tangan kirinya ia gunakan untuk menggenggam jemari Arita.
"Nggak usah sok-sokan overthingking gitu, deh. Nggak cocok ..." canda si pria dengan mengelus punggung tangan si wanita menggunakan ibu jarinya.
"Enggak, aku cuma memastikan aja. Siapa tahu belum selesai, jangan mulai hubungan baru sama aku," ucapnya tidak ingin jika suatu saat Gibran akan dibimbangkan oleh sebuah pilihan diantara dirinya dan masa lalunya.
__ADS_1
"Aku udah yakin sama kamu, Ar ..." tutur Gibran berusaha meyakinkan wanita itu. Sementara Arita, ia hanya mengangguk-angguk kepalanya berharap ucapan pria itu benar-benar bisa dibuktikan.
"Saking seriusnya sama kamu, aku yang ngalah,"