Bapak Untuk Baron

Bapak Untuk Baron
BAB 33


__ADS_3

"Hai Arita, saya benar-benar kemari."


Arita berdiri menegang dengan wajah terkejutnya, ketika melihat seorang pria bertubuh kekar berdiri tepat di hadapannya. Ketenangan yang semula ia rasakan, kini tergantikan oleh emosi yang mulai muncul di dadanya.


"Darimana kau tahu alamat rumahku?" tanya Arita saat itu juga tanpa basa-basi. sedangkan seseorang yang merupakan tamu tak diundang itupun, turut bergeming di tempatnya berdiri.


Hening, tak ada percakapan apapun untuk beberapa detik setelahnya. Mendapati hal itu, membuat si wanita memfokuskan pandangannya ke arah pekarangan rumah. Nampak sebuah mobil berwarna putih, selainnya hanya suasana sepi lantaran waktu maghrib.


"Apakah kau tidak berniat memintaku masuk?" sindir si pria yang sedikit merasa dingin lantaran hawa pedesaan tersebut. Maklum saja, ia belum terbiasa dengan keadaan itu.


"Maafkan aku, tapi silakan duduk diluar," jawabnya sembari menunjuk ke arah dua kursi yang tersedia di teras rumahnya. Untuk sejenak, Arita dapat melihat raut wajah terkejut dari pria itu.


Tak ada maksud lain dari Arita dengan tidak mempersilakan Gibran masuk ke dalam rumah. Hanya saja, ia tak ingin ada kesalahpahaman lantaran hal tersebut. Apalagi statusnya sebagai ibu tunggal, membuat Arita berpikir panjang.


Namun tak ayal, sebuah anggukan kepala dari sosok itu membuat Arita merasa lega. Setelah dipersilakan oleh tuan rumah, akhirnya pria yang tak lain adalah Gibran itupun mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang dimaksud.

__ADS_1


"Kau tidak sholat, Tuan?" tanya Arita dengan ragu.


"Ah maksudku, jika kau akan melakukannya silakan ke sana," lanjut si wanita yang membuat Gibran menatap sebuah bangunan yang ramai oleh warga sekitar untuk beribadah. Jaraknya yang tak begitu jauh dari rumah Arita, membuat Gibran terdiam sejenak.


"Aku non-muslim," jawabnya yang membuat raut wajah si wanita sedikit terkejut. Tak berlangsung lama, Arita berusaha menutupi kekagetannya itu dengan tawa canggung. Justru hal itulah yang membuat Gibran terkesima untuk beberapa saat.


"Saya tinggal sholat sebentar," pamitnya yang membuat Gibran menganggukkan kepalanya. Meski Arita memasuki rumah, namun wanita itu tetap membiarkan pintunya terbuka lebar karena Gibran masih berada di teras rumahnya.


Sepeninggalan wanita itu, si pria mengusap lengannya karena merasakan hawa yang begitu dingin.


"Sepertinya mengenakan kaos ini adalah kesalahan terbesarku," gumam pria itu dengan menggerutu atas pilihannya. Pantas aja kakaknya itu menawarkan sebuah sweater sebelum dirinya datang kemari. Dan dengan ngeyelnya, ia hanya menggunakan atasan berupa kaos dengan bahan yang lumayan tipis.


Tanpa sadar, Gibran mengulas senyum tipisnya saat melihat tangan mungil milik si bocah laki-laki itu yang turut bergerak saat dirinya sendiri tengah berbicara. Hal itu seketika mengingatkan Gibran pada masa kecilnya, yang sama persis dengan kebiasaan bocah laki-laki itu.


"Dia sangat mirip denganku saat melakukan hal itu," ucapnya dengan rasa penasaran yang semakin membuncah.

__ADS_1


Sebuah notifikasi yang masuk pada ponselnya, membuat Gibran membuka pesan tersebut. Untuk sejenak perhatiannya terfokus pada layar ponselnya yang menyala. Hingga tanpa sadar, beberapa menit ia habiskan untuk melakukan aktifitas tersebut.


"Loh, om ini siapa?" Gibran mengangkat pandangannya ke arah samping ketika mendengar suara khas anak kecil laki-laki. Kedua alisnya terangkat keheranan, lantaran melihat bocah yang ia perhatikan tadi, sudah berada di hadapannya.


"Hai boy, siapa namamu?" tanya si pria dengan wajah tampannya itu.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sosok asing itu, membuat Baron membelalakkan mata antusias. Masih dengan sarung abu-abunya, anak itu berusaha mendudukkan tubuh mungilnya di kursi sebelah Gibran.


"Eh ... sini om bantu," inisiatif si pria saat melihat bocah itu kesulitan untuk mendudukkan tubuhnya. Hal yang membuat Gibran merasa kagum, anak kecil itu langsung mengucapkan terima kasih setelah ia bantu.


"Nama aku Baron Mahameru, Om. Keren, kan?" sahutnya.


Untuk sejenak, Gibran tertawa geli mendengar sahutan dari anak itu. Setelah mengusap kecil kepala milik Baron, pria itu menghadapkan tubuhnya ke arah samping dan memandangi wajah mungil sosok menggemaskan itu.


"Keren, Baron seperti nama pantai. Sedangkan Mahameru, nama gunung favoritnya om," paparnya yang membuat si kecil menganggukkan kepalanya berulang kali. Melihat makhluk kecil yang sangat menggemaskan itu, membuat Gibran tak ingin menyia-nyiakan momen itu.

__ADS_1


Cup ...


"Ibu, ada yang mencium pipi Baron!"


__ADS_2