
"Jangan ngeyel kalau dikasih tau sama gurunya, okey? Baron harus jadi anak yang nurut," pesan si wanita dengan menyejajarkan tubuh keduanya. Masih dengan posisi jongkoknya, Arita sedikit merapikan rambut sang buah hati.
"Iya, Bu. Perasaan dari pagi, Ibu udah ngomong gitu sampai berulang kali, loh ..." Baron menyahuti dengan wajah yang terlihat melas. Pasalnya, Arita telah mengatakan hal tersebut berkali-kali sejak pagi tadi. Bahkan, bocah itu sudah hafal diluar kepala.
Setelah mencium punggung tangan wanita di hadapannya itu, Baron lantas mendapatkan kecupan di kedua pipinya.
"Anak Ibu pasti hebat," ucapnya setelah berdiri sempurna di hadapan Baron. Setelah mengacungkan jempolnya, si bocah langsung berjalan memasuki area sekolah barunya. Dan hal itulah yang membuat Arita, menatap punggung kecil sang putra dengan tatapan nanar.
"Maafin ibu, Nak."
Tubuh ramping yang dibalut oleh dress sebatas lutut itupun, mulai beranjak dari gerbang sekolah. Menyaksikan anak-anak kecil yang nampak berseri ketika diantarkan oleh kedua orang tuanya, membuat Arita menundukkan kepalanya seketika. Seketika, ia memikirkan perasaan Baron.
Beruntungnya, sang buah hati tak menyaksikan pemandangan ini. Jika saja iya, entah bagaimana perasaan anaknya itu.
Karena jarak antara sekolah dan rumahnya yang tak begitu jauh, wanita itu memilih untuk berjalan kaki saja. Ditambah lagi, ia juga belum membeli kendaraan lagi untuk keseharian mereka berdua. Lagian, jaraknya memang tak terlalu jauh.
"Mari, Bu ..." sapanya dengan lembut saat bertemu dengan beberapa wanita yang mengenakan caping di kepalanya. Keramahan wanita itu, sontak mengundang senyum hangat dari warga setempat.
__ADS_1
"Hati-hati, Neng. Kalau lewat sini jalannya licin," peringat salah seorang wanita, yang disambut anggukkan kepala oleh Arita. Meski kakinya terbalut sepatu flat shoes, membuatnya harus tetap berhati-hati.
"Saya duluan ya, Ibu-ibu. Mari," Setelah berpamitan, wanita itu kembali melanjutkan langkah santainya.
Jalanan yang ia lewati memang sudah beraspal rata. Hanya saja, banyak lumut dan tanah liat yang membuatnya sedikit licin. Seperti tadi pagi, ia melihat pengendara sepeda motor yang tergelincir, karena melewati jalan tersebut dengan kecepatan tinggi.
Ting ...
Sebuah notifikasi yang masuk, membuat Arita menghentikan langkahnya. Wanita dengan rambut panjang yang terurai itupun, menundukkan kepala untuk mengambil ponselnya dari tas kecil yang ia bawa. Benar saja, sebuah pesan dari Mbak Retno membuat senyuman terbit dibibirnya.
Setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang ia bawa, Arita berniat kembali melanjutkan langkahnya. Namun belum sempat wanita itu beranjak, sebuah mobil melintas di sampingnya dengan kecepatan tinggi, sehingga membuat genangan air yang ada di jalanan pun menyiprat ke arahnya.
"Astaga!" pekik Arita yang benar-benar kaget begitu melihat genangan air yang mengenai dress putih tulangnya. Sontak, dengan cepat wanita itu langsung membersihkan noda yang mengotori dress serta kedua kakinya.
"Maafkan saya, Nona." Arita mendongakkan kepala, begitu mendengar suara bariton yang menginterupsinya. Aroma maskulin seketika tercium di hidungnya, begitu mendapati seorang pria berwibawa di hadapannya.
Untuk beberapa saat, netra keduanya saling bersitatap. Tak lama memang. Namun dengan cepat, Arita langsung menundukkan kepalanya, karena merasa segan ketika menatap mata orang asing secara terang-terangan seperti itu.
__ADS_1
"Ah, tidak masalah. Lupakan saja," kilah si wanita sembari menundukkan kepalanya. Lagipula, ia tak terlalu mempermasalahkan hal ini. Karena ia juga maklum, melihat keadaan jalan yang becek selepas hujan subuh tadi.
"Tidak-tidak, saya yang membuat bajumu kotor seperti ini. Biarkan saya bertanggung jawab," sanggah si pria yang kini turut menundukkan kepalanya. Namun, hanya gelengan kepala yang kembali ia dapatkan dari si wanita.
"Atau begini saja, saya akan memberikan uang sebagai gantinya. Nominal berapa yang kau inginkan?" tawar si pria yang akhirnya membuat Arita memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Tentu saja dengan pandangan yang mengarah pada jas si pria.
"Tidak perlu, Tuan. Saya tidak merasa dirugikan, karena ketidaksengajaan ini. Anda tak perlu khawatir," Arita berusaha sebisa mungkin untuk menolak tawaran pria tersebut. Ia memang tak merasa dirugikan. Hanya saja, sepertinya ia harus mandi dua kali untuk pagi ini.
"Jika begitu, terima saja uang-"
Belum sempat si pria mengeluarkan uang dari dompet hitamnya, Arita sudah lebih dulu memundurkan langkahnya. Dengan menatap sejenak mata kelam itu, sang wanita mengulas senyum tipis sembari menggelengkan kepalanya.
"Anggap saja tidak terjadi apapun, Tuan. Saya permisi," ucap si wanita dengan mantap. Setelah menundukkan sedikit kepalanya, ia kembali melanjutkan perjalanan dengan sedikit lebih cepat. Ia tak mau, pria itu menahannya di sana hingga waktu yang cukup lama.
Sedangkan pria yang mengenakan setelan jas formal itupun, menatap punggung si wanita dengan wajah yang sulit diartikan. Namun setelahnya, si pria tak sadar jika bibirnya mulai mengulas senyum kecil. Senyum yang sudah lama menghilang, dari bibirnya.
"Dia perempuan yang berbeda,"
__ADS_1