Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 19


__ADS_3

"Sekolahnya kok sepi sih, Bu?" tanya si kecil dengan kepala yang mendongak. Jemari mungilnya menggenggam erat telunjuk sang ibu, dengan badan yang semakin menempel.


Arita menundukkan kepala, dan mengulas senyum begitu melihat wajah Baron yang nampak keheranan. Di sekolahnya yang dulu, ada banyak siswa dan rata-rata memiliki sikap aktif. Namun kini, sekolah tersebut nampak sepi yang membuat sang putra semakin penasaran.


"Mungkin sepi karena udah masuk, Nak. Coba kalau istirahat, pasti rame juga kok." Wanita itu kembali melanjutkan langkah, dengan menggandeng tangan mungil si bocah. Keduanya berjalan menuju ruang kepala sekolah, yang bersebelahan dengan ruang TU.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang staff yang menyambut kedatangan wanita berwajah anggun itu.


Arita turut membalas senyum ramah staff yang berdiri di hadapannya ini. Keduanya langsung diarahkan untuk duduk, tepat di tengah ruangan berukuran sedang itu. Tangan Arita mengambil beberapa berkas milik sang putra, yang ia letakkan di tasnya.


"Jadi begini, Mbak. Saya selaku orang tua dari Baron Mahameru, ingin menanyakan apakah ada bangku yang masih kosong di kelas satu?" tanya Arita yang mengikuti instruksi dari Mbak Retno.

__ADS_1


Dengan senyum yang terpatri dibibirnya, staff tersebut menganggukkan kepala. Tatapannya beralih pada bocah laki-laki yang nampak anteng dengan seragam yang melekat di tubuhnya.


"Kebetulan masih ada bangku kosong untuk siswa baru, Bu. Apakah Mas Baron berniat melanjutkan di sekolah ini?" jawabnya dengan mengajukan pertanyaan lagi.


"Yes, of course, Miss ..." Belum sempat menjawabnya, Baron sudah mendahului dengan senyum cerah yang terbit di bibirnya. Hal itu justru mengundang senyum di bibir staff sekolah tersebut. Lagi dan lagi, wanita muda di hadapannya itu menganggukkan kepala sembari beranjak dari duduknya.


"Tunggu sebentar, ya. Biar saya ambilkan beberapa syarat dan ketentuannya," pamit wanita tersebut yang langsung diiyakan oleh Arita.


"Anak Ibu udah nggak sabar pingin sekolah, ya?" tanya si wanita dengan nada yang terdengar lembut. Melihat putranya yang terus berbinar sejak tadi, cukup membuat hatinya menghangat.


"Baron takut ketinggalan materi, Bu. Makanya udah nggak sabar pingin masuk sekolah, hehe ..." Lagi dan lagi, Arita dibuat gemas oleh sikap Baron. Bocah itu terlalu apa adanya, dan terlampau jujur pada sang ibu.

__ADS_1


"Baron kan, baru semalem pindah rumahnya. Nggak bakal ketinggalan materi juga, Nak." Mendengar hal itupun, Baron menggelengkan kepala tak setuju. Sorot matanya yang nampak berbinar, masih menatap Arita dengan begitu menggemaskan.


Belum sempat keduanya beradu pendapat, seorang wanita dengan kacamata tebal berjalan menghampiri mereka berdua. Setelah meletakkan berkas di atas meja, wanita itu menyambut hangat kehadiran Arita dan Baron.


"Silakan Ibu lengkapi dulu data-data ini," instruksi wanita tersebut yang disambut anggukkan kepala oleh Arita.


Sedangkan Baron, bocah itu hanya memperhatikan sang ibu yang masih sibuk mengisi lembaran kertas yang nampak membosankan bagi dirinya. Maka dari itu, Baron lebih memilih untuk berjalan-jalan di sekitar ruangan itu.


"Ini yang namanya Mas Baron, ya?" tanya wanita tersebut dengan memegangi tangan mungil si bocah yang berdiri di sampingnya. Mendengar hal itupun, Baron lantas menganggukkan kepala dengan senyum lebar.


Tatapannya beralih pada sang ibu, yang kini telah selesai memasukan data pribadinya ke lembar kertas tadi. Setelah diterima oleh wanita berkacamata itu, Arita di minta untuk mengurus administrasi ke bagian tata usaha.

__ADS_1


"Mulai besok, Mas Baron sudah diperbolehkan mulai sekolah. Semangat ya, anak ganteng."


__ADS_2